Dakwah Islam & Martabat Umat Oleh Dr Sakhira Zandi Ketua IKADI Sumut

0
32

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung (QS. Ali Imran: 104).

Dalam hubungan dakwah Islam dan martabat umat, hal yang perlu dilakukan konsepsi dasar reformulasi dakwah. Dakwah perlu untuk redefenisi. Kata dakwah yang berasal dari kata da’a – yad’u – da’wattan berarti: “Seruan – panggilan – ajakan – undangan”.

Proses dakwah yang terjadi harus aktif dan pro aktif bukan bersifat pasif. Dakwah secara etimologi berarti “Proses suatu penyeruan terhadap sesuatu jalan tertentu yang dengan jalan itu akan dapat menyelamat kan seseorang di dalam kehidupannya seraya mengantarkan dirinya ke alam kebahagian duniawi dan ukhrawi.

Sedangkan dakwah secara terminologi maknanya bervariasi di antara para ahli. Ada yang memaknai dakwah dengan berorientasi kepada nilai ritual yang tekanannya kepada ibadah ubudiyah  semata. Sedangkan yang lainnya ada yang memaknai dengan berbentuk aktual yang bersentuhan dengan realitas sosial.

Dalam kegiatan dakwah yang terjadi muncul dua versi yang berbeda. Pertama, adalah versi kegiatan dakwah dengan skema; Dakwah = Tabligh = Ceramah = Tausyiah. Dakwah versi ini merupakan usaha menyiarkan Islam agar dipeluk dan diamalkan oleh individu/masyarakat sehingga menjadikan mereka beriman kepada Allah SWT.

Kedua, adalah versi kegiatan dakwah dengan skema; Dakwah = Bil Haq = Mengubah Keadaan. Dakwah versi kedua ini merupakan suatu usaha agamawi dalam membangun umat atau suatu kaum dari suatu kondisi tertentu kepada suatu kondisi yang lebih baik dalam konteks yang seluas-luasnya dengan penuh perencanaan untuk mengimplementasikan ajaran-ajaran Islam secara konkrit dalam kehidupan sehari-hari dalam rangka mengangkat derajat, harkat dan martabat umat guna memperoleh “Dunia Hasanah“ dan “Akhirat Hasanah“.

Di sinilah koneksitas antara “dakwah dan martabat umat“. Makna da’i (penyeru; pengajak; pengundang) sangat perlu diperluas. Dai tidak hanya menguasai dan mahir di mimbar/panggung menyampaikan ayat-ayat Allah SWT dan hadis-hadis Rasulullah SAW tetapi da’i juga adalah seluruh Muslim dari berbagai profesi yang mau dan mampu merealisasikan ajaran Islam untuk kebahagiaan umat di Dunia dan di Akhirat.

Allah SWT berfirman: Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung (QS. Ali Imran: 104). Menurut Syaikh Ali Mahfuz dalam kitabnya Hidayatul Mursyidin hukumnya Wajib Kifayah (sebagian = littaba’idh), Wajib Ai’n (keseluruhan = lilbayan).

Dalam ayat yang lain Allah SWT berfirman: Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik

(QS. Ali Imran: 110).

Dalam kaitan ini menyosialisasikan Konsep Keimanan (i’tiqadi) yang mumpuni melalui sarana mimbar dan tulisan kepada umat. Selain itu juga dengan memperkuat sektor ijtima’i, tarbawi, i’tishodi, assiyasi, dan ad-dauli. Untuk mewujudkan tujuan dakwah ini dengan tahapan-tahapan dakwah yaitu Mihwar Dakwah; tanzhimi, sya’bi, muassasi, daulah. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam gambar di bawah ini:

 

 

 

 

 

 

Selanjutnya untuk tujuan dakwah ini hal-hal yang perlu dipersiapkan da’i/Ormas Islam adalah: Pertama, Mutamayyiz fii rijal (keistimewaan Sumber Daya Manusia); Kedua, Mutamayyiz fii adaa (keistimewaan penunaian tugas); Ketiga, Mutamayyiz fii intaj (keistimewaan sentuhan produk); Keempat, Muttamayyiz fii Khidmah (keistimewaan pelayanan); dan kelima, Muttamayyiz fii Mu’amalah (keistimewaan bermasyarakat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here