Membahas Penempatan Niat Shalat: Khilafiyah ? Oleh dr Arifin S. Siregar

0
19

Niat umrah atau haji ditanamkan di hati di Bir Ali, baru pekerjaan umrah dan “hajinya” setelah di Makkah

Di antara ulama, masih berbeda pendapat, dimana penempatan niat shalat ditasydikkan (digerakkan, ditanamkan, dicamkan) di hati, ketika kita mengerjakan shalat. Ada di antara ulama mengajarkan niat shalat ditanamkan di hati, sebelum mengucapkan takbirraturihram, ada pula ulama mengajarkan ketika kita mengucapkan atau bersamaan dengan ketika kita mengucapkan takbirraturihram, ketika itulah niat shalat kita ditanamkan (dicamkan) di hati.

Ketika masalah ini dilemparkan ke permukaan, untuk dibahas, maka cepat-cepat di antara ulama mencegah dengan membentenginya dengan tuduhan itu khilafiyah, berkomentar: “Jangan dibahas itu, akan menimbulkan perpecahan umat, dimana karena itu adalah masaalah khilafiyah (masalah yang tidak penting, bukan masalah prinsip) atau adalah masalah furu’iyah (ranting-ranting dari ajaran Islam).

Ada pula yang berkomentar, kalau mau dibicarakan atau dibahas, maka bahaslah  di pengajian masing-masing. Timbul pertanyaan: bila dibahas di kelompok pengajian masing-masing, maka sampai kiamat, maka tidak akan diperoleh mana pendapat yang benar, yang ada sandaran hukumnya berlandaskan Alquran, Alhadis dan ilmiah. Karena ustadznya atau ulamanya berpendirian tetap taklid atau berpaku pada pendapat mazhabnya dianggap yang benar, meskipun setelah diperoleh argumentasi yang menyalahkannya. Dan ustadznya membatasi diskusi, apalagi argumentasi ustadnya tertolak, ustadnya tak boleh salah.

Pembahasan Niat Sebelum Takbir

Nabi SAW bersabda: Tiada suatu pekerjaan tanpa niat atau sesuatu perbuatan ditentukan oleh apa niatnya. Dan suatu kenyataan, semua amalan yang diperbuat dengan sadar, dimulai dengan niat. Begitu pula untuk shalat, maka juga tentu harus ada niat.

Ada ulama berpendapat, niat shalat itu digerakkan di hati sebelum mengucap (membaca) takbirraturihram (Allahu Akbar). Argumentasinya: Pertama, setiap pekerjaan harus ada niat. Kedua, tiada shalat tanpa niat. Ketiga, setiap shalat harus dimulai dengan niat di hati: “sengaja aku shalat Shubuh 2 rakaat wajib karena Allah SWT”. Keempat, yang namanya shalat adalah dimulai dengan mengucapkan takbirarraturihram (Allahu Akbar) dengan lidah dan harus diikuti atau disertai dengan membenarkan di hati dan dalam pikiran apa yang diucapkan itu—kita orang Indonesia tentu dengan pengakuan “Allah Yang Maha Besar”.

Kelima, seseorang pergi shalat dari rumahnya ke masjid, tiba-ti ba ditengah jalan ia mati tabrakan, maka ia dinilai telah berpahala, karena dengan keberangkatannya, berarti ia telah berniat shalat. Membuktikan niat dahulu, baru shalat (takbiraturihram). Keenam, tidak ada ibadah yang dikerjakan sebelum niat dilakukan, berarti niat dahulu baru ibadah dikerjakan. Misalnya niat umrah atau haji ditanamkan di hati di Bir Ali, baru pekerjaan umrah dan “hajinya” setelah di Makkah. Ketujuh, Imam Hanafi meletakkan niat shalat yaitu di luar takbiraturihram (sebelum takbiraturihram).

Pembahasan Niat Di Dalam Takbir

Kemudian kita bahas, dimana ada ulama mengajarkan niat shalat itu, ditanamkan di hati. Ketika atau berbarengan saat mengucapkan takbirraturihram (Allah Yang Maha Besar). Cara seperti ini mempunyai kesalahan yaitu: Pertama, ketika dimulai takbirraturihram, bersamaan itu pula mereka gerakkan di hati niat shalat dan harus selesai dicamkan niat itu di hati, barulah takbirraturihram (Allahu Akbar) berhenti. Sehingga takbir itu menjadi panjang. Atau bila niat belum mantap, maka takbir diulangi sampai 1 atau 2 kali, 3 kali.

Kedua, ketika takbir diucapkan dengan bunyi : “Al” (permulaan dari bunyi Allahuakbar), berarti shalat telah dimulai, barulah niat ditanamkan di hati. Jadi berakibat shalat dulu, baru niat. Tentu ini kesalahan besar. Ketiga, niat di hati berbarengan dengan ucapan takbirraturihram oleh lidah mengakibatkan pengakuan hati atas isi niat (sengaja aku shalat Shubuh fardhu 2 rakaat karena Allah ta’ala) dan pengakuan pikiran atas adanya “Allah Yang Maha Besar”, menjadi terganggu kacau. Menjadilah niat dan takbiraturihram berbenturan, tidak khusuk.

Keempat, Allah (Alquran) melarang shalat ketika pikiran tidak khusuk (lihat Asbabul Nujul QS Al-Kafirun). Kelima, membaca takbiraturihram (Allahu Akbar) dengan lidah dan harus diikuti dengan membenarkannya apa yang diucapkan dalam pikiran “Allah Yang Mahabesar”. Jadi kita orang Indonesia, tentu di hati digerakkan (ditanamkan) pengakuan “Allah Yang Mahabesar” sekaligus juga digerakkan (ditanamkan) di hati niat “Sengaja aku shalat Shubuh fardhu 2 rakaat menjadi makmum (ber-imam) karena Allah SWT”.

Hal ini mengacaukan atas pengakuan “Allah yang Maha Besardan niat shalat.

Shalat yang benar harus khusuk. Camkan di hati dan pikiran apa yang diucapkan. Membuat shalat tidak khusuk dengan sengaja dan senantiasa itu terus menerus setiap shalat, ini perbuatan bodoh (merusak shalat). Keenam, yang namanya shalat adalah dimulai dari takbiraturihram dan diakhiri dengan salam. Maka bila niat disebut sebagai rukun shalat (rukun pertama), maka niat harus mendahului takbiraturihram, diikuti rukun ke-2 tak (biraturihram). Berarti niat dahulu baru takbiraturihram. Bila niat di dalam takbiraturihram ditanya rukun pertamanya takbiraturihram, atau niat? Kenyataan disebut (diucapkan dulu “Al” sebagai kata permulaan “Allahu Akbar”, baru ditanamkan di hati niat. Berarti shalat dulu baru niat. Atau rukun pertama takbiraturihram dan rukun ke-2 niat. Inilah kesalahan dari bila niat ditanamkan di hati setelah ketika membaca “Allahu akbar”.

Ketujuh, shalat yang benar harus khusuk. Camkan di hati dan pikiran apa yang diucapkan. Membuat shalat tidak khusuk dengan sengaja dan senantiasa itu terus menerus setiap shalat, ini perbuatan bodoh (merusak shalat). Ada satu Hadis Nabi SAW yang artinya: Gara-gara wudhu’ yang tak beres, maka terhalang orang masuk Surga (shalatnya tertolak). Khusuk dalam shalat mempunyai peranan penting (utama) dalam penilaian oleh Allah SWT misalnya bernilai sempurna, tidak sempurna, atau buruk.

Kesimpulan

Meletakkan niat sebelum takbir, sesuai kebiasaan (kelaziman) cara meletakkan niat untuk semua amalan, dimana niat dulu baru amalan. Meletakkan niat dalam takbir, menyimpang dari kelaziman, dan penuh keburukannya. Kenapa dipaksakan memilih yang tidak lazim yang ada atau penuh mudharatnya (keburukannya), ketimbang yang pasti kebenarannya, atau bagus manfaatnya. Kembalilah pada kebenaran, jangan taklid pada ulama yang salah.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here