Kebutuhan Memilih Pemimpin Terbaik Oleh Dr Nispul Khoiri, MA

0

Selain rekam jejak, perhatian pemilih terhadap program kerja ditawarkan para kontestan, juga menjadi indikator penting menakar kualitas Cagub/Cawagub

Sesuai tahapan Pemilihan Kepala Daerah Sumatera Utara, Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah menerima pendaftaran tiga pasangan calon (Paslon) Gubernur/Wakil Gubernur, terdiri dari : (1). Edi Rahmayadi-Musa Rajeckshah (Gerinda, PAN, PKS, Golkar dan Hanura). (2). JR. Saragih-Ance Selian (Demokrat, PKB dan PKPI. (3). Djarot Syaiful Hidayat–Sihar Pangihutan Hamonangan Sitorus (PDIP dan PPP). Para kandidat  yang diusung oleh Partai politik (Parpol), merupakan tokoh-tokoh terbaik dengan kualitas tidak diragukan berdasarkan pengalaman profesi dan latar belakang berbeda untuk bertarung menuju Sumut satu.

Bicara tentang pemimpin terbaik atau kualitas calon Gubernur dan wakil gubernur (Cagub/Cawagub) merupakan persoalan prinsipil. Kualitas pemimpin menjadi dasar penilaian guna menakar kapabilitas Paslon layak atau tidak memimpin daerah ini. Kualitas pemimpin merupakan simbolitas performance daerah berimplikasi kepada kemajuan daerah.

Kualitas pemimpin juga menjadi bagian tidak terpisahkan dari sistem demokrasi. Karena itu, memilih pemimpin berkualitas harus menjadi komitmen bersama dan Sumut harus dipimpin oleh tokoh-tokoh terbaik pilihann rakyatnya, terlebih 14 juta jiwa rakyat Sumut akan menggantung harapan kepada pemimpin ke depan.

Persoalannya bagaimana menakar pemimpin itu terbaik/berkualitas atau tidak. Karena ini menyangkut person/privacy seseorang sulit dilakukan. Biasanya teori digunakan bersentuhan dengan riset/survey dengan beragam indikator/pendekatan, meskipun hasilnya kadang- kadang melenceng dari tingkat akurasi.

Namun karena ini dipandang sebagai kebutuhan, maka penilaian terhadap pemimpin terbaik menjadi penting sebagai indikator menakar apakah Paslon bersangkutan terbaik atau tidak memimpin Sumut.

Berbagai teori/pendapat banyak menguraikan indikator pemimpin terbaik, diadopsi dari pendapat hukum, etika, kearifan lokal bahkan agama, kemudian dirumuskan menjadi prinsip dasar memilih pemimpin. Dalam teori politik Islam (fikih syiyasiy) misalnya, pemimpin (Umara/Ulil Amri) merupakan amanah untuk mengurus kepentingan rakyat. Pemimpin juga disebut “Khadimul ummah” pelayan umat bukan pemimpin untuk dilayani.

Hakikat seorang pemimpin tidak saja sekedar kontrak politik dengan konstituennya, tetapi juga terdapat  ikatan perjanjian dengan Tuhan bahwa pimpinan yang dipegangnya merupakan amanah Tuhan, karena dia telah dipilih oleh Tuhan dan dipandang cakap menjalankan amanah. Tugas pokok dan fungsinya dipandang sebagai tugas mulia di hadapan rakyat juga di mata Tuhannya.

Prinsip dasar yang telah diletakkan agama, kemudian menjadi rumusan persyaratan harus melekat pada calon pemimpin: (1). Memiliki kejujuran (2). Amanah (3). Kecerdasan dalam berpikir, bersikap dan bertindak sehingga program kerja benar-benar terukur (4). Memiliki akuntabilitas dan transparansi dalam menjalankan roda kepemimpinannya.  Prinsip-prinsip inipun diperkaya oleh pakar seperti mengutip teori al-Mawardi (al-Ahkam ash Sulthaniyah) menegaskan pemimpin berkualitas memiliki syarat-syarat : (1). Bersikap adil (2) Memiliki ilmu pengetahuan (3). Sehat jasmani yang tidak menghalangi melakukan tugas (4). Normal/tidak cacat. (5). Bijaksana  dalam menjalankan roda pemerintahan (6). Keberanian melindungi wilayah dari konflik atau kelompok tertentu yang menciptakan disharmonisasi daerah.

Semua indikator di atas,  tidak sekedar teori berpolitik semata atau dibincangkan dalam kajian-kajian politik, tetapi jika prinsip-prinsip tersebut diterapkan akan menjadi prinsip dasar memberikan arah  pembangunan Sumut lebih baik lagi dari sebelumnya. Karena prinsip-prinsip tersebut diadopsi dari semangat agama yang suci berorientasi kepada kemaslahatan umat.

Artinya prinsip tersebut tidak hanya muncul dengan sendirinya, tetapi menjadi bagian pesan-pesan keagamaan yang disepakti semua agama, sepakat menyatakan pemimpin terbaik (berkualitas) menjadi syarat mutlak untuk memimpin. Oleh karenanya memilih pemimpin terbaik menjadi kebutuhan guna memperkuat kemaslahatan masyarakat dan daerah.

Sebaliknya mengusung pemimpin tidak berkualitas, justru membuka ruang terciptanya berbagai persoalan yang dapat menghambat kemajuan daerah. Kekhawatiran ini mengingatkan kita kepada sebuah hadis  Nabi (Jika amanat telah disia-siakan tunggu saja kehancuran terjadi.” Ada sahabat bertanya, bagaimana maksud amanat disia-siakan? Nabi menjawab “Jika urusan diserahkan kepada bukan ahlinya maka tunggulah kehancuran itu” HR. Bukhari). Artinya realitas ini menjadi kemungkinan bisa terjadi, dimana masyarakat membuat kesalahan besar dengan memilih pemimpin dimana kualitasnya masih dipertanyakan.

Kualitas para kandidat yang ada saat ini cukup diakui dan tidak diragukan lagi oleh masyarakat Sumut. Semua Paslon merupakan pemimpin hebat. Bukti kehebatan mereka telah teruji dari tahapan kompetisi yang mereka ikuti, hingga terpilih sebagai Paslon diusung oleh Parpol yang sejak semula memiliki mekanisme penjaringan ketat dan rahasia. Sampainya mereka pada tahap kontestan merupakan prestasi dan reputasi luar biasa harus diakui oleh publik, jika dibandingkan kandidat lain semula berada pada posisi aman, justru kenyataannya gagal menjadi kontestan.

Dengan kata lain dalam konteks kualitas, terdapat hubungan bahwa kualitas kandidat cukup mempengaruhi mengantarkan mereka sebagai kontestan Pilgubsu. Disamping berbagai pengalaman (Birokrat, pengusaha, politisi, militer dan lainnya) menjadi modal dasar memperkuat kualitas  eksistensi.

Ketika mereka dihadapkan kepada masyarakat pemilih, maka kualitas kepemimpinan mereka akan ditantang dan diuji, paling tidak para kontestan dihadapkan kepada tipologi : (1). Terdapat masyarakat pemilih yang sejak dini sudah menentukan pilihannya berdasarkan pengetahuan terhadap ketokohan dan populeritas para kontestan. (2). Adanya masyarakat pemilih telah memahami secara benar program kerja ditawarkan kontestan. (3).Terdapatnya masyarakat pemilih melihat kontestan beradasarkan hubungan kolegial (Kekerabatan, suku dan ras). (4). Adanya kelompok masyarakat pemilih menetukan pilihan berdasarkan agama, sehingga agama mutlak dijadikan dasar  tidak terbantahkan. (5). Adanya kelompok masyarakat pemilih mengambang karena ketidaktahuannya siapa yang akan dipilih sehingga kategori ini selalu ikut-ikutan karena tidak mempunyai dasar pikiran untuk memilih.

Berhadapan dengan tipologi pemilih di atas, tidaklah sulit dibayangkan oleh para kandidat, jika pendekatan dan perhatian kepada masyarakat pemilih berbasis tampilan kualitas/prestasi. Begitu pula masyarakat pemilih memiliki kekuatan menentukan satu Paslon terbaik. Maka rekam jejak (track record) menjadi solusi penting menggiring pilihan kandidat  terbaik/berkualitas. Rekam jejak menjadi acuan sebagai sebuah catatan berisi kumpulan dari capaian nyata (real performance) yang menggambarkan prestasi seseorang sebelumnya.

Dengan mengetahui jejak baik sebelumnya, akan menjadi point strategis menentukan Cagub/Cawagub ke depan. Melakukan rekam jejak tidak sulit dilakukan, selama Informasi – informasi positif didapatkan (bukan black campaign) atau bantuan teknologi dan informasi ditemukan (bukan hoaxs), semuanya cukup membantu memperkuat penilaian kualitas Cagub/Cawagub.

Selain rekam jejak, perhatian pemilih terhadap program kerja ditawarkan para kontestan, juga menjadi indikator penting menakar kualitas Cagub/Cawagub. Karena program kerja merupakan acuan sekaligus bentuk keseriusan para kontestan membangun Sumut ke depan.

Baik rekam jejak maupu telaah program kerja kontestan sesungguhnya memberikan peran luas kepada masyarakat pemilih guna menggunakan kekuatan untuk menentukan pemimpin daerah. Di sinilah masyarakat memiliki/melakukan filterisasi memilih pemimpin terbaik, karena rakyat mempunyai kekuatan hak pilih untuk itu, sedangkan para kandidat tersebut dipilih dan diusung oleh rakyatnya. Sejatinya kecerdasan masyarakat menjadi penilai untuk menggunakan hak pilih, karena di genggamannyalah lahir pemimpin terbaik bagi daerah ini. Semoga!

Penulis adalah Dosen Pascasarjana UIN SU.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here