TAFSIR ALQURAN APLIKATIF Aplikasi Takwa (1): Kejujuran (Surat Albaqarah: 188-189) Oleh Dr Faisar A. Arfa, MA

0
Faisar Ananda Arfa
Faisar Ananda Arfa

Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui. Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji; dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa. dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya; dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung (QS.Albaqarah: 188-189)

 Hasil positif dari ibadah puasa yang wajib diraih oleh orang yang berpuasa adalah takwa ditandai dengan hilangnya sikap tamak dari dalam diri seseorang. Ayat 188 ini mengisyaratkan bahwa larangan Alquran untuk tidak memakan harta orang lain apalagi dengan mengajukan perkaranya ke persidangan akan sangat efektif bila seseorang melakukan ibadah puasa dengan sempurna.

Dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Muslim disebutkan, dari Ummu Salamah Rasulullah SAW bersabda: Ketahuilah, aku hanyalah manusia biasa, dan datang kepadaku orang-orang yang bersengketa. Boleh jadi sebagian dari kalian lebih pintar berdalih dari pada sebagian lainnya sehingga aku memberi keputusan yang menguntungkannya. Karena itu, barangsiapa yang aku putuskan mendapat hak orang Muslim yang lain, maka sebenarnya itu tidak lain hanyalah sepotong api Neraka. Maka terserah ia, mau membawanya atau meninggalkannya.

Terlihat dengan jelas bahwa ayat dan hadis di atas menunjukkan bahwa keputusan hakim itu sesungguhnya tidak dapat mengubah sedikitpun hakikat hukum, tidak membuat sesuatu yang  haram berubah menjadi halal. Namun sang hakim terikat pada apa yang tampak secara lahiriah. Jika sesuai, maka itulah yang dikehendaki, dan jika tidak maka hakim tetap memperoleh pahala dan bagi yang melakukan tipu muslihat memperoleh dosa.

Puasa itu merupakan cara pelatihan diri yang sangat luar biasa yang memungkinkan pelakunya menempa diri mereka agar tidak dikendalikan oleh hawa nafsu. Hawa nafsu itu terutama muncul dari perut yang minta dipenuhi oleh makanan dan minuman yang nikmat dan lezat. Orang yang berpuasa mampu mengendalikan perut mereka dari desakan rasa lapar dan haus meskipun mereka memiliki kemampuan untuk memenuhinya namun perintah Allah agar mereka menahan nafsu mereka selama berpuasa mampu menghentikan semua keinginan tersebut.

Kalau dengan berpuasa manusia telah mampu mendidik diri mereka untuk tidak memakan harta milik mereka sendiri yang berasal dari keringat hasil usaha mereka sendiri maka sejatinya mereka tidak akan mau memakan harta orang lain. Itu sebab kenapa ayat tentang larangan memakan harta orang lain ditempatkan Allah langsung setelah bicara tentang rangkaian puasa Ramadhan.

Karenanya agak terasa aneh bila pada masyarakat Muslim yang terbiasa berpuasa setiap tahun selama 1 bulan penuh dibarengi pula dengan kebiasaan korupsi, menipu, memeras dan pungutan liar yang para pelakunya nota bene adalah orang yang juga berpuasa merayakan idil fithri dan idul adha. Sejatinya puasa Ramadhan tersebut mampu meminimalisir perilaku yang menyimpan terutama urusan peradilan.

Penyebutan hakim pada ayat ini mengillustrasikan bahwa kebobrokan itu berasal dari gedung peradilan yang di dalamnya terdapat orang yang berperkara, hakim, jaksa dan pengacara. Alquran menggambarkan seorang hakim yang didatangi oleh pihak yang berperkara hanya untuk mencari kemenangan bukan mencari keadilan. Sebab ada saja orang yang karena ketamakannya ingin menguasai yang bukan haknya tetap saja tanpa rasa malu memaksa hakim untuk memenangkan gugatannya. Orang yang berpuasa tidak akan mungkin melakukan hal tersebut,

Setelah itu ayat ini dilanjutkan dengan sebuah pelajaran penting bahwa ketakwaan itu hanya bisa diperoleh dengan mematuhi semua perintah yang Allah berikan. Definisi kebajikan itu (albirr) adalah definisi yang diberikan Allah bukan definisi yang diberikan manusia. Hal ini dikaitkan Allah dengan jawaban terhadap pertanyaaan tentang bulan sabit, Al-Aufi meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa orang-orang bertanya kepada Rasulullah SAW tentang bulan sabit. Maka turunlah ayat berikut, yakni firman-Nya: Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah, “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia

Abu Ja’far meriwayatkan dari Ar-Rabi’, dari Abul Aliyah, telah sampai sebuah hadis kepada kami bahwa mereka pernah bertanya, “Wahai Rasulullah, mengapa Allah menciptakan hilal (bulan sabit)?” Maka Allah menurunkan firman-Nya: Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia. Maksudnya, Allah menjadikan bulan sabit sebagai tanda-tanda waktu puasa kaum muslim dan waktu berbuka mereka, bilangan iddah istri-istri, dan tanda waktu agama (ibadah haji) mereka.

Uniknya ayat ini dikaitkan dengan persoalan cara masuk rumah. Dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa. Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya. Imam Bukhari mengatakan bahwa pada mulanya di zaman jahiliyah apabila mereka telah melakukan ihram, mereka memasuki rumahnya dari arah belakangnya. Maka Allah SWT menurunkan firman-Nya: Dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa.

Allah menafikan definisi kebajikan yang sudah lama ditradisikan oleh orang-orang Quraisy jauh sebelum memeluk Islam yakni selepas ihram mereka tidak mau masuk ke rumah melalui pintu depan tetapi sebagai gantinya mereka masuk melalui pintu belakang. Alasan perbuatan tersebut karena kebiasaan atau tradisi yang mengatakan masuk dari pintu belakang itu merupakan kebajikan dan masuk dari pintu depan diangggap kesialan.

Karena itu Allah melarang mereka meneruskan tradisi tersebut karena sejatinya orang masuk ke rumah dari pintu depan bukan pintu belakang apalagi memberikan lebel bahwa itu perbuatan yang baik. Sebagai gantinya Allah menyuruh mereka masuk dari pintu depan dan menyebut hal tersebut sebagai simbol ketakwaan. Jadi ketakwaan itu hanya bisa diperoleh dengan mematuhi perintah Allah dan menjauhi larangan Allah dengan definisi dari Allah SWT dan Rasul SAW.

Karena itu kerjakanlah apa yang telah diperintahkan oleh Allah kepada kalian dan tinggalkanlah oleh kalian apa yang telah diharamkan Allah bagi kalian agar kalian beruntung.  Yaitu kelak di hari kemudian. Bila kalian dihadirkan di hadapan Allah, maka kelak Dia akan memberi kalian pahala dan balasannya dengan lengkap dan sempurna.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here