Guru & Kids Zaman Now Oleh Hendra Kurniawan

0
169

Pada akhirnya untuk menjadi guru zaman now yang professional dan paham akan indikator-indikator standar kompetensi tanpa harus memutuskan hubungan dengan teknologi

Banyak artikel yang terus menyudutkan profesi guru, hal ini tidak terlepas dari fenomena Kids Zaman Now menjadi ulasan utama dalam tulisan ini. Masyarakat saat ini menilai guru tidak mampu menguasai siswa, tidak mahir memanfaatkan fasilitas sekolah, tidak dapat menggunakan media dan segala macam alasan untuk menyudutkan guru sekarang. Guru dianggap gagal dengan bermunculannya berbagai kenakalan remaja di masyarakat. Mereka menganggap guru-guru zaman dahulu lebih kreatif, lebih pandai dari guru-guru sekarang dengan segala fasilitas yang ada.

Mindset tersebut tentu perlu diluruskan. Jangan sampai profesi guru dipandang sebelah mata. Apalagi guru dijadikam sasaran atas ketidaksuksesan output pendidikannya. Perlu diingat bahwa Tri Pusat Pendidikan terdiri atas keluarga, sekolah dan masyarakat? Lantas mengapa hanya sekolah yang harus bertanggubjawab?

Menyoal perkara Tri Pusat Pendidikan sering sekali disampaikan kepada orangtua saat mengantarkan anaknya di hari pertama sekolah. Hal ini juga harus menjadi PR (pekerjaan rumah) bagi pimpinan sekolah/madrasah untuk menegasakan kembali bahwa pendidikan formal itu bukan hanya sekolah yang bertanggung jawab. Melainkan orangtua, masyarakat, dan keluarga mereka juga ikut mengontrol, mengawasi dan membina setiap perkembangan siswa.

Tumbuhkembangnya generasi milenial yang telanjur kecanduan perangkat digital di tangan mereka tidak bisa disalahkan secara masal. Men-judge mereka salah itu sama halnya dengan menghentikan secara perlahan kemajuan teknologi itu sendiri. Seorang penulis dan pemerhati pendidikan asal Amerika Serikat, Marc Prensky pernah mengatakan bahwafor our twenty-first century kids, technology is their birthright. Lebih berbahaya lagi teknologi seakan menjanjikan bahwa ia dapat membuat anak-anak kita lebih cerdas.

Pada tahun 1996, Presiden Amerika Bill Clinton menyatakan dalam pidato kenegaraannya, bahwa “internet untuk setiap kelas” sebagai tujuan mulia (John Naisbitt: 2002). Jika ini terjadi dan merata di Indonesia, tantangan sebagai guru akan lebih ekstrem lagi. Hal ini menjelaskan secara tidak langsung bahwa keterikatan generasi masa kini (milenial) dengan teknologi merupakan sebuah hal yang tidak bisa dihindari, yang harus diperhatikan adalah bagaimana teknologi dalam bentuk internet, game online, serta media sosial dapat digunakan untuk salah satu fasilitas belajar serta menciptakan ruang yang lebih positif dan berguna bagi kids zaman now.

 

Guru Melek Teknologi

Guru zaman now harus melek teknologi, bukan hanya membatasi dan melarang siswa untuk menjauhi internet melainkan bisa memanfaatkan situasi dan kondisi ini untuk mengarahkan siswa agar lebih kreatif dalam memanfaatkan teknologi guna melengkapai proses pembelajaran. Guru yang kreatif pasti akan membuka ruang bagi anak didiknya secara serius dalam memanfaatkan internet. Walau hanya sekedar menjadikan rujukan sekunder selain daripada buku paket pelajaran yang dibeli atau disediakan sekolah.

Tantangannya adalah tidak semua guru (mau) melek teknologi dan tidak semua guru juga berusaha untuk belajar mengimbangi kondisi tersebut. Bisa dikatakan bahwa guru yang demikian acuh tak acuh dengan perkembangan anak didiknya bahkan jauh dari predikat guru zaman now, sangatlah jauh.

Berdasarkan riset di luar negeri, kasus penggunaan komputer sebagai media pembelajaran membantu orang-orang tertarik pada materi yang disampaikan. Namun hal itu hanya sebatas untuk meyakinkan saja. Sebagai guru zaman now, sudah sepantasnya berperan sebagai penggerak guru-guru lain yang lahir di awal abad ke-21 untuk lebih kreatif dalam memanfaatkan teknologi informasi khususnya internet. Sebagai fasilitator pembelajaran, guru-guru lain juga harus mendapatkan pemerataan transfer ilmu soal pemanfaatan teknologi internet sebagai media belajar. Semua ini dapat dilakukan dengan konsekuensi pemikiran dan tegas perilaku antar kepala madrasah, guru, dan seluruh siswa terkait.

Sebagai guru yang profesional, harus mewanti-wanti adanya isu yang mengatakan bahwa teknologi sewaktu-waktu bisa menggantikan peran guru sebagai fasilitator belajar. Namun, kian hari semakin membuktikan bahwa isu tersebut bukan hanya sekedar fiktif belaka, karena setiap kali ingin menjawab atau menyelesaikan soal, semuanya merujuk ke “mbah google” seakan guru dinomorduakan sebagai tempat bertanya soal pelajaran.

Beberapa kali mendengar bahwa belakangan ini buku pelajaran di sekolah telah didigitalisasi. Bahkan situasi seperti ini telah mendapat label “pendidikan cerdas”(Yee-Jin Shin: 2013), jelas ada upaya keras untuk menggantikan buku pelajaran sekolah ke dalam perangkat digital. Maka bersiaplah sebagai orangtua, lingkungan pendidikan anak-anak pun akan berakhir. Digitalisasi buku pelajaran tidak terlalu menjadi persoalan, yang menjadi tugas tambahan adalah guru, orangtua dan masyarakat harus menyediakan lingkungan interaksi anak yang mampu menggantikan suasana sebelum ada nya buku digital. Bahkan perpustakaan nasional (Perpusnas), sudah mendigitalisasi buku yang telah dimulai pada Agustus 2017.

Sebagai guru yang notabenenya patut digugu dan ditiru harus masuk dalam konteks zaman now yang harus hijrah dari ideologi guru zaman old menuju generasi guru zaman now. Refleksi untuk melihat fenomena kids zaman now yang candu dengan teknologi harus spesifik diawasi, walau hal ini merupakan refleksi dari perkembangan zaman.

Sebagai bahan pertimbangan, setiap guru harus cerdas dan kreatif dalam memanfaatkan era teknologi digital. Sembari menepis pernyataan hegemoni guru yang “gitu-gitu aja”, tidak mau berkembang dan lain-lain. Karena profesi guru bukan saja ada tanggung jawab profesi saja, namun juga ada tanggung jawab moral, sosial dan peradaban.

 

Penutup

Sebagai guru zaman now, harus memiliki mental yang kuat secara pribadi, serta sadar bahwa menjadi guru yang baik memang tidak mudah, menjadi guru yang kreatif dan dianggap mahir itu juga perlu perjuangan keras. Ditambah dengan segala keterbatasan yang ada, tuntutan orangtua dan masyarakat yang berlebihan seakan tuli akan tujuan dan makna dari tri pusat pendidikan. Maka sudah sepatutnya seorang guru mesti mempunyai komitmen yang kuat dalam menjalankan profesinya.

Setiap struktur organisasi sekolah harus memikirkan tentang upaya meningkatkan kompetensi profesionalitas guru. Hal ini merupkan langkah penting yang perlu direalisasikan. Pada akhirnya untuk menjadi guru zaman now yang professional dan paham akan indikator-indikator standar kompetensi tanpa harus memutuskan hubungan dengan teknologi. Perlu ditegaskan kembali untuk mempertimbangkan banyak aspek, yang perlu digarisbawahi adalah peran masyarakat dan orangtua harus sejalan dengan transfer ilmu yang diberikan guru di sekolah. Mereka juga harus ikut mengawasi dan menuntun anak-anak dari hal-hal negatif termasuk di dalamnya pengaruh internet terhadap dirinya.

 

Penulis adalah Alumni Pascasarjana UIN SU, Penggagas gurumenulis.com.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here