Isyarat-Isyarat Kearifan Oleh Agusman Damanik, MA

0

Dosen Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam UIN SU, Alumni Pondok Pesantren Modern Alkautsar Karanganom Simalungun.

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, Matahari dan Bulan. Janganlah sembah Matahari maupun Bulan, tapi sembahlah Allah yang menciptakannya, jika ialah yang kamu hendak sembah (QS.Fushshilat: 37)

Rabu malam Kamis 31 Januari 2018 bertepatan dengan 14 Jumadil Awal 1439 H, seluruh Indonesia mengalami gerhana Bulan total yang dimulai pukukl 19.52 dan berakhir pada pukul 21.11 WIB. Dalan perspektif sains, terjadinya gerhana Bulan karena posisi Bumi berada di antara Matahari dan Bulan pada satu garis lurus yang sama, sehingga sinar Matahari tidak dapat mencapai Bulan karena terhalang oleh Bumi.

Jelasnya gerhana Bulan merupakan bagian dari isyarat-isyarat atau tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Allah SWT. Argumentasi yang sahih tentang hal tersebut adalah firman Allah dalam Alqur’an surat Fushshilat ayat 37: dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, Matahari dan Bulan. Janganlah sembah Matahari maupun Bulan, tapi sembahlah Allah yang menciptakannya, jika ialah yang kamu hendak sembah.

Dalam tafsir Al Wadhih yang ditulis oleh Alhijazi pada jilid 46 halaman 344 ditafsirkan ”dari tanda-tanda ayat-ayatNya, argumentasi kekuasaan dan keagungannya serta tanda-tanda keesaanNya, kesempurnaan penciptaaNya adalah adanya malam dan siang, Matahari dan Bulan sebagai bukti dari kekuasaan Allah dan kekuatan iradahNya”. Dengan kata lain Allah hanya mengatakan Kun Fa Yakun (jadilah maka jadilah ia). Sebagaimana firman Allah dalam surat Yasin ayat 81: Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” Maka terjadilah ia.

Namun tentunya Allah SWT melakukan sesuai dengan qudrah dan iradahNya bertujuan menyampaikan pesan-pesan kearifan kepada para hambanya, baik bagi orang yang yakin, orang yang berakal dan bagi yang ulul albab. Pertama, pesan bagi orang yang yakin. Berkaitan pesan-pesan Allah bagi orang yang beriman, Allah telah berfirman dalam Surat Jatsiyah ayat 4: dan pada penciptakan kamu dan pada binatang-binatang yang melata yang bertebaran (di muka Bumi) terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk kaum yang meyakini.   

Azzuhaili dalam Tafsir Al Munîr menafsirkan kalimat meyakini dengan membenarkan (yushaddiqûn) kekuasaan Allah tentang hari kebangkitan (yaumul ba’ats). Dengan kata lain, bahwa berbagai fenomena di Dunia merupakan miniatur Akhirat. Bencana alam berupa banjir, longsor, badai dan lain sebagainya gambaran kecil dari hari kiamat yang luar biasa dahsyatnnya dan telah difirmankan Allah SWT dalam Alqur’an.

Kedua, pesan bagi orang yang berakal. Berkaitan dengan pesan Allah bagi orang berakal, lebih arif kalau kita merenungkan firman Allah dalam surat Al Ghasiyah ayat 17-20: Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana Dia diciptakan, dan Langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan Bumi bagaimana ia dihamparkan?.

Menarik sekali penafsiran dari Alqusyairy dalam kitab Lathâiful Isyârât pada halaman 722 menjelaskan ”bahwa unta memiliki kekhususan yang menunjukkan tentang batas kemampuannya. Dimana unta memiliki punggung yang ragam manfaat, baik itu sebagai tempat bawaan barang, kenderaan dan menikmati susu unta itu sendiri. Selain itu, unta merupakan hewan yang sabar di tengah kehausan yang bersangatan dan punggungnya juga kuat untuk membawa barang yang banyak”.

Dalam konteks pemikiran modern, ditunjukkan oleh Masaru Emoto dari Yokohama National University, Jepang Maret 2005 yang telah melakukan penelitian terhadap air—hasil penelitiaannya air bisa “mendengar” kata-kata, “membuka” tulisan, dan “mengerti” pesan. Hal tersebut ia tuliskan dalam bukunya The Hidden Massage In Water (pesan tersembunyi di dalam air). Selain itu, penelitiannya menyimpulkan bahwa air yang di dalamnya ada suara orang azan, shalat dan mengaji akan berbeda dengan air yang berada di tempat hiburan yang penuh dosa.

Ketiga, pesan bagi ulul albab. Secara umum ulul albab dipahami seorang pemikir atau seorang ilmuwan. Namun ulul albab adalah orang yang memadukan tiga kecerdasan, baik itu kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional maupun kecerdasan spiritual. Tentunya ulul albab selalu memahami bahwa di balik setiap peristiwa ada hikmahnya terutama berbagai musibah yang silih berganti menimpa negeri kita ini.

Lengkapnya profil ulul albab dijelaskan Allah dalan Surat Ali Imran ayat 191: yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan Langit dan Bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Mahasuci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa Neraka.

Karena itu sebagai orang yang yakin akan kebesaran Allah SWT, orang yang memikirkan berbagai ciptaan Allah dan orang yang terpadu dalam dirinya tiga kecerdasan, akan menikmati dan mensyukuri isyarat-isyarat kearifan atau tanda-tanda kekuasaan Allah SWT dalam kehidupan. Wallahu a’lam bi Ashshawab.

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here