NU Warisan Ulama Oleh M Ridwan Lubis

0
46

Tugas kesejarahan warga NU sekarang hendaknya tidak terjebak kepentingan jangka pendek termasuk politik. Karena sekali melarutkan diri kepada persaingan politik maka bukan hanya akan berbenturan dengan kelompok lain tetapi juga bisa saling menjegal kawan seiring

Dalam sejarah keagamaan selalu ditemukan kehadiran pribadi-pribadi yang secara sepintas hidup dalam suasana kesederhanaan apabila diukur dari sudut pertimbangan materi. Namun sekalipun demikian, mereka tidak tergoda dengan tarikan glamournya kehidupan.

Malah dalam sejarah perkembangan Islam, sekalipun setelah lebih kurang 600 tahun terpampang kemajuan peradaban Islam lalu—kemudian mengalami kemunduran akibat kekalahan demi kekalahan umat Islam dalam bidang politik, tetapi perkembangan kemajuan peradaban masih terus memperoleh momentum yang baru. Terus menggemanya perjuangan membangun peradaban itu disebabkan karena pemegang peranan memajukan peradaban diambilalih oleh para ulama yang sebelummya digerakkan oleh para pemimpin daulah.

Hal tersebut bisa terjadi karena ulama memiliki empat komponen untuk membuktikan kebenaran ajaran Islam yaitu argumen rasional-suprasional; integrasi empiris, profetik dan eskathologis. Argumen rasional-suprarasional adalah memberikan penjelasan tentang makna wahyu baik melalui penjelasan secara akal maupun diatas akal sehingga informasi kewahyuan sebagai kebenaran yang didasarkan kepada pertimbangan akal dan di atas akal.

Argumen integrasi empiris adalah para ulama mampu menjelaskan kebenaran ajaran Islam secara holistik baik dalam ucapan, penghayatan dan perbuatan sehingga kebenaran ajaran Islam dapat dirasakan oleh setiap orang melalui kekuatan nalarnya. Argumen profetik adalah ulama menjelaskan tentang berbagai ramalan tentang masa depan kehidupan yang akan dihadapi umat manusia. Terakhir, eskathologis adalah menerangkan bahwa kehidupan di dunia adalah sekedar perhentian sementara dan setelah itu akan menempuh perjalanan panjang yaitu alam akhirat menuju tempat pembalasan segala perbuatan manusia.

Demikianlah gambaran kepribadian seorang ulama masa lalu sehingga tidak mengherankan bila mereka selalu dijadikan umat sebagai rujukan dalam mengikuti seluruh prosesi perjalanan kehidupan (marja’ al taqlid) dalam mengikuti tuntutan syariah. Melalui pembacaan yang cerdas terhadap perjalanan sejarah kehidupan umat manusia mereka lengkapi penjelasan tersebut dengan berbagai tanda-tanda zaman guna menuntun perjalanan kehidupan umat agar kembali menekuni jalan kebenaran. Ketika ulama memerankan kehadiran mereka sebagai suluh yang menerangi umat maka perkembangan keislaman mengalami pencerahan yaitu fenomena Islam bukan sekedar sebuah formulasi teologis, tetapi sebagaimana disebut pengamat asing, HAR Gibb sebagai peradaban paripurna.

Ketajaman mata batin para membaca tanda-tanda zaman membuat mereka tidak selalu terpaku kepada teks-teks ajaran tetapi juga merumuskan kaitannya dengan konsteks kehidupan yang terbentuk dalam keragaman ruang dan waktu. Lihat misalnya, betapa cerdasnya mereka untuk memelihara kepastian dan kelenturan ajaran Islam yaitu dengan merumuskan logika pemikiran (ushul fiqh) sebagai pengantar menuju kepada formulasi hukum (fiqh). Sehingga hampir tidak ada yang tidak bisa mereka jawab berbagai persoalan yang berkaitan relasi agama dengan kehidupan atau sebaliknya kehidupan dengan agama.

Karena wawasan pemikiran ulama melebihi orang kebanyakan dengan sendirinya mereka berada pada posisi mandiri. Sekalipun mereka misalnya terlibat dalam urusan politik akan tetapi politik itu mereka berdayakan untuk mendukung aktualisasi ajaran agama. Kemandirian ini membuat para ulama tidak segan melakukan koreksi manakala terjadi penyimpangan jalannya kehidupan masyarakat termasuk yang berkaitan dengan kenegaraan. Sebaliknya, mereka juga tidak jemu-jemunya mereka memberikan apresiasi terhadap kehidupan sosial yang dipandang merupakan ektualisasi kehidupan rohaniah.

Dengan mendasarkan kepada metode (manhaj) yang telah dibakukan ulama terdahulu maka dengan lincah pula mereka tidak kehabisan akal merumuskan kerangka pemikiran hukum terhadap berbagai kasus kehidupan sosial yang belum ditemukan pada masa lalu. Hukum bukan sesuatu yang kaku tetapi di balik prinsip hukum selalu ditemukan nilai filosofi mengantarkan terwujudnya kemaslahatan kehidupan di alam semesta. Misalnya torehan prestasi keulamaan ketika dunia Islam dihadapkan kepada dua kasus sosial dan politik. Daulah Turki Usmani yang mulai mengembangkan kepemimpinan dunia Islam sejak abad 15 berpusat di Istambul. Mereka satu di antara tiga pusat kekuatan politik Islam ketika itu yaitu Mugla, Safawi dan Turki Usmani sendiri. Jangankan bukan keturunan yang berasal dari bangsa Arab, maka dengan sendirinya mereka bukan keturunan Quraisy. Sementara dalam Hadis Rasul ditegaskan pemimpin umat yang ideal itu Quraisy (al aimmatu min quraisy).

Kasus kedua, wilayah kekuasaan Turki Usmani yang menjorok sampai ke Eropah tentu saja penghuninya ada yang memilih Islam dan ada pula yang tetap bertahan pada keyakinannya yang lama. Bagi penduduk yang tetap bertahan pada keyakinan yang lama terbagi dua pula yaitu ingin berdamai dengan umat Islam dan yang kedua membangun sikap konfrontasi dengan umat Islam.

Kelompok pertama, mereka tetap diberikan kebebasan menganut keyakinan yang lama. Oleh karena keyakinan yang lama adalah Nasrani sementara Nasrani merupakan satu rumpun dengan Yahudi dan Islam melalui Nabi Ibrahim as maka keberadaan mereka tetap dihargai dan malah diberikan status sosial yang disebut millet. Namun sebaliknya terhadap umat yang berbeda keyakinan dan membangun perlawanan terhadap umat Islam maka wajar saja mereka diberi pula julukan yang baru yaitu kafir harbi. Demikianlah sifat keteguhan prinsip serta fleksibilitas para ulama dalam panggung sejarah.

Sejarah islamisasi di Indonesia sekalipun masih menjadi perdebatan apakah abad ketujuh, delapan atau tiga belas masehi, tetapi yang jelas, kedatangan Islam sama sekali tidak membawa sistim sosial dari kultur Arab. Pola penyiaran Islam jauh dari sikap pemaksaan akan mengalir seperti air mengikuti kultur lokal. Bahkan masyarakat diberi kebebasan mengembangkan kreativitas merumuskan simbol-simbol baru sebagai akibat perjumpaan Islam dengan budaya Nusantara. Proses adaptasi ini terus berlangsung dilengkapi pola kehidupan akomodatif sehingga masyarakat secara tidak sengaja memeluk Islam dengan menjadikan budaya Nusantara sebagai aktualisasi ajaran Islam dalam kehidupan sosial. Kalaupun para ulama menerapkan prinsip seleksi budaya, itu hanya apabila berkaitan aspek doktrinal teologis dan ibadah sehingga perlu diarahkan untuk bertauhid kepada Allah.

Apa yang diungkapkan di atas untuk menekuni kembali jejak perjalanan Jam’iyah NU sebagai organisasi keulamaan yang pada 31 Januari 2018 memperingati hari kelahirannya. Ide ahlu sunnah waljamaah yang menjadi ikon dari jam’iyah ini sesungguhnya hanya sekedar penabalan menjadi sebuah organisasi (jam’iyah) sedang ide ahlu sunnah waljamaah itu telah tertanam di nusantara susah sejak lama yaitu ketika benih Islam mulai disemaikan dalam kehidupan masyarakat. Hal yang menjadi karakter NU bukanlah pada kekuasaan tetapi adalah menggarami kehidupan bangsa agar menjadi bangsa yang religius-filosofis.

Strategi pembinaan masyarakat yang dilakukan NU mereka tidak tergoda mengotak-kotakkan warga-bangsa berdasarkan suku, ras, budaya maupun agama. Sejak awalnya, NU tidak memiliki ambisi kekuasaan tetapi cita-citanya terwujud kehidupan umat Islam yang berilmu, berakhlakul karimah dan menjadi pionir mempertahankan keberadan Indonesia sebagai negeri Muslim (muslim country). Padahal apabila didorongkan ketika itu bukan tidak mungkin Indonesia sebagai negara agama (islamic state) tetapi NU tidak melakukannya.

Dalam visi NU, apabila sudah betul-betul menjadi negeri Muslim dengan sendirinya nilai universalitas Islam hidup semarak dalam budaya Nusantara. Tugas kesejarahan para warga NU sekarang hendaknya tidak terjebak kepentingan jangka pendek termasuk politik. Karena sekali melarutkan diri kepada persaingan politik maka mereka bukan hanya akan berbenturan dengan kelompok lain tetapi juga bisa saling menjegal kawan seiring. Kalau demikian dimana lagi akhlakul karimah yang selalu didengungkan ulama salaf. NU hendaknya kembali menekuni bidang yang selama ini menjadi core perjuangan mereka yaitu membangun kejayaan Islam dan umat Islam (‘izz al islam wa al muslimin). Karakter berpolitik para ulama masa lalu selalu menempatkan kepentingan agama di atas segalanya. Ulama selalu memahami kiprah dalam politik semata untuk mendukung syiar ke-NU-an. Sebaliknya belakangan ini terkesan NU itu lebih sekedar kendaraan politik memperoleh kekuasaan dan begitu kekuasaan diraih maka dengan sendirinya NU ditinggalkan begitu saja.

Karena NU ibarat gadis jelita dapat dimaklumi memikat bagi berbagai kelompok sosial mendekatinya. Tetapi, sayangnya begitu banyak pandangan yang bersimpati terhadap NU namun sekedar di kulit luarnya. Hal tersebut juga tidak bisa disalahkan sepenuhnya kepada masyarakat. Kemungkinan warga jam’iyah ini juga kurang mampu mendiseminasikan gagasan dan pemikiran NU untuk kejayaan bangsa Indonesia. Karena itu mendesak manakala kalangan NU berupaya mengembangkan pemikiran ke-NU-an sehingga menunjukkan kemaslahatan bagi kehidupan bangsa dan umat manusia.

Harus diakui pola pendidikan pesantren telah berhasil menyemaikan Islam dalam konteks sejajar perkembangan kehidupan berbangsa. Sayangnya kultur NU yang akrab dengan masyarakat agraris kurang dipromosikan mempersiapkan diri menuju kehidupan masyarakat urban yaitu penguatan ilmu pengetahuan dan teknologi. Memang beberapa waktu lalu telah muncul gagasan pengembangan intelektualitas di kalangan jam’iyah yaitu berdirinya beberapa perguruan tinggi. Tetapi sekedar mendirikan universitas belumlah cukup tetapi harus dibarengi pengembangan intelektualitas yang dapat melahirkan calon-calon ilmuan yang mampu menjembatani masyarakat tradisi dengan moderen.

Sebagaimana Kishore Mahbubani bahwa tujuh peradaban Barat akan menyasar ke dunia Timur. Karena itu NU hendaknya tidak bertahan sebagai masyarakat agraris karena akan membuat mereka cenderung reaktif terhadap perubahan. Sebaiknya mereka didorong memelihara tradisi lama yang masih baik dan menggali berbagai kreativitas dan inovasi untuk menjemput masa datang. Dengan demikian terwujudnya kemaslahatan hidup dalam interaksi kehidupan global. Diperkirakan keterikatan masyarakat terhadap organisasi masa depan tidak lagi bersifat keterikatan administratif-organisatoris tetapi lebih pada aspek fungsional dan sebagai solusi terhadap perkembangan kerumitan hidup di masa depan. Itulah yang dipandang menjadi tantangan NU dan organisasi keagamaan lainnya di masa datang.

 

Penulis adalah Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here