Pakaian Qur’ani Oleh Adnan, S.Kom.I., M.Pd.I Dosen Prodi Bimbingan Konseling Islam (BKI) IAIN Lhokseumawe.

0

Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat (QS. Al-A’raf: 26)

Saat ini industri pakaian terus berkembang pesat. Industri pakaian terus memproduksi berbagai corak, ragam, warna, dan mode pakaian yang menarik, unik, mewah (glamour), dan klasik. Tetapi terkadang perkembangan industri pakaian hanya mempertimbangkan corak, mode, gaya, dan estetika semata, tanpa mempertimbangkan norma dan nilai. Alhasil banyak orang berpakaian indah, megah, trendy, dan mahal, tapi bertentangan dengan norma dan nilai (values) yang berlaku.

Bahkan, terkadang muda-mudi Muslim terjebak pragmatisme berpakaian. Berpakaian hanya mengikuti trendy, dan meniru (imitasi) idola mereka di layar kaca, tanpa mempertimbangkan norma dan nilai. Sehingga banyak muda-mudi Muslim dalam berpakaian melanggar batas-batas nilai agama. Hal tersebut dapat terlihat saat nongkrong, semisal di café, tempat wisata, kantin kampus, dan tempat-tempat keramaian.

Padahal Alquran telah menginformasikan batas-batas dan fungsi-fungsi, serta kegunaan pakaian bagi manusia. Karena hakikat berpakaian bukan sekedar tampil menarik, trendy, dan fashionable, tapi juga bernilai ibadah. Artinya pakaian bukan hanya mengukur aspek fisik dan duniawi semata, tapi juga untuk mengukur aspek psikis dan ukhrawi. Sehingga pakaian dapat mengantarkan seseorang untuk masuk ke surgaNya.

 Standar Pakaian

Berikut beberapa standar pakaian Qur’ani, yakni pertama, menutup aurat (yuwari sau-atikum). Standar utama dalam berpakaian adalah untuk menutupi aurat. Firman Allah SWT: Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat (QS. Al-A’raf: 26). Hal ini menunjukkan bahwa pakaian diturunkan Allah SWT sebagai penutup aurat.

Jumhur Ulama sepakat bahwa aurat laki-laki dari pusar hingga lutut, sedangkan aurat perempuan yakni seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan. Sebab itu, pakaian yang dipakai manusia beriman hendaknya minimal dapat menutupi aurat yang telah ditentukan tersebut. Ketika pakaian seseorang belum menutupi aurat, maka ia belum dianggap berpakaian. Sebab itu, menutupi aurat harus didahulukan daripada mode dan trendy dalam berpakaian.

Kedua, perhiasan (risya). Alquran juga menginformasikan bahwa pakaian bukan sekedar untuk menutupi aurat. Tetapi pakaian juga bagian daripada perhiasan yang diciptakan Allah SWT kepada manusia. Firman Allah SWT dalam surah Al-A’raf: 26.

Sebab itu, dengan berpakaian seseorang akan tampil lebih indah, bersih, percaya diri, dan menunjukkan kehormatan (muruah) diri. Bermakna bahwa Alquran tidak menafikan keberadaan mode dan trendy dalam berpakaian, selama pakaian tersebut dapat menutup aurat dan bukan untuk menyombongkan diri. Sebab itu, pakaian bukan alat untuk menyombongkan diri, tapi untuk terus memperbaiki kualitas pribadi menjadi lebih baik. Artinya, jika pakaian berfungsi untuk perhiasan fisik, maka kesucian hati sebagai pakaian psikis.

Karena itu, jika burung cenderawasih berhias dengan bulunya, badak berhias dengan culanya, harimau berhias dengan belangnya, dan manusia berhias dengan pakaiannya. Untuk itu, pakaian merupakan perhiasan dihadapan Allah SWT dan sesama manusia. Sehingga dengan pakaian tersebut manusia dituntun untuk menjadi lebih baik dan mulia disisi Allah SWT dan sesama manusia. Hal ini menunjukkan bahwa pakaian bukan hanya sekedar simbol-simbol dan identitas dalam kehidupan pribadi dan sosial, tapi juga dijadikan sebagai perhiasan.

Ketiga, keindahan (zinah). Dalam Alquran pakaian pun bukan hanya untuk menutupi aurat dan sebagai perhiasan. Tetapi pakaian juga menunjukkan keindahan; estetika. Sebagaimana firman Allah SWT: Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan (QS. Al-A’raf: 31). Bermakna bahwa aspek keindahan juga patut menjadi perhatian seseorang dalam berpakaian.

Sebab aspek keindahan merupakan fitrah yang diciptakan Allah SWT. Sehingga keindahan harus terus terpelihara pada diri seseorang, termasuk dalam berpakaian. Bahkan, profetik berpesan bahwa Allah SWT itu indah dan menyukai keindahan. Hal ini menunjukkan bahwa estetika dalam ajaran Islam pun tidak luput dari perhatian. Sehingga orang Islam bukanlah orang yang jorok, kotor, berpenampilan asal-asalan, bau, dan lusuh, tapi orang Islam adalah orang yang indah penampilan dan berbudi luhur nan mulia.

Keempat, identitas pribadi. Dalam Alquran diungkapkan bahwa pakaian juga berfungsi menunjukkan identitas pribadi dan sosial. Sebagaimana firman Allah SWT: Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang Mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Mahapengampun lagi Mahapenyayang (QS.Al-Ahzab: 59). Bermakna bahwa pakaian seseorang mencerminkan identitas diri.

Sebab itu, manusia beriman hendaknya berpakaian seperti standar Alquran agar memiliki identitas bagi diri mereka. Dengan pakaian itu akan mudah dikenali dan tidak diganggu orang yang tidak bertanggungjawab. Artinya, pakaian akan menjadi diferensiasi (pembeda) antara Muslim dan non-muslim. Tapi realitas menunjukkan banyak Muslim berpakaian tidak sesuai standar Alquran, sehingga sulit membedakan antara Muslim dan non-muslim. Hal ini menunjukkan banyak Muslim kehilangan identitas dalam berpakaian.

Karena itu seseorang hendaknya terus mempertahankan identitas diri sebagai Muslim dalam berpakaian. Agar mudah dikenali lingkungan dan tidak akan mendapatkan gangguan yang dapat merusak citra diri (image self) sebagai Muslim. Semisal kriminalitas, pemerkosaan, perampokan, dan pembunuhan. Sebab seseorang dapat menjaga kehormatan diri dengan pakaian. Yakni pakaian yang mencerminkan standar yang telah ditetapkan Alquran.

Kelima, menghindari keburukan. Lebih lanjut, pakaian juga berfungsi menghindari seseorang dari berbuat keburukan dan kemaksiatan. Seseorang yang terbuka aurat sangat rentan melakukan keburukan dan kemaksiatan. Setan pun akan lebih mudah mengajak seorang berbuat maksiat saat terbuka auratnya. Maka baginda Nabi Muhammad SAW mengajarkan menutup aurat dalam kondisi dan situasi apapun, termasuk ketika hendak buang hajat. Agar terhindar dari rasukan dan bisiskan Setan. Sebagaimana Nabi Adam as digoda Iblis mencicipi buah khuldi agar nampak auratnya (QS.Al-A’raf: 20-23).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here