Modernisasi & Moderatisasi Pendidikan Islam Oleh Abdul Hakim Siregar

0
89

Kewasitan pendidikan Islam, jelas menjadi penengah di antara berbagai konsep dan praktik pendidikan dunia

Menteri Agama Republik Indonesia, Lukman Hakim Saifuddin pada pembukaan pameran International Islamic Education EXPO (IIEE) 2017, Selasa (21/11/17) di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BCD, Tangerang Banten–menyampaikan pentingnya pemahaman dan sikap washatiyah (moderat) pendidikan Islam. Jangan sampai pendidikan Islam melahirkan lulusan pemahaman yang ekstrem.

Dua pendekatan, yakni teks dan nalar selayaknya dipadukan. Bukan malah dihadapkan secara bertentangan. Terbukti, pihak yang berlebihan mengandalkan teks dan nalar menuju ujung berlebihan. Mereka yang hanya menggunakan teks dalam memahami agama terkesan kaku. Sebaliknya, yang mengutamakan nalar berujung pada bias dan bablas. Pendidikan pesantren khususnya telah mengembangkan formulasi yang moderat dan memadukan dua pendekatan, yakni teks dan nalar secara proporsional.

Dengan ungkapan berbeda, tetapi bermakna sama, Muhammad Abed Al-Jabiri dari Maroko mengingatkan pembaharu Islam agar memadukan tradisi dan kemajuan. Mereka yang menolak kemajuan dengan maksud menjaga tradisi akan terasing dalam dunia yang terus berkembang ini. Sebaliknya, mereka yang menyerap kemajuan secara total sampai menghilangkan segala budaya, mungkin dapat mengikuti perkembangan zaman. Namun, terputus dari tradisi bangsa dan bahkan agamanya. Untuk itulah diperlukan sikap seimbang, meminjam istilah M. Abed Al-Jabiri, menjadikan tradisi lebih kontekstual dengan dirinya dan pada saat yang sama relevan dengan kekinian kita–sehingga terbuka sosialisasi untuk kemajuan seraya tidak kehilangan identitas (jati) diri suku dan agama.

Banyak tokoh dan pemikir di negara berkembang berupaya merumuskan formulasi kemajuan bangsa mereka yang tertinggal. Ada contoh yang agak ekstrem dalam pembaharuan, seperti Turki di masa Mustafa Kemal Atatürk (1881-1934). Baginya, segala yang berbau Arabisme perlu diganti dengan Turki-isme, kembali kepada budaya Turki secara keseluruhan. Konon kabarnya waktu itu, sampai bahasa Arab dalam beragama ditukar menjadi bahasa Turki. Mungkin saja, Ataturk merasa kecewa dengan orang Arab di zamannya, karena bangsa Arab sebelumnya lebih berpihak kepada sekutu, Inggris atau Prancis dibanding Turki. Maka, Turki kala itu mendaulat diri nasionalis Turki, tulen. Atau lebih menghubungkan dirinya kepada Eropa dibanding Arab? Lalu, apakah Turki kini setara dengan bangsa Eropa yang maju?

Sebaliknya, puak lain yang kontra model pembaharuan Ataturk di Turki, sedikit dikontraskan yang hampir menolak kemajuan, karena dikhawatirkan mengikis akidah dan iman. Maka, pihak ini menolak segala hal yang berasal dari Eropa Barat. Lalu, apakah kemudian model penolakan ini membawa keuntungan terhadap bangsa dan agama?

Di tengah dua ujung ekstrem, antara mereka yang menyerap dan meniru kemajuan secara mutlak dan sebaliknya menolak kemajuan seratus persen. Muncullah, jalan tengah yang berupaya menerima kemajuan secara selektif dan berusaha menjaga tradisi adat bangsa sendiri. Memang, formulasi ini terkesan campuran, dari dua sisi pendekatan yang agak berlebihan di atas. Tapi, apapun istilahnya, kemajuan suatu bangsa atau pendidikan, ketika kita mampu mengambil unsur terbaik dari setiap peradaban, lalu secara kreatif kita mengembangkannya demi masyarakat dan rakyatnya.

 

Modernisasi Pendidikan

Istilah modern sendiri masih menjadi perdebatan, karena dianggap terlalu ‘Baratis?’Modern merujuk kepada yang terbaru dan terkini. Dalam pendidikan mutakhir, pendidikan seiring dengan demokratisasi mau tidak mau, pendidikan mengikut demokrasi politik. Seorang politisi berkampanye agar dipilih rakyat. Begitu juga pembelajaran kini mengharuskan berpusat kepada siswa, sehingga guru menjadi pemandu saja.

Modernisasi juga dalam merujuk penemuan teknologi, seperti mesin cetak. Penemuan ini tentu saja menakjubkan manusia di masanya. Lebih sombong, Sir Francis Bacon menegaskan mesiu, kompas, dan senjata menjadi alat modern untuk menaklukkan atau menelusuri sebuah wilayah dengan lebih cepat. Sampai-sampai, Bacon mengungkan slogan, “knowledge is power, pengetahuan atau saintis adalah kekuatan.”

Hemat saya, modernisasi pendidikan Islam di Indonesia menghadapi banyak tantangan. Pada satu sisi, sekolah atau pondok yang mengatasnamakan ‘modern’ masih perlu ditinjau, dari sudut apa mereka pantas disebut: modern.

Di Indonesia, misalnya, kita tetap memperingati Hari Pendidikan Nasional, termasuk sedikit masih mengingat Ki Hajar Dewantara, sebagai pelopor pendidikan nasional. Namun, pada tataran praktiknya, kita mengabaikan pesan Ki Hajar Dewantara. Begitu juga dengan pendidikan Islam, beberapa lembaga pendidikan Islam yang mengaku sebagai pendidikan Islam modern, seperti sekolah Islam terpadu (IT). Anehnya, teori, praktik, dan rujukan pembelajarannya berguru kepada Barat atau luar negeri lainnya? Belum lagi pengelolaan lembaga pendidikan yayasan terkesan otoriter, karena milik pribadi. Sebaliknya, lembaga pendidikan sekolah negeri, masih terkendala dengan penggunaan anggaran yang tidak tepat. Untuk tidak menyebutnya arus korupsi dan rekayasa lainnya.

 

Moderatisasi Pendidikan

Islam memiliki modal dan model wasathiyah, wasit dalam bahasa Indonesia berarti penengah atau juri dalam pertandingan olahraga. Modal dan model wasatiyah Islam melingkupi banyak aspek, seperti ibadah kepada Tuhan yang meliputi jasmani dan rohani. Bahkan alam sekitar dan pakaian yang dikenakan.

Kewasitan pendidikan Islam, jelas menjadi penengah di antara berbagai konsep dan praktik pendidikan dunia. Dari dulu, kini, dan datang, pendidikan dikembangkan berdasarkan filosofi, alam pikiran, budaya, dan tuntutan zaman. Sebagai contoh, banyak pakar pendidikan di Indonesia, termasuk Pak Menteri Muhadjir Effendy takjub berlebihan dengan pola pendidikan Finlandia, sehingga ia berupaya menyerap dan menirukannya di Indonesia. Begitu halnya, dengan oknum pejabat di Kementeria Agama yang hendak mengirim guru ke Finlandia. Kebijakan demikian, bagi saya sangat ganjil, bagaimana kita harus berguru ke luar negeri seperti itu? Padahal, kita memiliki modal dan model khas yang dapat dikembangkan di Indonesia, pendidikan Indonesia yang lebih khas dan unik?

Teristimewa pendidikan Islam, kita sesungguhnya mempunyai pondok pesantren yang tinggal pada satu kompleks. Terbukti, memiliki kekuatan secara keilmuan dan pembinaan akhlak. Tinggal, membenahi serta melengkapi bagian yang kurang agar lebih utuh dan terpadu. Pendidikan pondok pesantren dapat dimodifikasi secara nasional untuk kemajuan bangsa. Secara nasional, pendidikan berasrama, seperti SMA Taruna dan bahkan sekolah militer paling berhasil menggunakan formulasi pondok atau asrama.

Meski tentunya perlu diakui, ada beberapa pengecualian atau pelanggaran yang mungkin bisa terjadi di dalamnya. Untuk itu, pemerintah Indonesia lewat Kementerian Pendidikan Nasional serta Kementerian Agama yang membidangi pendidikan, rasanya perlu mengembangkan pola pendidikan pondok pesantren untuk moderatisasi pendidikan dalam segala lini, keagamaan, kemanusiaan, kebangsaan, keindonesiaan, dan kealaman.

Islam dan Indonesia memiliki modal dan model moderat, sehingga kita dapat menggali ajaran dan adat Indonesia sendiri dalam mengembangkan pendidikan Islam dan Indonesia. Rasanya, tidak perlu jauh lagi harus berguru modern dan moderat ke luar negeri. Mereka yang mencari cara ke luar negeri untuk pendidikan, mungkin saja sebatas akal-akalan yang tidak produktif dan kreatif.

 

Penulis adalah Guru MAN IC Tapanuli Selatan.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here