Shaf Dan Kebangkitan Umat Islam  Oleh Azhari Akmal Tarigan Staf Pengajar FKM Dan FEBI UINSU

0
62

Berbagai kekuatan yang ingin memadamkan cahaya Allah. Salah satu cara menghadapinya, umat Islam harus merapatkan barisan shalat, barisan politik, barisan ekonomi, barisan budaya. Himpun segala potensi, dipadukan sehingga jadi quwwatun syadid yang meluluhlantakkan kekuatan kafir

Shaf sesungguhnya bukanlah sebatas barisan dalam shalat. Bukan sekedar ucapan imam yang hendak memulai shalat berjama’ah dengan mengatakan, “luruskan dan rapatkan shaf”. Lebih dari itu shaf sesungguhnya filosofi hidup umat Islam. Di samping itu, shaf juga merupakan strategi umat dalam pertarungan global. Dengan demikian, shaf tidak boleh dipandang sederhana apa lagi hanya memosisikannya hanya sebagai barisan dalam shalat berjamaah.

Di dalam Alquran terdapat dua surah, yang akar katanya sama. Shaf dan alshaffat. Shaf merupakan surah yang ke 61, terdiri dari 14 ayat. Sedangkan alshaffat surah ke yang 37 dan terdiri dari 182 ayat. Alshaffat berbicara tentang barisan-barisan Malaikat yang selalu menyerahkan dirinya untuk taat dan patuh kepada segala perintah Allah SWT, walaupun perintah itu tidak mereka pahami dengan baik.

Demikian juga hendaknya manusia, yang senantiasa harus taat dan patuh kepada perintah Allah SWT walau bisa jadi ia juga tak paham maksudnya. Tidaklah mengherankan jika di dalam surah ini Allah memberi contoh langsung sosok Nabi Ibrahim as yang melaksanakan perintah Allah untuk menyembelih anaknya, kendatipun ia tak paham maksud perintah Allah SWT. Bahkan ia juga mengajukan pertanyaan sekaligus memastikan perintah tersebut benar adanya. Intinya adalah, kepatuhan kepada Allah tidak mensyaratkan semua perintahNya. Cukup dengan ketaatan maka kita sudah berada pada barisan Malaikat sebagai makhluk Allah yang taat.

Pada surah al-shaff kembali Allah SWT menegaskan urgensi barisan dalam mengembangkan dakwah Islam ataupun dalam menghadapi kekuatan yang ingin memadamkan sinar agama Allah SWT. Tidaklah mengherankan, pada ayat 4 Allah SWT menegaskan Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalanNya dalam barisan yang teratur, seakan mereka seperti suatu bangunan yang kokoh (bunyanun marshush). Barisan yang teratur (shaf) bukan saja menunjukkan kerapian, ketertiban, kekompakan dan kebersamaan, tetapi di dalam barisan ada pesan kekuatan. Lebih dari itu dalam shaf, kekuatan itu dilipatgandakan Allah SWT. Shaf adalah cara mengundang Allah mengintervensi dan menolong kita dalam perjuangan menegakkan kalimat Allah.

Di dalam membentuk shaf, kedekatan fisik yang dilambangkan bertemunya jari kaki tetap saja penting. Hanya saja kedekatan fisik tak menjelaskan apapun kecuali sebatas terbentuknya shaf atau barisan. Karena itu kedekatan fisik sebagai langkah awal tetap saja penting. Namun jauh lebih penting dari itu adalah bagaimana shaf itu juga dapat mendekatkan kalbu, merendahkannya sehingga mampu merasa apa yang disebut “keumatan”. Umat yang bukan sebatas disatukan kesamaan geografis, suku dan ras. Tetapi umat adalah bertemunya visi kehidupan bersama yang lebih baik di masa depan. Visi tauhid ke tauhid al-ummat (umat yang menyembah Tuhan yang satu dan berdampak pada menjadinya umat yang satu).

Amru Khalid di dalam karyanya Pesona Alquran dalam Mata Rantai Surah (terjemahan) membuat judul sebagai pesan inti surah al-shaff, adalah Urgensi Kesatuan Barisan. Mengapa menyatukan barisan itu penting? Di dalam surah al-Shaff ini ditemukan dua hal penting. Pertama, informasi Alquran yang menjelaskan bagaimana umat Nabi Musa as dan umat Nabi Isa as yang alih-alih mereka merapatkan barisannya dalam komando para Nabi Allah, yang terjadi justru mereka menyakiti Nabi Musa as dan Nabi Isa as (Ayat 5 dan 6).

Nabi-nabi Allah, di samping pembawa risalah tetapi juga merupakan pemimpin. Sebagai pemimpin, nabi berkewajiban membawa umatnya untuk patuh dan taat kepada Allah. Selanjutnya menata kehidupan mereka dan mengarahkannya untuk memeroleh kemakmuran, kesejahteraan dan kebahagiaan hidup di Dunia dan di Akhirat. Semuanya akan mudah pada saat mereka berada dalam komando yang satu dan barisan yang satu pula.

Fakta yang dihadapi Nabi Musa as dan Nabi Isa as tidak demikian. Alquran menginformasikan, Dan Ingatlah ketika Musa Berkata, Ya Kaumku, mengapa kamu menyakitiku, sedang kamu mengetahui bahwa aku adalah utusan Allah kepadamu. Umat nabi Musa tidak mematuhi perintah Nabinya dan akhirnya Allah memalingkan kalbu mereka sehingga kebenaran terasa sangat jauh dan menjadi sulit untuk dijangkau.

Demikian juga dengan Nabi Isa as, ketika ia berkata; Hai Bani Israil, aku adalah utusan Allah kepadamu untuk membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudah datangnya Ahmad. Berbeda dengan umat Nabi Musa as, umat Nabi Isa as malah menyebut Isa sebagai tukan sihir kendati pun Ia membawa al-bayyinat (bukti-bukti yang nyata).

Saat kita perhatikan serius kandungan ayat 8 yang artinya: Mereka ingin memadamkan cahaya (agama) Allah dengan ucapan-ucapan mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci. Lewat ayat ini, Alquran menjelaskan dalam hidup ini hanya ada dua kelompok manusia, yang konsisten memadamkan cahaya (nur) Allah dengan berbagai cara. Kedua, yang berada pada barisan Allah yang akan selalu menghidupkan cahaya Allah. Kendatipun tanpa mereka, Allah kuasa tetap menjadikan cahayaNya bersinar.

Dalam bahasa berbeda, dapat dikatakan di dunia ini tetap ada saja kekuatan yang ingin melemahkan umat Islam, baik dengan cara halus atau kasar. Mereka senantiasa berupaya agar umat Islam tidak menjadi kekuatan Dunia. Sebagaimana umat Nabi Musa as dan Nabi Isa as, mereka tidak ingin diatur berdasarkan syari’at Allah SWT. Bukan lagi menjadi rahasia, saat ini kekuatan global telah mencengkram umat Islam dunia termasuk Indonesia. Hampir semua lini kehidupan, umat ini tidak berdaya. Misalnya sisi politik. Terlepas mau disebut Islam Politik atau Politik Islam, nilai-nilai Islam belum sepenuhnya mewarnai kehidupan politik Indonesia.

Kita setuju, pilihan para pemimpin bangsa adalah NKRI dan Pancasila yang nilainya diisi dengan nilai Islam. Sejak awal tokoh Islam memilih berjuang tidak lewat simbol Islam, kendati sebagian kecil tetap saja ada yang mengusung negara Islam. Sayangnya nilai-nilai itu sekali lagi tidak terwujud dalam kehidupan nyata. Demokrasi tidak lagi penuh hikmat dan kebijaksanaan, melainkan demokrasi liberal.

Di sisi ekonomi. Setelah puluhan tahun merdeka, kemiskinan dan kebodohan menjelma menjadi lingkaran setan. Orang bisa berkata, saat ini akses pendidikan semakin mudah ditopang berbagai kebijakan pemerintah yang meringankan rakyat menempuh pendidikan sampai ke jenjang tertinggi. Namun masalah mendasarnya, pendidikan kita tidak menjawab kebutuhan pasar. Bagaimana menjelaskan tidak adanya hubungan antara pendidikan dengan kesejahteraan masyarakat. Mengapa pendidikan kita semakin baik namun kemiskinan tidak juga beranjak. Apakah ini pilihan kita sendiri terhadap sistem ekonomi kapitalis. Kendatipun ini tidak disepakati. Sistem ekonomi kita adalah ekonomi Pancasila. Sayangnya dalam praktik berekonomi kita yang muncul adalah ekonomi kapitalis.

Umat Islam harus menyadari tantangan masa depan tidak kecil. Berbagai kekuatan yang ingin memadamkan cahaya Allah, siap melemahkan umat Islam. Salah satu cara menghadapinya, umat Islam harus merapikan dan merapatkan barisan. Bukan hanya barisan shalat, tetapi barisan politiknya, barisan ekonominya, barisan budayanya, sehingga menjadi kekuatan tandingan. Umat Islam harus menghimpun segala potensi dan kekuatan yang dimiliki dipadukan dan digandakan, sehingga menjadi quwwatun syadid yang meluluhlantakkan kekuatan kafir.

Kondisi hari ini sudah berbalik. Jika dahulu, Islam harus “menghadapi” kekuatan yang ingin menghancurkan Islam, saat ini Islam harus mengambil posisi “melawan” kekuatan yang ingin memadamkan cahaya Allah. Seberapa kuatkah kita menghadapi kekuatan besar itu? Allah SWT memerintahkan kita mempersiapkan bekal terbaik. Namun kita harus yakin, Allah akan bersama kita. Adalah lebih penting dari itu menegaskan keberpihakan kita. Atau menegaskan afiliasi kita. Sebab itu setelah surah Al-Shaff, kita akan memasuki surah Al-Jumu’ah yang isinya pertanyaan besar Tuhan, di manakah afiliasimu..? Wallahu a’lam bi al-shawab.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here