Kontribusi Ibu Dalam Dakwah Islamiyah Oleh Islahuddin Panggabean Kader PKS Medan

0
34

Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kami-lah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) adalah bagi orang yang bertakwa (QS. Thaha : 132).

Menjadi seorang Ibu adalah impian bagi setiap wanita, setelah menjadi seorang istri tentunya. Dalam Islam, Ibu adalah sosok yang sangat mulia dan dimuliakan. Sebagaimana terdapat dalam banyak ayat dalam Alquran, manusia diperintahkan untuk berbakti kepada kedua orangtuanya khususnya ibu yang telah bersusah di atas susah, lemah yang bertambah-tambah (QS Luqman: 14) (QS Al-Ahqaf: 15).

Begitu juga dalam hadis yang masyhur ketika Seseorang datang kepada Rasulullah SAW dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi  menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi menjawab, ‘Kemudian ayahmu.’(HR. Bukhari dan Muslim) .

Dalam perkembangan dakwah Islamiyah, setidaknya ada dua peran besar ibu pada Anak sebagaimana diambil dari kisah para ibu di masa awal Islam. Pertama, Pembinaan terhadap Anak. Pendidikan anak di atas nilai-nilai Islam dan norma akhlaqul karimah serta menyiapkan masa depan mereka ialah perjuangan wanita Muslimah. Ini tergambar sejak zaman Nubuwwah. Salah satu contoh nyata hasil kerja keras seorang ibu ialah seorang Anas bin Malik radhiyallahu ’anhu. Pembinaan ibunda ini diakui sendiri oleh Anas, beliau berkata, “Semoga Allah membalas kebaikan ibuku dengan kebaikan, sungguh ia telah sempurna dalam membimbingku.”

Sosok di balik kesuksesan dunia akhiratnya ialah pembinaan yang dilakukan oleh ibunya (di samping Rasulullah SAW tentunya) yakni Ummu Sulaim. Sosok Ibu yang luar biasa, sejak Anas masih kanak-kanak ia telah mengajarkan dua kalimat syahadat. Bahkan sang bapak (yang masih musyrik) emosi. Namun, kelihaian Ummu Sulaim membuat pendidikan dan pembinaan Islam terhadap anaknya tetap berjalan. Setelah suami tersebut wafat, ia dilamar oleh Abu Thalhah. Namun Ummu Sulaim memilih untuk menunda pernikahan disebabkan ingin fokus membimbing anaknya hingga ia baligh. Ia berkata, “Aku tidak akan menikah hingga Anas baligh dan duduk di majelis-majelis ilmu.”

Tatkala Nabi dan umat Muslim hijrah ke Madinah, ketika itu Anas berusia belum genap 10 tahun. Ummu Sulaim datang kepada baginda Nabi, memohon kepada Nabi agar menjadikan Anas sebagai pelayan hingga anaknya dapat dibina langsung oleh Rasulullah SAW. Selain itu, Ummu Sulaim pun secara khusus meminta kepada Nabi agar mendoakan anak kesayangannya itu.

Akhirnya, Anas pun berhasil dalam urusan agama. Tidak hanya itu ia pun sukses dalam urusan dunia. Ia dijadikan orang kepercayaan di zaman Abu Bakar dan Umar dalam hal pengelolaan zakat di negeri Bahrain. Abu Bakar mengakui kredibilitas Anas dengan mengatakan, ”Utuslah Anas, karena ia orang yang cerdas lagi pandai menulis.” Begitupula sosok Ummul Mukminin, Aisyah Radhiyallahu ’anha, yang tak lepas dari pembinaan Ummu Ruman.  Keberhasilan Anas, ’Aisyah dan sosok-sosok seperti Imam Syafi’i , Imam Ahmad dan juga tokoh lain menjadi bukti sebuah ungkapan, “Bahwa di balik seorang lelaki hebat ada seorang wanita (ibu).”

Kedua, kontrol yang berkepanjangan hingga akhir hayat. Sejatinya tidak ada yang sulit dari pendidikan karena ia bukan sebatas kalimat yang diucapkan atau perilaku yang dikerjakan lantas selesai. Tetapi pendidikan ialah kesabaran dan pengorbanan, arahan dan bimbingan yang harus terus dilakukan. Sinyalir ini didapat dari Firman Allah, Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kami-lah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) adalah bagi orang yang bertakwa (QS Thaha : 132).

Tatkala seorang ibu berhasil dalam membina anak dalam kebaikan, itu kesuksesan. Tetapi kesuksesan terbesar ketika anak tersebut tetap teguh dalam kebenaran hingga akhir hayat dalam keadaan baik. Ini dilakukan oleh seorang shahabiyah, seorang ibu yang terus membina anaknya dari sejak awal hingga dewasa bahkan sampai akhir hayat. Ia adalah Ummu Rabi’ binti al-Barrah, ibu dari Haristah bin Suraqah. Tidak hanya membentuk anak menjadi seorang Muslim yang baik. Beliau terus mengamati perkembangan hidup anaknya hingga wafat di Perang Badar. Beliau bertanya pada Nabi, ”Wahai Nabiullah, apakah engkau mau mengabarkanku tentang Haristah, apakah ia ada di dalam Surga sehingga aku bersabar karenanya atau dia tidak seperti itu sehingga aku akan menangis dan meratapinya?” Nabi menjawab, ”Wahai Ummu Haritsah! Sungguh Surga itu taman-taman yang sangat indah dan putramu berada di Surga Firdaus tertinggi!”

Begitulah sejatinya, fitrah seorang ibu. Sebab ia mencintai anaknya jauh sebelum orang lain mencintainya. Ibu pasti menginginkan terbaik bagi anaknya di dunia dan akhirat. Namun, di era modern saat ini, karakter ibu seolah memudar. Banyak yang tidak lagi fokus pada mencetak generasi hebat, hanya terbatas pada mode pakaian, kemewahan dan makanan anak saja, malah menjadi penghalang anak dalam dakwah atau kebaikan. Atau tidak peduli lagi ketika anak sudah dimasukkan ke TPQ, Sekolah atau Pesantren atau ketika anak sudah ’dirasanya’ mapan atau baik. Na’udzubillah min dzalik.

 

Penutup

Wanita memiliki peran penting dalam dakwah Islamiyah, salah satunya sebagai ibu yang baik. Ibu adalah tonggak peradaban. Jika seorang baik maka satu generasi Insyaa Allah akan baik. Namun jika seorang ibu buruk maka bagaimana pula nasib generasi ke depannya? Wallahu’alam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here