3 Golongan Yang Tidak Diangkat Shalatnya Oleh Fachrurrozy Pulungan Ketua Forum Komunikasi Lembaga Dakwah Sumut, Sekretaris Dewan Syari’ah AMTI Sumut

0
491

Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu yaitu Alquran dan tegakkanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan-perbuatan keji dan mugkar (QS. al Ankabut: 45)

Allahu Subhanahu Wata’ala memberlakukan suatu syari’at pada manusia, berupa perintah dan larangan tentu ada hikmah (pengajaran) dan makna (nilai) yang menjadi motivasi, dorongan atau penyebab mengapa ke dua hal itu harus dikerjakan dan ditinggalkan. Karena tidak patut bagi Allah yang Maha Rahman dan Maha Rahim, bila Ia memerintahkan dan melarang sesuatu yang tidak memiliki pengajaran dan nilai di dalamya, sehingga berbagai perintah dan larangan itu tidak hanya sekedar dikerjakan.

Shalat misalnya, sebagai salah satu rukun Islam dan tiang agama jika dikerjakan dengan benar dan baik, maka pelakunya (yang menegakkan shalat) pasti terhindar dari setiap pekerjaan yang keji dan mungkar, seperti penjelasan ayat di atas. Namun sayang, kenyataannya ibadah shalat ini banyak dikerjakan sebatas melaksanakan perintah, belum dipahami kandungan nilai dan pesan dari simbol-simbol dari shalat itu, seperti mengapa shalat harus menghadap ke arah Ka’bah, mengapa rukuk, sujud dan lainnya.

Shalat, apabila dikerjakan hanya sekedar menggerak-gerakkan bibir dan melakukan gerakan-gerakan tertentu tapi kosong dari memahami maknanya, tentu tidak efektif untuk mencegah pelakunya dari perbuatan keji dan mungkar. Sebaliknya, bila shalat dikerjakan dengan memahami makna dari setiap ucapan dan gerakan tentu akan memberikan dampak yang sangat positif bagi dirinya, bahkan pada lingkungan di mana ia hidup. Jika shalat yang dikerjakan bisa berdampak positif bagi plakunya di Dunia, juga akan berakibat sangat baik pula nantinya di Akhirat.

Tetapi bila shalat yang dikerjakan tidak berdampak positif kepada dirinya di Dunia bahkan tidak berterima disisi Allah, mana lah mungkin bisa berbuah manis di Akhirat. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam sebuah hadis mengatakan: Ada tiga kelompok orang yang shalatnya tidak terangkat sejengkal pun (syibran) dari atas kepalanya (tidak diterima shalatnya) yaitu; 1). orang yang mengimami suatu kaum tetapi kaum itu membencinya, 2). Istri yang tidur sementara suaminya marah kepadanya (menolak ajakan suami berhubungan), 3). Dua saudara yang saling mendiamkan (memutuskan hubungan silaturrahim) (HR. Ibnu Majah dan Ibnu Hibban dengan derajat shahih).

Para ulama menafsirkan kata tarfi’u shalatahum pada hadis ini adalah “ibadah yang menjadi naungan” bagi dirinya. Shalat seseorang akan menjadi naungan bagi dirinya selama dikerjakan dengan benar dan baik, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, “Tidaklah seorang Muslim kedatangan shalat wajib, kemudian ia membaguskan wudhu’nya, khusyu’nya, rukuknya, sujudnya melainkan hal itu sebagai pelebur dosa-dosanya yang sebelumnya selama ia tidak mengerjakan dosa besar (HR. Bukhari dan Muslim dari Utsman).

Pada hadis yang lain sebagaimana diriwayatkan imam Thabrani dari Abu Hurairah, bahwa orang yang menjaga shalatnya yang lima waktu dengan menjaga wudhu’nya, waktunya, rukuknya, sujudnya dan tidak menguranginya, Allah tidak akan mengazabnya. Betapa ruginya seseorang bila shalat yang ia kerjakan ternyata tidak mampu menghapus dosa-dosanya yang lalu, bahkan tidak diangkat.

Imam yang tidak disukai kaumnya adalah salah satu faktor tidak diangkatnya shalat yang ia kerjakan. Dalam hadis ini, imam yang dimaksud adalah pertama; imam shalat. Jika seseorang mengimami shalat berjamah, padahal ia tidak disukai makmumnya maka shalat si imam tidak diangkat. Namun perihal tidak disukai dalam hal ini menurut para ulama adalah karena tiga faktor. Pertama, sang imam adalah fasik yaitu dalam kesehariannya ia secara sadar melakukan pelanggaran hukum-hukum Allah dan Rasul Nya. Dalam kata lain, ia meyakini akan kebenaran Islam yang dibawa Rasululah, tetapi perbutannya mengingkari akan hal itu.

Alquran menjelaskannya dalam surah Al Baqarah ayat 27: (orang fasik) yaitu orang-orang yang melanggar perjanjian Alllah sesudah perjanjian itu teguh dan memutuskan apa yang Allah perintahkan kepada mereka untuk menghubungkannya, dan membuat kerusakan di muka Bumi. Mereka itulah orang-orang yang merugi. Orang yang  melanggar perjanjian juga berkaitan dengan manusia. Apabila telah terjadi aqad (perjanjian) antara orang perorang, kemudian ia melanggar perjanjiannya, maka orang tersebut termasuk fasik.  Demikian juga orang yang memutuskan hubungan silaturrahim termasuk fasik.

Kedua, tidak disukainya imam shalat karena si imam adalah jahil (bodoh). Ulama mengatakan jahilnya seseorang adalah tidak mau menerima kebenaran, di samping ketidakpahamannya ia akan hukum-hukum dalam membaca Alquran dan termasuk di dalamnya tidak mengetahui rukun, wajib, sunnat, makruh serta yang membatalkan shalat. Dalam kata lain, orang jahil adalah orang yang tidak peduli masalah agama, padahal ia berada di tengah orang yang berilmu dan memungkinkan baginya untuk bertanya tentang hukum agama yang tidak ia ketahui.

Ketiga, imam yang tidak diangkat shalatnya adalah pelaku bid’ah. Pelaku bid’ah yang dimaksud adalah orang yang melakukan perbuatan/amal tanpa dasar, dibuat-buat (mah ahdtsa). Artinya perbuatan yang ia lakukan bertentangan dengan Alquran dan Assunnah, serta pendapat dan perbuatan sahabat dan ijma’ ulama.

Pengertian imam yang kedua adalah pemimpin, baik pemimpin RT, RW, Kepling, lurah, camat, bupati, wali kota, gubernur, presiden—jika ia adalah orang yang fasik, jahil dan pelaku bid’ah, maka shalatnya tidak diangkat dan tidak dapat menaunginya dan melepaskan nya dari siksa Allah SWT.

Shalat seorang yang tidak diangkat adalah “istri yang tidur sedang suaminya dalam keadaan marah”. Bila seorang istri diajak suaminya berhubungan intim tapi ia menolaknya, bahkan ia tidur sementara suaminya dalam keadaan marah (merajuk, murung, uring-uringan) maka shalat si istri tidak diangkat. Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: Apabila seorang suami mengajak istrinya ketempat tidurnya tetapi ia (istri) menolak untuk datang (tidak mau melayani), lalu suaminya tidur semalaman dalam keadaan marah kepadanya, maka wanita itu dilaknat oleh Malaikat sampai Shubuh (Hadis Muttafaqun ‘laih dari Abu Hurairah ra).

Demikian juga hadis yang sama dari Ibnu Umar. Hal ini juga berlaku kepada suami sebagaimana disebutkan imam al Mundzhir ‘wa kadzalika aksu’. Ulama sepakat, bahwa hal yang demikian berlaku jika suami telah memenuhi lima hak istri yaitu, sandang, pangan, perlindungan (tempat tinggal), pendidikan dan perhatian.

Golongan ketiga yang tidak diangkat shalatnya adalah “dua saudara yang saling mendiamkan (memutuskan hubungan)/berkonflik/bertikai”. Baik saudara kandung atau saudara seiman karena semua orang Mukmin adalah bersaudara/al mukminuna ikhwah. Tidak halal bagi seorang Muslim eskete, tidak cakapan (yahjura) saudaranya lebih dari 3 malam (yaitu 3 hari). Mereka berdua bertemu namun yang satu berpaling dan yang lainnya juga berpaling. Dan yang terbaik di antara mereka berdua yaitu yang memulai dengan memberi salam (Hadis Muttafaqun ‘alaih).

Maka walaupun shalatnya banyak (dari shalat israq sampai tahajjud dan witir) dikerjakan setiap hari tetapi semasa hidup mereka bertikai maka shalatnya tidak diangkat (tidak diterima). Bahkan orang yang memutus persaudaraan tidak diterima amalannya dan tidak masuk Surga. Karena itu cobalah periksa diri kita apakah kita adalah orang yang shalatnya tidak diangkat, yang shalat kita tidak bisa menghapus dosa-dosa kita, yang tidak bisa membentengi diri kita. Wallahu a’lam.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here