TAFSIR ALQURAN APLIKATIF Pelajaran Dari Bani Israel (Surah Albaqarah: 211-213) Oleh Dr Faisar A. Arfa, MA

0

Tanyakanlah kepada Bani Israil: “Berapa banyaknya tanda-tanda (kebenaran)yang nyata, yang telah Kami berikan kepada mereka”. Dan barangsiapa yang menukar nikmat Allah setelah datang nikmat itu kepadanya, maka sesungguhnya Allah sangat keras siksa-Nya. Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat. dan Allah memberi reezki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas (QS.Albaqarah: 211-212)

Manusia itu adalah umat yang satu. (setelah timbul perselisihan), Maka Allah SWT mengutus para Nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, Yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkan itu dengan kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.

Kepada bani Israel berapa kali bukti kebenaran ilahiah datang menghampiri mereka melalui beberapa rasul dari kalangan mereka sendiri. Tapi berapa kali pula mereka menukarnya karena tidak memenuhi selera mereka terhadap kenikmatan hidup duniawi. Allah SWT mengancam mereka dekat azab yang pedih. Alquran memberikan illustrasi tentang sikap orang yang sangat loba terhadap kehidupan Dunia sebagai indikator dari sikap kekafiran yang melingkupi hati mereka. Semakin kafir seseorang semakin indah bagi dia kehidupan Dunia ini. Karena dunia ini menjadi standard pencapaian kesuksesan maka mereka cenderung menganggap rendah orang-orang beriman yang bersikap zuhud terhadap kehidupan Dunia.

Sikap merendahkan terhadap orang beriman itu akan berbeda jauh dari kenyataan yang ada di Akhirat nanti. Karena pada hari kiamat nanti orang bertakwa akan berada di atas orang kafir. Ayat ini ditutup Allah dengan sebuah pernyataan bahwa urusan rezeki merupakan hak prerogati-Nya. Karena itu jangan pernah menjadikan urusan rezeki sebagai titik tolak untuk menjadi manusia bertakwa. Karenanya kehidupan Akhirat jauh lebih utama daripada kehidupan duniawi.

Alquran menjelaskan tentang umat manusia sebagai satu kesatuan. Agar mereka paham maksud dan tujuan penciptaan maka Allah membangkitkan para nabi dari kalangan mereka yang bertugas memberikan peringatan baik dan peringatan buruk disertai dengan perintah dan larangan (alkitab). Perselisihan terjadi disebabkan oleh sikap dengki dan iri, padahal kebenaran itu sudah jelas, keuntungan duniawilah yang sering membuat orang menyimpang dari kebenaran. Yang mampu mengambil petunjuk dari Allah hanyalah orang yang tulus dalam beragama.

Dan soal petunjuk lagi-lagi menjadi hak prerogatif Allah. Karena itu tidak usah sedih melihat orang yang menyimpang dari kebenaran. Ada seorang pendeta mengklaim ia memeluk agama tertentu karena terlahir dari keluarga terkait agama tersebut. Ia kemudian memasrahkan diri menerima agama tersebut. Persepsi ini keliru sebab kebenaran sebuah agama tidak ditentukan oleh lingkungan tempat seseorang dilahirkan dan lingkungan yang membesarkannya. Benar tidaknya agama yang dipeluk seseorang sangat ditentukan oleh pencarian yang bersifat personal. Sebab agama adalah soal hubungan pribadi antara seseorang dengan Tuhannya, karena itu ia wajib mencari terus agama mana yang paling benar berdasarkan rasionalitas dan kalbunya.

Begitu juga kebenaran suatu paham keagamaan tidak ditentukan lingkungan keluarga dan organisasi atau aliran mazhab yang dianut keluarga dan lingkungan seseorang. Ia wajib terus menerus mencari dan mempelajari paham mana yang benar menurut dirinya sendiri. Karena itu shirathalmustaqim yang disebutkan pada ayat di atas merupakan petunjuk yang diberikan oleh Allah ta’ala berdasarkan pada pencarian yang dilakukan oleh seorang hambaNya.  .

Sejarah adalah sebaik-baik modal itibar (pelajaran). Allah SWT melimpahkan nikmat materi dan maknawi yang begitu meluap luap kepada bani Israel. Allah telah menganugerahkan seorang pemimpin seperti Nabi Musa as yang menyelamatkan dari perbudakan Firaun. Sepatutnya mereka menyembah Allah yang Maha Esa, malah mereka menyembah anak sapi. Sepatutnya mereka belajar dari Musa, mereka malah berguru kepada Samiri.

Akhirnya mereka mendapat kemurkaan Allah dan mengalami nasib yang sangat pedih akibat ulah perbuatan mereka sendiri di Dunia. Di masa kini meskipun di dunia industri, masyarakat manusia telah memiliki berbagai kenikmatan dan fasilitas yang tak terhitung jumlahnya. Namun karena meninggalkan ajaran-ajaran langit yang diajarkan para Rasul, semua nikmat dan fasilitas tadi digunakan di jalan dosa, kezaliman dan kebinasaan sosial.

Kehidupan Dunia begitu mempesona dan menggiurkan di hati orang orang yang tidak beriman, sehingga membuat mereka mabuk dan sombong. Sebaliknya, orang-orang Mukmin yang tidak tenggelam dengan gebyar gemerlap duniawi, disebut mereka bodoh dan jahil  selalu dijadikan bahan olok-olok. Padahal tolak ukur atau kriteria keunggulan manusia adalah terletak pada nilai-nilai spiritual dan ilahi. Karena keimanan dan ketakwaan-lah yang nanti pada hari Kiamat akan menyelamatkan dan meninggikan manusia, bukan harta dan jabatan serta status duniawi yang kosong dari divine values.

Dari ayat di atas kita dapat memetik beberapa pelajaran bahwa kecintaan kepada Dunia menyebabkan kesombongan diri dan mengecilkan atau menghina orang lain. Sebaliknya, ketakwaan modal kebahagiaan Dunia dan Akhirat serta anugerah-anugerah ilahi yang melimpah.

Ayat ini menyingung soal peran penting agama dan undang-undang Tuhan mengatur masyarakat manusia dan menyatakan pada permulaannya, manusia menjalani kehidupan dengan sangat sederhana dan terbatas. Namun dengan semakin meluasnya manusia dan lahirnya masyarakat secara alamiah, muncullah perselisihan antara rakyat dan memerlukan peraturan dan penguasa yang jelas. Di sinilah para nabi ditugaskan menyelamatkan dan membimbing manusia dan mengadili serta memerintah berlandaskan kepada kitab-kitab samawi.

Kendati para nabi telah banyak menguras tenaga dan usaha untuk menciptakan keamanan dan kestabilan sosial, namun tak sedikit yang menentang dan tidak bersedia menerima kebenaran atas dasar hawa nafsu, fanatisme dan iri hati. Hanya orang Mukmin yang dapat mencapai persatuan dan kedamaian di bawah naungan iman kepada Allah dan kitab samawi-Nya serta meniti jalan kebenaran dan petunjuk. Tetapi orang kafir masih tetap tinggal dalam perselisihan dan konflik karena harta benda yang menjadi sumber kesesatan mereka.

Dari ayat tadi terdapat dua pelajaran yang dapat dipetik bahwa masyarakat membutuhkan undang-undang dan pengelola, dan sebaik-baik undang-undang adalah bersumber dari kalamullah, dan sebaik-baik pemimpin adalah para nabi dan para pemimpin agama. Cara terbaik bagi menyelesaikan perselisihan antara manusia di dalam berbagai persoalan keluarga dan sosial, adalah penerapan syariat Allah.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here