HAM, HOM, LGBT Di Negeri Syariat Oleh Teuku Rahmad Danil Cotseurani (TRDC)

0
113

Bagi segelintir orang yang membela LGBT maka belalah dengan objektif. Anda sama dengan kami, sama dengan AKBP Untung Sangaji, mungkin caranya berbeda

Hampir semua elemen masyarakat angkat bicara sehubungan dengan isu dan hebohnya penangkapan dan penanganan para wanita pria (Waria/LGBT) di Aceh Utara baru-baru ini. Sebelumnya, Kepolisian Resor Aceh Utara menjadi perhatian publik setelah melakukan razia terhadap para Waria. Mereka ditangkap, digunduli, kemudian “dibina”. Pro kontra selalu ada dan menjadi perbincangan para hangat para warganet dan warga Warkop, di Aceh.

Hampir semua mendukung upaya pak Kapolres tetapi terbelah di level nasional dan internasional ada yg mencibir, nyinyir, tidak mendukung dan melayangkan surat ke Komnas HAM serta pak Kapolri memerintahkan Kapolda Aceh untuk memeriksa pak Kapolres Aceh Utara tersebut.

Tidak ada yang membenci mereka (LGBT), bahwa perilakunya yang menyimpang itu yg salah dari kodrat yang harus diubah. Kita semua yakin jika dalam keluarga kita ada yang bersifat seperti mereka tidak harus dipukul, dipersekusi, dikucilkan tp bisa disembuhkan/dipulihkan. HIV/AIDS dan kusta (budok,bahasa Aceh) bisa disembuhkan. Orang zaman mengucilkan merka yang terkena wabah penyakit tersebut. Padahal tidak harus mereka dikucilkan dengan minum obat teratur dari rumah sakit dan Puskesmas mereka sembuh. Sekali lagi jangan persekusi atau cemooh, awak medispun harus melayani dengan baik dan humanis.

Bagi kita yang menolak perilaku LGBT bila terhalang dengan Undang-undang (UU) tentang HAM (Hak Asasi Manusia) maka tidak perlu cemas. Karena kita punya UU HOM (Hak Orang Muslim) yang itu melekat dengan keseharian dan keyakinan kita. Mungkin perdebatannya cara melegalisasi HOM tersebut. Ini akan menjadi PR bagi para pakar hukum dan pakar agama serta seluruh masyarakat Aceh. Salah satu aturan dalam HOM yaitu mendukung penuh bila ada orang, institusi, organisasi, kelompok atau komunitas yang menyeru pada kebaikan dan melawan kejahatan.

Dalam Fikih Islam, kita mengenal khunsa, LGBT bukan khunsa. Kalau LGBT disebutkan dalam fikih mutaannisan atau mutarra jjilan. Laki-laki yang menyerupai perempuan atau perempuan menyerupai laki-laki. Khunsa dalam fiqah terbagi dua, khunsa waduh dan khunsa musykil. Khunsa waduh dia tahu di saat dirinya laki-laki dan  perempuan. Adapun khunsa musykil dia sendiri tidak tahu apakah dia sedang menjadi laki-laki atau perempuan. Mengenai kelaminnya satu pendapat dia punya dua kelamin. Di masa mereka perempuan akan aktif yang perempuan, begitu juga di masa mereka laki-laki. Satu pendapat kelamin tetap satu tapi berubah-ubah di saat mereka berubah jenis lali-laki atau perempuan. Khunsa adalah kodrat atau takdir sementara LGBT orang yang melawan kodrat .Wajib setiap orangtua memperhatikan anaknya disaat kecil dan mengubah hobinya bila bertentangan dengan kodratnya. LGBT bukan khunsa.

Para LGBT sah-sah saja minta perlindungan HAM karena terpenuhinya unsur yaitu mereka/LGBT itu manusia. Perilaku menyimpang mereka bukan hanya merugikan dirinya tetapi juga merugikan orang banyak dan tercemarnya lingkungan sosial ketika mereka membentuk komunitas. Bila membahas tentang perilaku LGBT ini nyaris tidak ada yg positif, mulai dari melawan kodrat, mempengaruhi orang lain agar berperilaku sama dengannya, menolak bereproduksi. Artinya sesama jenis tidak mungkin mereka melahirkan anak, membentuk komunitas eksklusif dengan cara merekrut anggota/memperbesar jaringan sangat masif dan tentunya hal negatif paling utama adalah menentang secara nyata-nyata hukum Islam.

Mungkin di belahan negeri lain LGBT masih dianggap sesuatu yang biasa saja. Tetapi untuk Aceh yang masyarakatnya 100% Muslim ini jelas melanggar, melawan dan merendahkan ajaran Islam,  ditambah dengan berlakunya kekhususan di Aceh yang itu diaktualisasikan melalui UU Syari’at Islam. Bahkan Aceh memiliki Polisi Syari’ah atau sering disebut Wilayatul Hisbah.

Apa yang telah dilakukan oleh Kapolres Aceh Utara AKBP Ir Untung Sangaji dalam menangani virus/wabah LGBT mestinya diapresiasi dan dijadikan rule model cara menangani, mengantisipasi lalu merehabilitasi para LGBT. Beliau melakukan itu bukan atas dendam dan kemarahan tetapi dengan niat tulus sebagai seorang aparatur penegak hukum di wilayahnya. Ini dapat dibuktikan hasil rehabilitasi cepat dimana para LGBT yang ditangkap mereka seperti mendapatkan tra ining dalam 3 hari mereka sudah bisa menghilangkan suara kemayunya, potongan rambutnya dan gayanya. Bahkan mereka terlihat macho dengan kepalan tangan yang biasanya dilakukan oleh para demonstran.

Bagi segelintir orang yang ingin membela LGBT maka belalah dengan objektif. Anda itu sama dengan kami, sama dengan AKBP Untung Sangaji, mungkin caranya saja yang sedikit berbeda dalam menyayangi para Korban LGBT ini. Anda membela dengan subjektivitas, AKBP Untung Sangaji menyelamatkan mereka denga tindakan dan langkah-lanhkah cepat, tepat dan efektif,  dengan sedikit shock therapy dan olahraga maskulin. Mungkin bagi Anda yang kemayu akan terasa berat, tetapi mengingat virus LGBT ini mulai menulari hingga ke pelosok-pelosok kampung kami, bahkan sudah banyak fakta kerusakan itu. Di sini kami berharap Anda bisa memahami dan jangan buka front lebih luas lagi karena pasti Anda akan berhadapan denga arus besar umat Muslim.

Mereka para pendukung dan pejuang HAM dan LGBT terus menyorot pelaksanaan syariah Islam di Aceh. Terbukti proses cambuk terhadap dua pelaku LGBT terdahulu menjadi perhatian Dunia. Bagi mereka Qanun Jinayat atau pidana Islam No. 6 tahun 2014 dianggap iseng dan tidak mereka terima terhadap perilaku zina termasuk LGBT. Ternyata hukum Qanun untuk kaum LGBT bersifat massif, mereka blusukan untuk menyisir pintu-pintu kamar terduga gay atau lesbian, bahkan salon-salon yang menjadi tempat kerja mereka. Tempat di mana mereka mencari uang untuk menafkahi hidupnya. Mereka diperlakukan layaknya kriminal atau pengedar Narkoba, begitu klaim mereka. “Kitab suci” mereka adalah KUHP, “KUHP dan RUU-KUHP hanya melarang persetubuhan sejenis kelamin antara orang dewasa dengan orang belum dewasa (Pasal 292 KUHP) atau orang belum berumur 18 tahun (Pasal 492 RUU-KUHP).

Bahwa ternyata memang dalam KUHP tidak ada larangan untuk dua laki-laki dewasa berhubungan sejenis. Tapi yang diprotes adalah, bagaimana kalau laki-laki dewasa dan tidak cukup umur berhubungan atau dua-duanya tidak cukup umur. Keberatan mereka juga kenapa pemerintah pusat memberikan keistimewaan pada Aceh membuat undang-undang yang tidak sinergi dengan KUHP bahkan bertentangan dengan Convention Against Torture milik Perserikatan Bangsa-Bangsa, nah?

Kitapun bisa menggunakan hak konstitusional, hak asasi kami, hak menjaga harmonisasi, hak kesehatan, hak hidup normal anak-anak kita. Hak kedaulatan dan hak kita untuk melindungi negeri tumpah darah kita agar tidak menjadii negeri yang lemah dan kemayu. Karena gaya kemayu juga akan menurunkan derajat diplomasi dan negosiasi kita di mata internasional.

Melalui tulisan ini kita meminta lemerintah, institusi kepolisian, Komnas HAM dan pemangku kepentingan lainnya untuk objektif dan realistis. Tindakan tepat sasaran yang dilakukan AKBP Untung Sangaji telah memenuhi rasa keadilan kami yang juga warga negara Indonesia. Melalui tulisan ini bila boleh kami sedikit optimis dengan kehadiran sosok AKBP Untung Sangaji yang berani menjadi martir untuk rakyat dan kebaikan/kemaslahatan umat maka jangan lukai hati kami. Di saat mayoritas pejabat sibuk menyelamatkan jabatan dan uangnya muncul sosok Untung Sangaji berani melawan arus pragmatisme yang begitu membumi. Maka kami katakan jangan korbankan Beliau untuk hasrat atau ketakutan Anda pada kepentingan sekelompok kecil gerakan pelemahan negara berkembang dengan isu-isu HAM dan lain-lain. Kita punya kebhinekaan dan kearifan lokal yang harus dipertahankan bersama-sama.

Kepada oknum politisi dan elit negeri ini mohon jangan dijadikan ini sebagai komoditi politik Anda. Karena kami sedang membenahi daerah ini yang sedang dalam kondisi multikrisis. Kita sedang berupaya bangkit dan harus menjadi bangsa yang tangguh dengan perilaku macho bukan perilaku kemayu/LGBT. Karena kita takutkan bila ini mewabah bisa mengubah pula perilaku pemimpin-pemimpin kita (ekseku tif, legislatif dan yudikatif) menjadi kemayu pula dan lahirlah regulasi LGBT yang tidak pernah bisa atau maksimal diterapkan.

Masyarakat Aceh Utara pada khususnya dan Aceh pada umumnya memberikan ucapan salut dan hormat kapada AKBP Ir Untung Sangaji. Lanjutkan usahamu kami dan rakyat Aceh bersama Anda. Semoga kita tidak menegakkan syariah Islam dengan menutup mata kita sebelah. Atau terlalu semangat menegakkan sesuatu tanpa memikirkan bahwa syariah harus tetap memegang prinsip fairness. Bahwa kaum LGBT itu bisa disembuhkan dan merangkul mereka dengan menunjukan sayang kita sebagai saudara dengan rangkulan yang benar. Mari!

Penulis adalah Pegawai PDAM Tirta Krueng Meureudu, Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Banda Aceh, Lhokseumawe Dan Pidie Jaya.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here