Visi Misi Seorang Muslim Oleh H. Muhammad Nasir Lc, MA.

0
145

Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan (kebahagian) di Dunia dan kebahagian di Akhirat dan peliharalah kami dari siksa Neraka (QS.Al-Baqarah: 201).

Secara sederhana visi diartikan sebagai harapan, cita-cita bahkan tujuan, baik sebagai indivual, kelompok, organisasi atau partai dapat dipastikan ada memiliki visi hidup yang jelas. Bagi seorang Muslim visi lebih dari sekedar harapan tetapi ia diartikan sebagai cita-cita hidup, tujuan hidup setelah mengakhiri kehidupan ini. Karena kehidupan bagi seorang Muslim tidak hanya berakhir ketika di Dunia.

Kehidupan Akhirat bagian dari rukun iman, dan setiap Muslim wajib meyakininya dan mempersiapkan bekal amal saleh dan amal saleh tersebut akan dikonversi menjadi pahala (tsawab). Pahala tersebut telah kita terima panjarnya sewaktu kita hidup di Dunia ini kemudian akan disempurnakan di Akhirat dengan tempat yang kekal abadi (Surga) bersamaan dengan segala macam kenikamatannya.

Sedangkan misi adalah program pokok yang wajib dilaksanakan dalam upaya mewujudkan visi sekaligus merupakan penjabaran dari visi tersebut. Alquran sebagai kitab petunjuk dan pedoman, telah mempertegas baik visi maupun misi hidup seorang Muslim. Dapat dirumuskan lebih kurang visi seorang Muslim adalah: Menjadi pribadi yang beriman yang teguh, berilmu yang luas, beramal saleh serta bertakwa untuk memeraih kebahagian Dunia dan Akhirat.

Ayat yang menjelaskan tentang visi dan misi tersebut sangat banyak diterangkan di dalam Alquran, di antaranya ayat yang selalu baca dibaca dalam doa dan dalam setiap putaran tawaf antara rukun Yamani ada Hajaral Aswad: Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan (kebahagian) di Dunia dan kebahagian di Akhirat dan peliharalah kami dari siksa Neraka (QS.Al-Baqarah: 201).

Tafsiran yang populer dari dua kosa kata fiddunya hasanah dan wa fil Akhirati hasanah adalah “kebahagian di Dunia dan kebahagian di Akhirat”—demikian tafsiran leterik yang kita baca dan kita dengar dari keterangan guru guru dan para muballigh.

Dari penafsiran ini dapat difahami bahwa ayat di atas, menganjurkan kita untuk memiliki visi di Dunia dan visi Akhirat, sehingga secara sederhana dapat difahami Dunia juga menjadi tujuan hidup kita dan Akhirat juga menjadi tujuan hidup. Padahal bila dihubungkan ayat ini dengan firman Allah SWT: Kamu haraplahlah apaapa yang diberikan Allah (di Dunia ini) untuk bekal Akhirat dan jangan kamu lupa bahagianmu di Dunia ini (QS. Alqashas: 77).

Dalam ayat ini difahami bahwa dalam jangka panjang Akhirat adalah sebagai visi hidup sedangkan Dunia sebagai misi untuk mewujudkan cita cita hidup bahagia di alam Surga kekal abadi. Sebab itu, maksud dari dua kosa kata fiddunya hasanah dan wafil akhrati hasanah, ayat 201 surah Albaqarah, adalah: “di Dunia ini mohon ketaatan dan di Akhirat adalah mohon imbalan pahala atau Surga”. Demikian penafsiran yang dikutip dari tafsir Jalalain karya Imam Jalaluddin asSayuthy dan Jalaluddin Almahally.

Dengan demikian maksud dari fiddunya hasanah adalah ‘’ketaatan’’ atau misi seorang Muslim. Kalau pun dapat dikatakan sebagai visi, ia hanya visi jangka pendek, karena kehidupan manusia tidak terbatas di Dunia, tapi hingga Akhirat. Islam mengajarkan ada kehidupan setelah Dunia ini berakhir, yaitu kehidupan di Akhirat yang sifatnya abadi.

Visi seorang Muslim jangka panjang adalah ingin menggapai bahagia Akhirat. Visi yang demikian tidak mungkin dapat tercapai tanpa direalisasikan melalui misi. Adapun misi seorang Muslim di Dunia ini dalam upaya mencapai visinya adalah beriman kepada Allah SWT karena sebaik-baik amal adalah iman kepada Allah SWT. Ketika sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW apakah amal yang paling afdhal? Rasulullah SAW bersabda; katakanlah, saya beriman kepada Allah kemudian istiqamah. Karena beriman kepada Allah syarat mutlak diterimanya amal ibadah setiap hamba-Nya.

Karenanya, amalan orang orang kuffar tidak dapat mereka terima ganjarannya, firman Allah SWT: perumpamaan amalan orang orang kuffar adalah seperti fatamorgana sperti orang yang kehausan melihat bayangan air dari kejauhan, sehingga apabila mereka mendekat, mereka tidak mendapatkan apaapa (QS. Annur 39). Adapun orang-orang yang beriman dan berbuat amal saleh, maka Allah akan menyempurnakan pahala mereka dan menambah untuk mereka sebagian dari karunia-Nya. Adapun orang-orang yang enggan dan menyombongkan diri, maka Allah akan menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih, dan mereka tidaakan memperoleh bagi diri mereka, pelindung dan penolong selain dari pada Allah (QS. An-Nisa: 173).

Berikutnya misi seorang Muslim adal beribadah, karena Tujuan penciptaan manusia adalah untuk beribadah kepada Allah. Firman Allah: Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah (QS.az Zariyat: 56).

Ibadah secara bahasa mempunyai arti ketaatan, pengabdian, kepatuhan atau tunduk dan penghambaan diri kepada Allah. Ibadah menurut Yusuf Qardhawi adalah puncak perendahan diri seseorang manusia yang berkaitan dengan puncak kecintaan kepada Allah SWT. Dan sifat seorang hamba tidak memilki, taat dengan aturan majikanya dan tidak boleh bekerja dengan majikan lain, bila berbuat harus seizin majikannya.

Alakullihal, seorang Muslim wajib mengetahui makna hidup dan tujuan hidup sehingga hidup ini tidak sia-sia. Dan dalam manejemen kehidupan amalan yang dipersiapkan dalam mencapai tujuan Akhirat, dapat dirangkum dalam bentuk visi dan misi kehidupan, yang bimbing oleh Alquran dalam bentuk doa: Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan (kebahagian) di Dunia dan kebahagian di Akhirat dan peliharalah kami dari siksa Neraka (QS.Al-Baqarah: 201). Walllahu’alamu bishshawab.

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here