Memimpin Dengan Hati Oleh Prof Dr Muzakkir, MA Guru Besar Fakultas Ushuluddin Dan Studi Islam UIN SU

0
100

Ketahuilah, dengan menghadirkan Tuhan dalam dirinya, hati akan menjadi tenang (QS Al-Ra’du: 28)

Spiritual leadership (kepemimpinan spiritual) adalah kepemimpinan yang membawa dimensi keduniawian kepada dimensi spiritual (keilahian/ketuhanan). Tuhan adalah pemimpin sejati yang mengilhami, mempengaruhi, melayani, dan menggerakkan hati nurani hamba-Nya dengan cara yang sangat bijak melalui pendekatan etis dan keteladanan.

Karena itu kepemimpinan spiritual disebut juga sebagai kepemimpinan yang berdasarkan etika religius. Lebih lanjut bisa dikatakan, spiritual leader-apapun aktivitasnya-dipilihnya Tuhan sebagai pimpinan tertinggi dan tujuan bagi kepemimpinannya. Kepemimpinan yang menyadari bahwa tugas dan tanggungjawab yang dipikul akan diminta pertanggungjawabannya kelak di Akhirat.

Allah SWT mengingatkan hal tersebut: pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan member kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan (QS. Yasiin: 65). Rasulullah SAW pun pernah bersabda: Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.

Imam adalah pemimpin yang akan diminta pertanggungjawaban atas rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas keluarganya. Seorang isteri adalah pemimpin di dalam urusan rumah tangga suaminya, dan akan dimintai pertanggungjawaban atas urusan rumah tangga tersebut. Seorang pembantu pun adalah pemimpin dalam urusan harta tuannya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas urusan tanggungjawabnya tersebut (Hadis Dari Abdullah bin Umar Riwayat Bukhari).

Kepemimpinan spiritual adalah kepemimpinan yang sejati dan pemimpin yang sesungguhnya. Dia memimpin dengan etika religius yang mampu membentuk karakter, integritas dan keteladanan luar biasa. Kepemimpinan spiritual bukan hanya sangat rasional, melainkan justru menjernihkan rasionalitas dengan bimbingan hati nuraninya. Adapun karakteristik dari pemimpin spiritual yang sangat dirindukan dan didambakan saat ini adalah sebagai berikut:

1.Kejujuran sejati. Rahasia sukses para pemimpin besar dalam mengemban misinya adalah memegang teguh kejujuran. Orang jujur memiliki integritas dan kepribadian utuh, amanah dan bertanggungjawab. Sifat lain yang bertolakbelakang dari kejujuran adalah kebohongan dan kepura-puraan. Kalau kebohongan biasanya eksplisit diucapkan lewat lisan atau tulisan dan relatif mudah dideteksi, sedangkan kepura-puraan lebih sulit dideteksi tetapi dampaknya bisa jadi lebih parah.

Kepura-puraan adalah tindakan yang dilakukan tidak dengan sepenuh hati yang pasti akan melahirkan kegagalan. Pendidik yang mengajar setengah hati, karyawan yang memberikan layanan setengah hati, dokter yang mengobati pasien dengan setengah hati, bertani setengah hati tidak akan memperoleh hasil kecuali sebuah kegagalan. Kepura-puraan adalah penyakit masyarakat dan bangsa yang sangat berbahaya.

2.Fairness. Pemimpin spiritual mengemban misi sosial untuk menegakkan keadilan di muka bumi, baik adil terhadap diri sendiri, keluarga dan orang lain. Bagi para pemimpin spiritual, menegakkan keadilan bukan sekedar kewajiban moral religius dan tujuan akhir dari sebuah tatanan sosial yang adil, melainkan sekaligus dalam proses dan prosedur (strategi) keberhasilan kepemimpinannya. Seorang pemimpin yang ketahuan tidak berlaku adil terhadap orang lain terutama yang dipimpinnya, maka sia-sialah perkataan, peraturan dan kebijakan yang telah dibuatnya: tidak akan ditaati dan dihormati secara tulus/sukarela.

3.Semangat amal shaleh (berbuat kebajikan). Pemimpin spiritual bekerja karena panggilan dari hati nurani semata mengharap ridha Tuhan. Mengembangkan perilaku etis dalam bekerja melalui pembudayaan rasa syukur, ikhlas, dan sabar mengemban amanahKebanyakan pemimpin suatu lembaga, sebenarnya bekerja bukan untuk orang dan lembaga yang dipimpin, melainkan untuk “keamanan”, “kemapanan” dan “kejayaan” dirinya.

Alquran mengatakan: Ketahuilah, dengan menghadirkan Tuhan dalam dirinya, hati akan menjadi tenang (QS Al-Ra’du: 28). Orientasi hidup seorang spiritualis bukan untuk “memiliki” sesuatu (to have) apakah berupa kekayaan, jabatan, dan simbol kebanggaan duniawi lainnya, melainkan untuk “menjadi” sesuatu (to be). Ia puas ketika dapat memberikan sesuatu dan bukan ketika menerima sesuatu. Pujian dan sanjungan manusia apabila tidak disikapi secara arif justru dapat membahayakan dan mengancam kemurnian dan kualitas karya dan kepribadiannya. Karena itu pujian yang ia harapkan adalah pujian dan keridhoan Tuhan semata.

4. Sedikit bicara, sedikit santai, banyak kerja. Pemimpin spiritual sedikit bicara banyak kerja. Ia lebih mengedepankan pekerjaan efisien dan efektif. Ia sangat menghargai waktu dan berbagai sumberdaya. Banyak bicara banyak salahnya, banyak musuhnya, banyak dosanya serta sedikit kontemplasinya dan sedikit karyanya. Ia paham betul pepatah Arab yang mengatakan qaul hal afshah min lisân al maqal (keteladanan lebih menghunjam dari pada perkataan). Serta hadis dari Abu Hurairah: Barangsiapa beriman kepada Tuhan dan Hari Akhir hendaklah ia berkata yang baik atau diam ( Muslim). Dalam hadis lain: Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat (HR.Ibnu Majah).

5.Keterbukaan menerima perubahan. Pemimpin spiritual memiliki rasa hormat bahkan senang dengan perubahan yang menyentuh diri mereka yang paling dalam sekalipun. Ia sadar kehadirannya memang untuk membawa perubahan ke arah lebih baik. Hati, kepala dan tangannya digunakan berkhidmat dan melayani dalam rangka mencari ridha Tuhan. Nasehat Saidina Ali bin Abi Thalib kepada Malik bin Al-Harits Al-Asytar (Penguasa Mesir 38 H):

“Wahai Malik jadikanlah jabatan, kekuasaan itu sebagai ujian, amanah bukan tuah. Menyadari beratnya tanggung jawab dihadapan Allah, bukan sekedar merasakan”enaknya jadi orang besar.”  Perbendaharaan yang harus kau kumpulkan adalah amal saleh, kerja yang nyata, karya yang monumental yang akan dikenang orang sepanjang masa bahkan ditulis dengan tinta emas. Jangan sibuk mengumpulkan perbendaharaan harta benda dengan cara yang batil, nanti engkau akan diadili rakyatmu. Kendalikan hawa nafsumu, jangan serakah apalagi menghalalkan segala cara. Puasakan dirimu dengan sedikit makan, sedikit tidur, sedikit berbicara tetapi senantiasa banyak berbuat yang terbaik dan nyata. Tahanlah hatimu dari berbuat sesuatu yang tidak boleh kamu lakukan, miliki rasa kebertuhanan, malu, takut berbuat yang salah. Senantiasalah dekat dengan rakyatmu, sehingga engkau melihat dan merasakan derita, jeritan dan tangisan mereka.”

Seorang pemimpin yang memimpin dengan hati akan senantiasa ikhlas menjalankan tugas dan tanggungjawabnya. Ia menjadi teladan bagi siapa saja, ia akan selalu memandang kepemimpinannya sebagai amanah yang harus dilaksanakan penuh tanggung jawab. Karena kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan. Sebaliknya jika seorang pemimpin tidak menggunakan hatinya dalam memimpin, ia hanya memandang sebagai kesempatan yang harus dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kepentingan pribadi dan golongannya.

Pada akhirnya amanah yang dititipkan kepadanya sama sekali tidak membawa kemaslahatan umat, malahan membawa kehancuran. “Apabila amanah telah disia-siakan, maka tunggulah kehancuran. Sahabat bertanya:Bagaimana menyia-siakannya?Rasulullah SAW menjawab: Apabila sesuatu jawatan/pekerjaan diserahkan kepada orang-orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat kehancurannya (HR. Bukhari).

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here