Peran Muslimah Dalam Dakwah Islam Dr Nur Aisah Simamora, Lc, MA. Dosen UIN SU

0
28

Media dakwah yang paling menonjol di tahun 2017 adalah gadget dengan media sosialnya, khususnya yang di tangan Muslimah. Kemenangan calon Muslim di Pilkada Jakarta membuktikan.

Poin-poin kewajiban berdakwah bagi setiap Muslim dan Muslimah meliputi; 1. ruang lingkup dakwah yang cakupannya luas, dan bentuknya beragam; 2. harus ada yang menangani bidang dakwah; lembaga maupun personal, laki-laki maupun perempuan; 3. kaum Muslim laki-laki dan perempuan harus ada yang secara khusus menekuni beberapa bidang dakwah;

Pertama, khusus membidangi dakwah kepada kebaikan (khair). Kedua, khusus mengurusi orang banyak (memiliki jabatan agar dapat mengeksekusi) segala hal yang ma’ruf (segala ucapan, tindakan, rencana, ide yang dpt membuat Allah SWT ridha. Ketiga, khusus mengondisikan rakyat agar terhindar dari munkar (segala ucapan, sikap, dan tindakan yang membuat Allah SWT murka).

Suatu hari, Asma binti Yazid al-Anshariyah menghadap Nabi SAW yang tengah berada di antara Sahabat, lalu berkata: “demi Allah yang menjadikan ayah dan ibuku teusanmu wahai Rasulullah, aku adalah perwakilan seluruh Muslimah. Tiada satupun di antara mereka saat ini, kecuali berpikiran yang sama dengan aku. Sungguh Allah telah mengutusmu kepada kaum laki-laki dan perempuan, lalu kami beriman dan mengikutimu. Kami kaum hawa terbatas aktivitasnya, menunggui rumah kalian para suami, mengandung anak-anak kalian. Sementara kalian kaum lelaki dilebihkan atas kami dengan shalat jamaah ke masjid, shalat Jumat, menjenguk si sakit, mengantar jenazah, haji berulang-ulang, jihad di jalan Allah. Pada saat kalian haji dan umrah, atau berjihad, kami yg menjaga harta kalian, menjahit baju kalian, mendidik anak-anak kalian. Mengapa kami tidak bisa menyertai kalian dalam sebuah kebaikan itu?

Rasul menoleh kepada para Sahabat dan berkata: tidakkah kalian mendengar ucapan perempuan yang bertanya tentang agamanya lebih baik daripada Asma? Tidak wahai Rasulullah. Beliau lalu bersabda: kembalilah wahai Asma dan beritahukan kaummu bahwa melayani suami kalian, melakukan apapun demi keridhaannya, menyertainya kemana pun ia pergi, pahalanya setara dengan yang dilakukan laki-laki (sesuai dengan tuntutan kalian). Asma pun kembali kepada kaum wanita sambil bertahlil dan bertakbir kegirangan (Kitab Ma’rifat ash-Shahabah: Vol 22/420).

Dalam konteks peran Muslimah dalam dakwah, maka Muslimah harus terdidik, tercerahkan, tertarbiyah jiwa dan raganya; Muslimah akan menjadi sekolah pertama bagi manusia; Muslimah menjadi penentu maju dan hancurnya bangsa. Peran dakwah Muslimah ini semakin besar karena separuh atau lebih masyarakat terdiri dari kaum Muslimah. Dengan jumlah yang besar kaum Muslimah juga memiliki pengaruh yang besar pula. Selain itu Muslimah adalah sosok yang lebih tahu dan mengerti keinginan dan bahasa kaumnya.

Fakta-fakta peran Muslimah dalam dakwah meliputi; Pertama, peran Muslimah dalam pembentukan karakter anak-anak di rumah. Peran Muslimah dalam pembentukan karakter anak-anak di rumah sangat penting. Karena fakta menunjukkan bahwa anak-anak lebih banyak bersama ibunya dibanding ayah, maka perkembangan anak sangat dipengaruhi oleh ibu. Perilaku anak, adab bicara dan pemikirannya sangat ditentukan bagaimana ibu membentuknya. Kalau ibu tidak mengerti pendidikan yang baik dan benar maka anak akan tumbuh dengan perilaku dan pikiran buruk.

Sebab itu, mulai dari mengajari cara bicara, berperilaku, mengontrol mainan, tontonan, teman bermain, semuanya lebih dominan diperankan oleh ibu. Dengan demikian maka sangat penting bagi aktivis dakwah Muslimah untuk serius memperhatikan dan mengelola para ibu.

Kedua, peran Muslimah dalam menunjang dan mendukung aktivitas dakwah suami. Tanpa dukungan yang baik dari para istri, dipastikan dakwah para suami tidak akan berhasil maksimal. Ketiga, dalam memberikan penjelasan keagamaan di kalangan kaum ibu yang muda-belia. Pengalaman penulis sendiri, ada jamaah ibu-ibu menyampaikan bahwa mereka dilarang para suami menghadirkan guru laki-laki, sebab mereka masih muda belia. Akhirnya dalam pengajian mereka, gurunya selalu wanita.

Penjelasan keagamaan tertentu, seperti persoalan kewanitaan, hanya dapat tersampaikan secara maksimal oleh guru yang wanita juga. Menjelaskan hubungan dalam kehidupan rumah tangga antara suami-istri, lebih tepat kalau yang menyampaikannya adalah guru wanita. Sebab bila yang menyampaikannya guru laki-laki maka para ibu akan berkata kalau sang guru tidak memahami psikologi dan posisi mereka sebagai istri.

Keempat, peran Muslimah dalam bidang politik. Fakta menunjukkan bahwa saat ini populasi kaum perempuan sudah lebih banyak disbanding kaum lelaki. Dengan fakta seperti di atas, maka dalam mengincar jabatan publik misalnya, dalam sistem pemilihan langsung, tentu pemenangnya adalah orang yang paling berhasil meraih simpati kaum perempuan. Aktivis dakwah dalam partai-partai politik banyak sekali dari kalangan kaum perempuan. Karena itu para aktivis dakwah Muslimah harus gencar meluruskan cara pandang politik kaum wanita.

Kelima, peran Muslimah dalam bidang ekonomi. Pegawai bank, penjaga toko, swalayan, super market, plaza dll, pada umumnya adalah perempuan. Pedagang sayur di pasar, pada umumnya perempuan. Bisnis online, pada umumnya digeluti kaum perempuan dan lain-lain.

Keenam, dalam dunia maya. Fenomena yang tampak saat ini, yang paling tahan bermain gadget adalah kaum perempuann. Aktivitas jual beli online di berbagai media sosial, hampir didominasi oleh kaum perempuan. Contoh, bisnis HPAI yang sekarang penulis ikuti, ternyata pemasarnya di Dunia maya 80 persen adalah perempuan. Kemungkinan bisnis lainnya juga demikian. Fakta di atas tentu dapat dimanfaatkan untuk penyebarluasan pemikiran, informasi dan promosi.

Ketujuh, peran Muslimah dalam meramaikan pengajian. Fakta yang tampak saat ini, yang paling rajin mengadakan pengajian adalah kaum wanita. Demikian juga menghadiri kegiatan-kegiatan sosial, seperti pesta, arisan dan lain sebagainya. Keadaan di atas akan menghasilkan sesuatu yang sangat positif apabila dikelola dengan baik oleh para aktivis dakwah Muslimah.

 

Refleksi Dakwah Tahun 2017

Media dakwah yang paling menonjol di tahun 2017 adalah gadget dengan media sosialnya, khususnya yang di tangan Muslimah. Kemenangan calon Muslim di Pilkada Jakarta membuktikan betapa gadget dan Dunia maya sangat besar memberikan kontribusi, sedangkan gadget lebih banyak beredar di tangah Muslimah.

Media dakwah kedua adalah pengajian-pengajian Muslimah, grup-grup komunitas pengajian dan berbagai grup lainnya, sangat berperan dalam meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang calon yang baik yang direkomendasikan oleh para ulama. Bahkan agar mereka siap jadi volunteer dakwah di kelasnya.

Jika kecenderungan masyarakat terhadap media sosial masih seperti tahun 2017 atau bahkan lebih, maka mau tidak mau, harus banyak upaya untuk memberikan edukasi politik dan tentang calon yang memperjuangkan umat yg telah di-design apik dan cantik. Sehingga Muslimah tdk perlu menjelaskan dengan kata-kata, hanya dengan like and share.

Fakta membuktikan bahwa sebenarnya banyak Muslimah yang tidak menyadari potensi dakwah di berbagai bidang yg telah dilakoninya. Oleh karena itu, salah satu tim besar dan hebat yang harus disediakan oleh para volunteer adalah tim untuk memberikan edukasi-edukasi kepada para Muslimah melalui media sosial. Kecenderungan Muslimah untuk bergadget harus diarahkan agar ia bernilai positif dan konstruktif.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here