Jangan Anggap Remeh Penyerangan Ulama

0

MEDAN (Waspada): Sosiolog Hukum Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU) Dr. Ansari Yamamah, mengatakan peristiwa penyerangan kepada para ulama, tokoh Islam dan pemuka agama lainnya, merupakan persoalan serius yang harus ditangani secara komperhensif. Karena itu pemerintah diharapkan jangan menganggap remeh persoalan ini.

“Penyerangan terhadap tokoh agama diduga kuat bukan sebuah kebetulan. Diduga pelaku hadir untuk merusak kerukunan umat beragama di Indonesia,” kata Dr.Ansari Yamamah, ketika dihubungi Waspada, Senin (12/2). Dia menanggapi maraknya kasus penyerangan terhadap tokoh agama beberapa bulan terakhir ini.

Karena itu, sambungnya penyerangan terhadap ulama dan tokoh agama lain adalah persoalan sangat serius bagi NKRI. Pemerintah tidak boleh menganggap ringan kasus ini. “Saya yakin kasus ini bukan hal kebetulan,” ucapnya.

Karena itu, sambungnya pemerintah harus segera bertindak dan melidungi para ulama dan tokoh agama lain, dari tindakan keji. Ulama dan tokoh agama adalah mitra pemerintah. Karenanya tugas pemerintah melindunginya.

Bahkan, bukan tidak mungkin, menurutnya ada aktor dibelakang kasus ini dengan tujuan ingin mengadu domba antarumat beragama. Bayangkan, dalam sepekan ini telah terjadi penganiayaan terhadap dua orang tokoh Islam Jawa Barat.

Pertama terhadap pimpinan Pondok Pesantren Al Hidayah, Cicalengka, Kab. Bandung Kiai Umar Basri, yang dianiaya usai shalat subuh di Ponpes. Kedua, menimpa Komandan Brigade PP Persis Ustadz Prawoto. Dan yang terakhir peristiwa yang dialami tokoh agama Katolik, di Sleman, Yogyakarta.

Selain itu, Ansari Yamamh, juga merasa heran dengan isu bahwa pelaku penganiayaan adalah orang gila. “Yang masuk ke masjid itu orangorang baik. Orang gila mana mau masjid. Tentu ini menjadi pertanyaan di masyarakat. Pemerintah melalui Polri harus mengusut tuntas kasus ini,” tegasnya.

Kata Ansari, tidak masuk akal, orang gila tau yang mana ulama dan bukan ulama. Ini menimbulkan tanda tanya di benak masyarakat, apa yang sesungguhnya terjadi. Karena itu polisi harus berani mengungkap kasus ini dengan jujur dan transparan, serta dapat menjelaskan kepada publik dengan sebaik-baiknya.

“Jangan sampai kasus ini menyulut permasalahan baru, kondisi saling curiga, merasa terancam dan akhirnya menimbulkan konflik,” tegasnya Apa motif penyerangan di Gereja Santa Lidwina di Kabupaten Sleman dan kasus penyerangan beberapa ulama di Jawa Barat perlu segera diungkap .

Negara wajib menjamin rasa aman bagi setiap pemeluk agama dalam menjalankan ibadahnya. Keselamatan ulama, pendeta dan pemuka agama dan seluruh umat beragama harus jadi perhatian aparat . Ia berharap, pemerintah mengusulkan agar dialog kebangsaan antar berbagai tokoh nasional lintas agama lintas ormas lebih sering dilakukan.

Ia mengingatkan ulang kepada pemerintah, pemuka agama, dan elite ormas-ormas keagamaan, bahwa potret riil kerukunan terletak di tingkat akar rumput.”Kerukunan antarumat beragama tidak cukup hanya dibangun secara simbolikelitis dalam pertemuan antaragama.

Potret kerukunan yang riil dapat dilihat dalam relasi antarumat di level bawah, bukan di atas meja dengan menggelar rapat dan ruangruang seremonial antarpemuka agama,” pungkasnya. (m49/I)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here