Mencegah Generasi Pendek Oleh Albiner Siagian

0
29

Silakan berpolitik dan berdemokrasi! Tetapi kita harus ingat bahwa demokrasi bukanlah tujuan. Demokrasi hanyalah jalan untuk menggapai tujuan: masyarakat yang sejahtera, yang terpenuhi kebutuhan dasarnya, dan yang terbangun harkat dan martabatnya

Tanggal 25 Januari, setiap tahun, Indonesia memperingati Hari Gizi Nasional (HGN). Peringatan HGN tahun 2018 memilih tema “Bersama Membangun Gizi Menuju Bangsa Sehat Berprestasi”. Tema ini masih sama dengan tema peringatan HGN tahun lalu. Subtemanya adalah “Mewujudkan Kemandirian Keluarga dalam 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) untuk Pencegahan Stunting“.

Selain tema dan subtema, peringatan HGN tahun ini menetapkan slogan “Bersama Keluarga Kita Jaga 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK)”. Pemilihan tema, subtema, dan slogan ini sangat relevan dengan permasalahan gizi yang sedang kita hadapi saat ini. Fakta menunjukkan bahwa persoalan gizi tidak bisa ditangani sektoral (sektor kesehatan) saja. Itu harus melibatkan sektor lain (lintas sektor). Karena itu dibutuhkan kerjasama pemangku kepentingan terkait perbaikan gizi.

Selain itu, fakta ilmiah juga telah secara meyakinkan membuktikan bahwa penanganan gizi; terutama pada bayi, Balita (bawah lima tahun), dan anak, anak; amat tepat dilakukan pada masa awal kehidupan. Itulah dikenal sebagai 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) dalam subtema dan slogan itu. Seribu HPK adalah rentang waktu sejak seorang ibu positif hamil hingga anaknya berusia 2 tahun. Masalah inilah yang dilenal jendela peluang (window of opportunity) untuk perbaikan gizi. Dengan program 1000 HPK, diharapkan permasalahan kekurangan gizi pada bayi, Balita, anak-anak, dan ibu hamil, yang saat ini masih tinggi, dapat diturunkan.

Sebagai gambaran, berdasarkan hasil Pemantauan Satus Gizi tahun 2015, prevalensi Balita penderita kurang gizi adalah 18,8 persen (indikator berat badan menurut umur, BB/U). Angka ini menurun sedikit dari 20,1 persen (Riskesdas 2013). Akan tetapi, prevalensi Balita penderita kurang gizi itu hampir sama dengan prevalensi kurang gizi pada Balita pada tahun 2010 (19,2 persen) dan pada tahun 2007 (17,2 persen). Ini bermakna bahwa dalam kurun waktu hampir 10 tahun tidak ada perbaikan gizi Balita yang berarti. Selanjutnya, dari 18,8 persen Balita penderita kurang gizi tersebut, 3,9 persen adalah kategori gizi buruk dan sisanya (14,9 persen) adalah kategori gizi kurang. Dengan demikian, saat ini empat dari seratus Balita mengalami kekurangan gizi yang parah.

Bila dilihat dari indikator tinggi badan menurut umur (TB/U), angkanya lebih mengenaskan. Dengan menggunakan indikator ini, prevalensi Balita pendek dan sangat pendek (stunting), masing-masing, adalah 18,9 persen dan 10,1 persen. Kalau kedua kategori ini digabungkan, ini berarti ada sebanyak 29 persen Balita tidak dapat mencapai tinggi badan potensialnya karena kekurangan gizi.

Prevalensi anak sekolah yang tubuhnya pendek lebih mengenaskan lagi. Diperkirakan prevalensi anak sekolah pendek sebesar 35 persen. Angka ini mengungkapkan terjadi pertambahan penderita tubuh pendek kira-kira 6,0 persen setelah anak memasuki usia sekolah. Fakta ini juga mengungkapkan kegagalan perbaikan gizi pada masa Balita berlanjut pada masa usia sekolah.

Stunting menggambarkan kekurangan gizi yang sudah berlangsung lama (kronik), bahkan sejak anak dikandung ibunya. Keadaan ini diawali ketika ibu hamil menderita kurang gizi dan kemudian keadaan kurang gizi dialami oleh Balita dan bahkan hingga mereka memasuki usia sekolah.

Persoalan stunting bukan sekedar ukuran tubuh yang pendek. Lebih daripada itu, stunting juga menggambarkan gangguan perkembangan otak. Kekurangan gizi yang sudah berlangsung lama berdampak pada terhambatnya perkembangan otak. UNICEF memerkirakan bahwa anak yang menderita stunting memiliki IQ rata-rata 11 poin lebih rendah daripada IQ anak yang tubuhnya normal.Fakta ilmiah juga mengungkapkan bahwa Balita yang mengalami gizi buruk lebih berisiko menderita penyakit degeneratif saat mereka dewasa kelak. Atas dasar ini UNICEF menyatakan stunting sebagai krisis global.

 

Pencegahan Dini

Penelitan Schrimton dan kawan-kawan (2001) di Amerika Latin, Karibia, Afrika, dan Asia mengungkapkan bahwa pola pertumbuhan anak yang menderita kurang gizi adalah sama. Hambatan pertumbuhan akibat kekurangan gizi akan sangat nyata pada tahun pertama kehidupan. Tentu saja, keadaan ini adalah lanjutan dari kekurangan gizi pada masa janin. Inilah yang disebut jendela peluang (window of opportunity) untuk perbaikan gizi. Artinya, kalau ingin memperbaiki gizi anak, kita lakukanlah pada pada masa kehamilan ibu hingga anak yang dilahirkannya berusia satu tahun. Upaya perbaikan gizi setelah itu amatlah terlambat.

Atas dasar itu, pada tahun 2010 Sekjend PBB menginisiasi Scaling-up Nutrition (SUN) Movement, sebagai dorongan global untuk memperbaiki gizi, terutama pada anak-anak dan wanita. Fokusnya adalah penurunan angka stunting. Indonesia menindaklanjuti gerakan itu dengan mengeluarkanPeraturan Pemerintah No 42 tahun 2013 tentang Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi, yang dikenal sebagai“Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi dalam Rangka Seribu Hari Pertama Kehidupan” (Gerakan 1000 HPK)”. Akan tetapi, setelah tiga tahun berjalan, gerakan ini seolah-olah kehabisan nafas di tengah riuhnya persoalan bangsa ini.

Gerakan 1000 HPK adalah upaya perbaikan gizi pada masa seribu hari kehidupan terhitung sejak masa kehamilan hingga anak berumur dua tahun. Oleh karena itu, sesuai dengan SUN Movement dan temuan Schrimton dan kawan-kawan, fokusnya adalah pada ibu hamil dan baduta (bawah dua tahun).

 

Bukan Hanya Persoalan Kesehatan

Tahun 2006 Bank Dunia mengeluarkan pedoman bagi pembangunan bangsa-bangsa dengan menerbitkan buku berjudul Repositioning Nutrition as Centralto Development (A Strategy for Large-Scale Action). Melalui buku itu Bank Dunia mengingatkan kepada setiap bangsa agar menempatkan gizi sebagai fondasi pembangunan bangsa. Inilah yang dikenal sebagai pembangunan berarusutama gizi. Artinya, setiap upaya pembangunan harus mempertimbangkan dampaknya pada perbaikan gizi.

Karena itu, saya mengingatkan perlunya revolusi komitmen perbaikan gizi. Semua penyelenggara negara harus memiliki sense of crisis yang sama bahwa persoalan kurang gizi adalah persoalan yang amat serius dan memerlukan penanganan bersama. Untuk itu, negara harus menempatkan gizi sebagai prioritas pembangunan.

Akhir kata, silakan berpolitik dan berdemokrasi! Tetapi, kita harus ingat bahwa demokrasi bukanlah tujuan. Demokrasi hanyalah jalan untuk menggapai tujuan: masyarakat yang sejahtera, yang terpenuhi kebutuhan dasarnya, dan yang terbangun harkat dan martabatnya. Khusus untuk kebutuhan dasar yang layak, seperti makanan dan gizi, itu tak harus menunggu negara makmur atau perekonomian tumbuh pesat. Kalau harus, siap-siaplah kita membesarkan generasi yang pendek. Bukan hanya tubuhnya pendek, tetapi otaknya juga cetek.

 

Penulis adalah Guru Besar Ilmu Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat USU.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here