Isu Agama Dan Etnis Menguat

0

MEDAN (Waspada): Isu agama dan etnis semakin menguat sekaligus dianggap penting oleh kelompok pendukung menjelang pemilihan Gubernur Sumatera Utara pada Juni 2018.

Postingan di akun media sosial bernuansa kampaye hitam sudah ramai. Ada yang mempetakan calon pemilih mulai dari wilayah agama dan etnis.

Pengajar di Universitas Medan Area (UMA) Warjio,Ph.D ketika diminta pendapatnya, Minggu (11/2), tentang warna-warni pemilih Pilgubsu 2018  mengatakan,  hal  tersebut menjadi basis pertimbangan dalam menentukan konfigurasi politik pada Pilgubsu 2018 di antaranya latar-belakang identitas (representasi agama) dan etnis.

“Representasi agama bukan berarti bahwa kita sedang membangunkan sentiment agama dalam Pilkada. Akan tetapi fakta empiris bahwa agama tetap menjadi pertimbangan utama dalam menentukan pilihan politik oleh para pemilih.   Pertimbangan kesamaan agama masih menjadi pertimbangan utama di antara pertimbangan lainnya,” katanya.

Politik agama menjadi salah satu instrumen penting dalam menunjukkan keberpihakan politik. Namun, politik identitas ini kerap dituding cikal bakal intoleransi dan perpecahan bangsa.

Karena itu, cara mengelola isu ini harus tepat dan benar karena sangat sensitif. Kemudian, lanjutnya, persoalan etnis juga  tidak bisa diabaikan. Pengaruhnya juga sangat kuat disamping factor agama.

Isu agama dan etnis menjadi isu penting di Pilgubsu ini. Karenanya  siapa calon yang mampu mengelola isu agama dan etnis dengan baik,maka ia berpotensi  mendulang suara. “Saya pikir isu agama masih laku keras pada Pilgubsu nanti,” sebutnya.

Pada perinsipnya, menurut Warjio, siapa yang mampu  mengelola semua isu secara baik, maka potensi untuk mendapat dukungan dari masyarakat sangat besar.Namun, Warjio menyarankan agar kompetisi ini harus elegan dan tidak menjurus kepada kampanye hitam.

“Sudah banyak Pemilu kita lalui,pengaruh agama dan etnis  tetap kuat mempengaruhi masyarakat dalam menentukan hak pilih.  Bahkan tingginya tingkat partisipasi pemilih  sering karena  dorongan keyakinan agama,” sebutnya.

Diamenya kini,  fenomena ini akan berlanjut pada Pemilu mendatang.Secara terpisah, pengajar komunikasi politik Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU)  Joko Susanto mengatakan, politik identitas berupa agama dan etnis diprediksi masih menjadi isu politik laku pada Pilgubsu nanti. “Isu agama dan etnis walau bersifat sensitif, namun menjadi isu yang senantiasa potensial,”sebutnya.

Meski demikian,jangan sampai isu-isu yang bergulir merusak kebhinekaan bangsa.Dia mengatakan, penggunaan isu agama tidak hanya berkaitan dengan Islam tapi juga digunakan oleh kelompok agama-agama lainnya.

Sebab,menurutnya, Islam tidak menjadi agama mayoritas di semua daerah. Di tempat-tempat tertentu Islam merupakan agama minoritas. Selain, agama dan etnis, menurut Joko Susanto,  factor figur dan program  yang  ditawarkan konstestan juga memiliki peran penting dalam menarik simpati masyarakat. Namun, dalam beberapa Pilkada kekuatan program  yang ditawarkan para calon kepala daerah sering diabaikan, bahkan dianggap tidak menarik  sebagian besar  masyarakat.

Disamping itu,  politik uang yang sudah menjadi rahasia umum, menurutnya,memiliki peran mempengaruhi pemilih. “Politik transaksi dan jual beli suara memang sudah menjadi rahasia umum yang lazim terlihat. Masyarakat biasa menyebutnya se-rangan fajar,” bebernya.

Dia berharap politik uang bisa diminimalisir  pada Pilgubsu 2018, sebab, menurutnya,  politik uang  salah satu bahaya laten dalam perhelatan Pilkada.Pengamat politik Universitas Negeri Medan (Unimed), Dr. Tappil Rambe berpendapat, agama memang menjad isalah satu faktor yang dapat mempengaruhi pemilih, tapi di Sumut bukan penentu utama. ”Karakter masyarakat Sumut sedikit berbeda dengan daerah lain, potensi etnis bahkan, lebih dominan dari pada agama kalau di Sumut,” sebutnya.

Disamping itu, lanjutnya,faktor figur dan program kerja memiliki kekuatan  menyakinkan masyarakat. Artinya semua isu berpotensi,  tergantung kelihaian  masing-masing calon meramunya sehingga isu tersebut menjadu sebuah senjata untuk menyakinkan masyarakat,” tegasnya.

Selain itu, media sosial juga memiliki peran mempengaruhi pemilih. Media sosial  panggung  praktis melakukan kampanye politik disamping media massa. Karena itu,Tappil menilai, kompetisi Pilgubsu kali ini  akan berlangsung menarik baik di alam nyata maupun dunia maya.

”Perang strategi antara kandidat akan menjadi hidangan menarik sebelum pemilihan. Saya yakini, masing-masing calon memiliki kelebihan dan kekurangan. Paling utama pelaksanaan Pilgubsu harus bermartabat,  bebas darik ampanye hitam dan tetap menjaga persatuan dan kesatuan bangsa,” demikian Tappil. (m49/K)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here