Pemimpin Ideal Dalam Islam Oleh H.M. Nasir, Lc. MA

0
112

jangan engkau meminta jabatan (imarah). Sesungguhnya jika diberikan jabatan itu kepadamu karena dipinta (resiko)-nya akan ditanggung olehmu semuanya. Sebaliknya jika jabatan itu diserahkan kepadamu tanpa diminta, kamu akan ditolong (untuk melaksanakannya) (HR. Bukhari).

Kepemimpinan, jabatan (imarah), merupakan perpanjangan tangan Tuhan di muka Bumi dalam mengatur dan melaksanakan misi ketuhanan di seluruh aspek kehidupan. Karenanya kepemimpinan sangat erat hubungannya dengan kelangsungan dan pemeliharaan agama serta mengatur dan mensiasati dunia ilmu—yang bersentuhan langsung dengan peroses pengangkatan, syarat-syarat, kriteria pemimpin adalah ilmu siyasah atau ilmu politik.

Imam Almawardi dalam kitab Ahkamu Sulthoniyah mendefenisikan politik ialah harasatuddin wasiasatuddunya/menjaga agama dan mengatur Dunia. Jadi politik bukanlah “barang haram” untuk dibicarakan di masjid, di pengajian dan di kampus kampus hingga di level masyarakat awam. Hanya yang perlu digarisbawahi adalah penyalahgunaan ilmu politik atau menjual agama untuk kepentingan politik.

Perilaku di atas nampak jelas pada orang orang yang ambisus kepemimpinan dan meminta jabatan. Sementara yang bersangkutan sama sekali tidak pantas dan tidak berkapasitas untuk memimpin dan memangku suatu jabatan. Perlu diketahui ambisius terhadap kepemimpinan dan jabatan adalah telarang dalam Islam, kecuali orang yang memang pantas untuk menjadi pemimpim maka Islam tidak melarang.

Ambisius adalah terlampau bernafsu untuk mendapatkan sesuatu, atau haus akan kedudukan dan jabatan dan itu terlarang. Sebab menyerahkan sesuatu kepada orang yang terlalu ambisi, atau ambisius akan menjadi durhaka, pada gilirannya akan menjerumuskannya kepada jurang keserakahan dan berlebihan, dan sikap yang kedua ini jelas dilarang Allah SWT. Sesungghnya Allah tidak menyukai orang yang berlebihan (QS. Al An’am: 141).

Rasulullah SAW berpesan kepada Abdurrahman bin Samurah, diriwayatkan oleh Bukhari dan Abdurrahman bin Samurah: Wahai Abdurrahman bin Samurah, jangan engkau meminta jabatan (imarah). Sesungguhnya jika diberikan jabatan itu kepadamu karena dipinta (resiko)-nya akan ditanggung olehmu semuanya. Sebaliknya jika jabatan itu diserahkan kepadamu tanpa diminta, kamu akan ditolong (untuk melaksanakannya) (HR. Bukhari).

Berikut larangan untuk memilih orang orang yang ambisus juga berlaku kepada mereka yang menjadi pendukung dan pemilih. Dan mereka berserikat dalam menuai dosa akibat perilaku pemimpinnya dan dosa orang yang menyerahkan kekuasaan kepada orang yang berprilaku seperti ini adalah sama. Karena dianggap tolong menolong dalam berbuat dosa. Sedangkan Allah SWT melarang demikian. Tolong menolonglah kamu dalam berbuat takwa dan kebaikan dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan (QS.Almaidah: 2).

Sebaliknya meminta jabatan dan kepemimpinan bagi mereka yang pantas, tidak ada larangan bagi mereka berusaha dan mengatur strategi membentuk tim sukses dalam upaya mewujudkan cita-citanya. Karena sebagian dari urusan urusan yang berkaitan dengan agama dan kemanusian dapat terwujud dengan memegang kekuasaan dan jabatan.

Di dalam Alquran Allah menjelaskan bagaimana Nabi Sulaiman as, berdoa kepada Allah SWT supaya dianugerahkan kepadanya kekuasaan yang tidak akan diberikan lagi kepada orang yang sesudahnya. Ya Allah Ampunkan dosaku dan berikan kepadaku kekuasaan yang tidak lagi Engkau berikan kepada orang yang setelahku (QS.Shaad: 35), maka Allah tundukkan kepadanya angin yang berhembus sesuai dengan perintah Nabi Sulaiman, dan Setan-setan tunduk kepadanya sebagai ahli bangunan dan penyelam (QS. Shaad: 36-37).

Demikian halnya Nabi Yusuf as, berdoa kepada Allah agar dianugerahkan kepadanya jabatan bendaharawan Mesir karena dia memang amanah dan ahli dalam memenej dan menjaga kekayaan negara. Ya Allah Jadikan aku menjadi seorang bendaharawan di muka Bumi Mesir (QS.Yusuf: 55).

Kedua permintaan Nabi yang mulia itu diperkenankan oleh Allah SWT, karena Nabi Sulaiman as dan Nabi Yusuf as adalah orang yang pantas untuk manjadi pemimpin. Namun sikap hati-hati tetap dikedepankan, dibuktikan dengan permohonan ampun kepada Allah sebelum memangku jabatan, karena sejatinya Dialah pemilik seluruk kekuasaan.

Di sisi lain, jika tidak dapat mengikuti nilai prohetic/kenabian seperti yang digambarkan di atas, paling tidak ada memiliki rasa takut kepada Allah bagaimana pertanggungjawabannya ketika menjalankan amanah yang telah dibebankan. Dan sadar diri sejauhmana keberhasilannya memimpin diri sendiri dan keluarga.

Karena sosok pemimpin yang selalu dirindukan rakyat adalah pemimpin yang ada rasa rakut kepada Allah dan sayang kepada rakyat. Sebagaimana diajarkan Nabi Muhammad SAW dalam doa,  Allahumma la tushallith ‘alaina bizunubina man la yakhafuka wala yarhamuna/Ya Allah dengan sebab dosa-dosa kami, jangan Engkau angkat pemimpin untuk kami orang yang tidak ada rasa takut kepada-Mu dan tidak ada rasa sayang kepada kami (rakyat).

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hasrat yang kuat untuk mendapatkan suatu jabatan dapat dibenarkan dalam Islam—dibarengi sikap hati-hati dan memohon kepada Allah agar tidak terjerumus kepada keserakahan dan terlalu ambisius untuk mendapatkannya. Karena kekuasaan dan jabatan yang dianugerahkan oleh Allah bersumber dari Pemilik Kekuasaan itu sendiri.

Katakanlah;Ya Allah Engkau Pemilik Kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada orang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kekuasaan dari orang yang Engkau kehendaki, Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau beri rezeki kepada orang yang Engkau kehendaki tanpa diduga-duga dan sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu (QS,Ali Imran: 26).

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here