Tanggung Jawab Sejarah Oleh Hendri Dalimunthe

0
63

Jika menginginkan sejarah tetap hidup di dalam catatan yang diwariskan maka selaku generasi hari ini, agar tidak mengulangi kesalahan generasi sebelumnya atau tidak menciptakan laku sejarah buruk

Negara ini punya banyak sejarah yang telah dilakoni kehidupan bangsanya sendiri maupun bangsa luar hingga menjadi warisan kepada kita. Ada yang berubah sesuai konteks ruang lingkup zaman dan ada juga masih tampak hingga kini. Sejarah, begitu mendengar dan membaca mozaik hierarki kehidupannya kita akan dan selalu disuguhkan kisah lama. Acapkali kita mengetahuinya melalui oral tradisi lisan yang turun temurun. Padahal seorang penutur bisa saja mengubah dari apa yang telah didengarnya dan bisa jadi ia mereduksi atau bahkan menambah isi cerita. Secara sengaja maupun tidak, itu bisa terjadi.

Mendengar dan membaca sebagai konsumsi informasi di bidang kesejarahan adalah entitas produksi pengetahuan berbeda. Kendati selalu dianggap sama hingga menimbulkan debat persepsi antara sumber lisan dan sumber tulisan; ketika suatu peristiwa yang dilalui hanya sebagai tema di dalam memori ingatan dan suatu kajian tema ke dalam penulisan sejarah. Berdasarkan itu peristiwa sejarah yang tidak tertulis lebih mengandalkan menurut atau sepanjang ingatan penutur. Tanpa sengaja, akan mengakibatkan pembelokan fakta.

Bukan hal teranyar berbagai kekaburan fakta di dunia kesejarahan yang di antaranya disebabkan oleh para pelaku atau aktor peristiwa—seharusnya menyelesaikan tanggung jawab sejarah mala menyisakan beban sejarah. Seperti peralihan Orde Lama ke Orde Baru yang menyisakan tanya besar bagaimana proses dua rezim ini beralih. Atau, peristiwa G 30 September 1965, Keberadaan aktivis Reformasi 1998, dan tumpukan sejarah lainnya.

Jangan sampai sebagai bangsa dengan tumpukan sejarah—ibarat kersik di pantai daun di rimba—diteliti, dianalisis, dan ditulis oleh penulis bangsa luar. Karena ada kepentingan politik beserta segala ideologinya yang akan ditanam di dalamnya. Agar generasi mendatang tidak mengenali jati dirinya bahwa mereka adalah penerus dari generasi sebelumnya.

Sejarah akan mencatat apa pun peristiwa kehidupan manusia yang telah terjadi hingga diketahui ataupun dibuka kembali oleh generasi hari ini dan di kemudian hari. Tentu ia ingin mengetahui dan akan menagih suatu kejelasan fakta sejarah secara terang benderang. Masih ingat kasus Bank Century, peristiwa dan kasus yang belum menemukan benang merah dan titik terangnya. Coba kita renungkan dari 10 dekade terakhir peristiwa apa-apa saja yang belum terungkap. Agar kita, generasi hari ini dan selanjutnya, tidak mewariskan kamuflase sejarah.

Itu sebabnya setiap generasi memiliki tanggung jawab sejarah yang harus diselesaikan agar tidak mengakibatkan kekaburan fakta dengan membebaninya kepada generasi di masa yang akan datang. Karena setiap peradaban atau rezim yang hidup dan berkuasa meninggalkan goresan tinta yang berkisah bab-bab hierarki kehidupan. Semua harus diselesaikan serta ditulis dengan kejelasan: seperti apa, siapa, kapan, dari mana, dan bagaimana peristiwa yang telah terjadi.

Hal yang umum sejarah selalu berulang dengan motif laku pendahulu dan yang membedakan hanya laku lakonnya. Namun, jika menginginkan sejarah tetap hidup di dalam tulisan/catatan yang diwariskan—perbuatan (hal dan sebagainya sesuatu yang dipertanggungjawabkan). Maka selaku generasi hari ini, agar tidak mengulangi kesalahan generasi sebelumnya atau tidak menciptakan laku sejarah buruk. Sejarah terus mencatat setiap tindakan kita. Hanya kisah kebaikan yang menjadi suatu rujukan demi kemajuan dan keadaban bangsa yang adiluhung.

 

Bangsa Bersejarah

Bangsa yang besar ini punya banyak sejarah di segala bidang dan itu jauh sebelum kedatangan bangsa di luar dari Nusantara—sekalipun priode kedatangan Bangsa Eropa—kolonialismenya lebih mendominasi penulisan sejarah. Kendati dengan sejarah perjuangan oleh anak bangsa, kita saling kenal, kukuh kuat saling menenun persaudaran—kebinekaan dalam keindonesiaan. Seperti pada 28 Oktober 1928, memoar para pemuda yang bergerilya bebas dengan pikiran dan tindakannya. Kongres pemuda yang merumuskan; semangat persaudaraan di dalam perbedaan.

Mereka berhasil menuliskan sejarah (dengan tindakan) semangat latar belakang daerah, budaya, dan agama yang berbeda. Mengaku serta siap menjunjung keindonesiaan: tanah air, bangsa, dan bahasa yang satu. Senyampang dengan Pancasila—filosofis kemajemukan yang menjadi kekuatan—ideologi negara merawat kesatuan dan persatuan kita. Tanpa goresan sejarah itu, kita akan kocar-kacir, terpisah, hancur dicabik-cabik oleh sikap warisan primordial kolonialisme (kelas sosial) golongan Eropa, Timur, dan inlander.

Penulisan adalah puncak segala-galanya untuk dipertanggungjawabkan apa-apa yang telah terjadi pada zaman selaku pelaku dan pencipta sejarah. Sebab apa yang dituliskan itulah sejarah—yaitu historie-recite dan setiap generasi menulis sejarahnya sendiri (Abdullah Taufik, 1985). Hal itu menjadi bagian dari historiografi—peristiwa yang mengambarkan dan menceritakan zamannya.

Hasil yang untuk dibaca generasi (kita hari ini dan untuk selanjutnya) hingga dapat diketahui apa yang telah terjadi. Ingat, orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah (Pram, 473:2009). Boleh saja perkembangan teknologi informasi secara besar-besaran di depan mata. Namun, seperti yang dikatakan sejarawan Amerika, Arthur Schlesinger; science and technology revolutionize our lives, but memory, tradition and myth frame our response.

 

Penulis adalah Alumnus Magister Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here