Interaksi Kepada Allah Oleh Zailani, S.Pd.I, MA Dosen Fakultas Agama Islam UMS

0
33

Ketika mendekati Allah menggunakan standar umum, bahkan minimal, namun ketika dia mendekati manusia menggunakan nilai sufistik. Dia tidak peduli rasa sakit, tak mengenal kondisi cuaca

Umumnya pilihan hidup ditentukan dengan dua jalan. Pertama, menggunakan akal dan kedua, rasa. Tipologi akal lebih realistis dan terukur. Sedangkan yang kedua, nyaman dan tidaknya perasaan. Adakalanya akal memberikan jalan keluar yang terang, tapi ada masanya dia memberikan pintu kegelapan. Begitu pula dengan rasa, ada saatnya menyelesaikan masalah, ada waktunya membebani diri sendiri.

Sering kali kedua hal ini (akal dan rasa) berkompetisi memberi peran yang lebih kepada manusia dalam memecahkan masalah kehidupan. Tidak jarang keduanya “berperang” untuk mengambil posisi menjadi terdepan. Siklus ini sering terjadi di antara manusia. Pandangan umum, bahwa laki-laki itu lebih rasional dibandingkan wanita. Tetapi tidak dipungkiri, terkadang kecendrungan memakai perasaan bisa dialami pria dan sebaliknya wanita lebih rasional. Taraf pendidikan dan lingkungan turut memberi pengaruh penggunaan masing-masing unsur tersebut.

Hubungan manusia dengan Allah berkutat dengan kedua jenis sikap di atas. Cara manusia memperlakukan Robbnya, ada didominasi rasa dan ada dirajai akal. Rasa ditimbulkan oleh suara jiwa atau hati. Sementara akal secara fisiologi bersumber pada kinerja otak. Berdasarkan perspektif sufistik dua unsur ini ditentukan kualitasnya berdasarkan sesuatu yang masuk ke dalam tubuh, lebih kepada hukum haram dan halalnya. Di sisi yang lain, apabila akal yang diberikan kesempatan dengan perbanyak membaca, berpikir dan sejenisnya. Maka akal jadi panduan mengambil keputusan dan kesimpulan. Sebaliknya “rasa,” hadirnya melalui getaran jiwa biasanya berpengaruh manakala bisikan halus didengarkan. Caranya adalah dengan memperbanyak zikir, muhasabah, menghormati nilai kemanusiaan dan menjaga nilai-nilai profetik dalam kehidupan.

Sebagai makhluk yang terdepan, manusia bangga dengan kelebihan akalnya. Dengannya masalah lebih mudah dipecahkan. Kehadiran akal juga selalu mampu menundukkan manusia berotot. Coba perhatikan, umumnya para bodyguard lebih sangar dan berotot dibandingkan tuannya, tapi dia tunduk kepada bosnya, yang jauh lebih kecil, bahkan kurus. Namun cara manusia berkomunikasi dengan Tuhannya tidak selamanya menggunakan akal. Kemampuan nalar dalam menangkap “bisikan Allah” belum bisa berjalan optimal jika hanya menggunakan rasio. Di sinilah peran rasa itu hadir.

Dalam dunia tasawwuf rasa yang kuat terhadap keberadaanNya disebut tajalli (kehadiran Tuhan dalam dirinya). Membangun komunikasi dengan Allah akan lebih nikmat dengan bahasa jiwa. Makanya seseorang berdoa hendaknya menggunakan seluruh potensi jiwanya. Karena yang mau disampaikan sesuatu yang terdapat di dalamnya. Kehadiran jiwa sangat penting untuk menjaga stabilitas rohani setelah berdoa. Salah satu jawaban Allah pasca berdoa, adalah munculnya ketenangan. Sehingga beban dunia akan berkurang tekanannya, manakala Allah menentramkan jiwa seseorang. Begitu besarnya peranan rasa dalam hidup di dunia, memberi kesan bahwa hidup tidak sebatas untung dan rugi secara fisik.

Mengenal Allah sebatas ilmu syariat tanpa didalami dengan nilai sufistik menjadikan hidup terasa berat. Sebab sesuatu yang timbul dari syariat umumnya adalah perintah dan larangan. Untuk sebagian orang, melaksanakan perintah dan menjauhi larangan masih dalam batas kewajiban, belum diiringi dengan perasaan ridha dan tabah. Kondisi ini bukan hanya memberikan pengaruh kepada cara manusia mendekati Allah, juga berdampak pada standarisasi kedekatan, sekedar melepaskan kewajiban dasar. Bila ada peluang mempermudah dia mengambil jalan tersebut, tetapi lain halnya kepada makhluk.

Terkadang hubungan hamba dengan Tuhan tidak semesra ketika pada manusia. Secara sederhana untuk mengukur sampai sejauh mana interaksi manusia dengan Sang Kuasa, bisa dilihat dilihat dari getaran jiwa masing-masing insan. Contoh kecil adalah: Laki-laki yang sudah baligh berakal, beban mukallaf sudah dipikulnya, disunnahkan untuk melaksanakan shalat wajib berjamaah di masjid. Dalam suasana banjir, hujan atau semisalnya, ada keringanan untuk melaksanakan di rumah. Apakah hal ini salah dalam fiqh, sama sekali tidak. Tidak ada yang keliru ketika mengambil rukhsoh ini. Tetapi kekeliruan ini terjadi manakala ada pembandingnya.

Saat mau bertemu dengan Allah menggunakan hukum “keringanan,” tetapi ketika menghadap manusia yang dipakai adalah tasawwufnya. Hujan dan banjir menjadi alasan hukum untuk tidak berjamaah di masjid, namun kondisi seperti itu terkadang berbanding terbalik apabila yang membutuhkan adalah orang yang dihormati dan disegani. Hujan, banjir bukanlah pengahalang, tak jarang merasa bahagia bisa melakukannya. Semua tulus dia lakukan, kondisi lapangan bukan penghambat, tapi bagian romatisme penuh khidmat. Baginya itulah pengorbanan. Letak “kecemburuan” Allah di sini!

Bagaimana seseorang memperlakukan-Nya tidak pada level yang tinggi dan berbeda dengan makhluk-Nya. Ketika dia mendekati Allah menggunakan standar umum, bahkan minimal, namun ketika dia mendekati manusia menggunakan nilai sufistik. Dia tidak peduli rasa sakit, tak mengenal kondisi cuaca, baginya asal yang dijumpai senang, itu sudah cukup untuk dirinya.

Prinsip beragama adalah keridhaan, apakah setiap melakukan kunjungan batin dengan Allah, diikuti jiwa yang tenang, atau gelisah. Dua kondisi ini adalah miniatur suhu batin. Pengaturan jiwa hanya dapat dilakukan dengan kondisi ruhani lebih terpesona dengan kehadiran-Nya. Ada empat struktur tubuh manusia. Dua hal sering digunakan dalam berkontemplasi kepada Allah, dua jenis lain lebih sering digunakan Setan untuk menyakiti iman para manusia.

Keempat di atas adalah akal, hati, hawa nafsu dan syahwat. Akal dan hati sering digunakan para insan untuk berpikir dan merenung tentang semuanya. Bahkan dari keduanya Allah menegur manusia. Seringnya pelibatan kedua unsur di atas menjadi tanda bahwa akal dan hati yang bersih akan melahirkan perilaku yang sehat dan terarah. Sebaliknya antara hawa nafsu dan syahwat sering kali titik lemah manusia. Salah satu sumber kekuatan hawa nafsu adalah lambung (perut), apabila perut sudah kenyang, bahkan melebihi daya tampung lambung, itu bisa mematikan hati dan menumpulkan akal, sebaliknya syahwat semakin terdepan.

Inilah hikmahnya, ketika perintah puasa yang dikekang bukan kreativitas berpikir tetapi menahan lapar, dahaga dan berhubungan badan. Bagian yang dilarang agama merupakan cara alami mengekang syahwat dan menahan hawa nafsu. Di saat kondisi begini peranan jiwa lebih bisa sensitif mengenal ajaran Pemilik Semesta berdasarkan sudut pandang rasa. Muhammad Fethullah Gulen Mengatakan: “Hati adalah kampung halaman bagi ruh keimanan, ibadah dan ihsan”. Menjaganya jauh lebih penting dibandingkan yang lain. Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here