Komunisme Dalam Pemilu Malaysia Oleh Dr Warjio

0
62

Walaupun aktivis UMNO berusaha “mengembalikan” ingatan rakyat akan bahaya komunis, menjelang Pemilu tetapi dukungan orang Melayu khususnya, tidak berkurangan

Fenomena kemunculan orang gila–yang dikaitkan dengan kebangkitan Partai Komunis Indonesia (PKI) menjelang Pilkada 2018 dan Pemilu 2019 cukup menyita perhatian kita. Salah satu televisi swasta, TV One dalam acara Indonesia Lawyers Club (ILC) malah mengangkat isu ini dalam fokus diskusinya.

Sebagaimana yang kita ketahui, seorang ulama yang baru selesai shalat Shubuh diserang oleh orang– yang menurut pernyataan pihak kepolisian penyerang tersebut adalah orang gila. Di media sosial, berita tertangkapnya orang gila yang akan menyerang ulama juga marak. Fenomena apakah ini? Bagaimana kebenaran berita tersebut? Mengapa ketika akan dilaksanakan Pemilu berita seperti ini muncul? Pertanyaan-pertanyaan tersebut masih menjadi pertanyaan yang belum terjawab.

Saya kira ini sebuah fenomena yang menarik, ketika kita membicarakan politik–terutama Pemilu ia dikaitkan dengan partai komunis. Hal yang menarik, ternyata itu bukan saja terjadi di Indonesia tetapi juga di Malaysia. Hasil penelitian yang saya lakukan, realitas sedemikian juga terjadi pada Pemilu tahun 1969. Menariknya, jika di Indonesia partai Islam diasosiasikan kontra dengan partai komunis di Malaysia dalam Pemilu 1969 justru sebaliknya. Partai Islam SeMalaysia (PAS) justeru dianggap mendukung atau berafilisasi dengan partai komunis. Mengapa terjadi demikian?

Pemilu 1969: Komunisme Sebuah Ancaman

Sebagaimana dicatat R.K. Vasil, pertengahan tahun 1965 sampai dengan Pemilu 1969, merupakan periode revitalisasi partai PAS untuk mendapatkan banyak dukungan. Hal ini disebabkan daerah maupun negeri yang selama ini “sumber” suara PAS, seperti Kelantan, Trengganu, Kedah, Perlis, yang mayoritasnya adalah Melayu, banyak mengalami masalah sosial. Di Penang misalnya, di tahun 1967 terjadi kerusuhan etnik antara Melayu dan China. Di samping itu taktik Perikatan yang dinakodai UMNO mulai mengaitkan PAS mempunyai hubungan dengan Partai Komunis Malaya (PKM) di perbatasan Selatan Thailand.

Sebagaimana yang diketahui, Pemerintah Malaysia yang dinakodai oleh Perikatan, telah mengeluarkan kertas putih (white paper) yang menjelaskan tentang bahaya Komunisme dalam satu bagian yang berjudul “Eksploitasi Suara/masa Melayu”. Kenyataan pemerintah Perikatan melalui kertas putih ini, oleh pihak aktivis politik ditanggapi sebagai usaha pihak pemerintah untuk mengalihkan pandangan rakyat terhadap pemerintah dari kegagalan menangani masalah sosial, ekonomi, dan politik untuk mencari simpati dan dukungan dalam politiknya. Menarik dan melibatkan PAS dalam isu Komunisme ini, berarti menarik simpati pendukung PAS untuk mendukung Pemerintah Perikatan, khususnya UMNO. Sebab pemerintah tahu, isu “keterlibatan” PAS dalam konfrontasi antara Malaysia dan Indonesia, yang juga dikaitkan dengan isu Komunis, telah menyebabkan PAS kehilangan pengaruh dalam Pemilu 1964.

UMNO juga tahu bahwa menggunakan isu komunisme akan merusak harapan pendukung PAS yang memang sangat tidak suka terhadap isu yang mengaitkan agama dan etnik. Isu Komunis inilah yang kemudian selalu dijadikan topik pembicaraan aktivis-aktivis UMNO ketika mengadakan kunjungan ke daerah-daerah, khususnya di wilayah Pantai Timur, tempat perebutan pendukung antara PAS dan UMNO, karena di daerah ini mayoritasnya adalah orang Melayu.

Dalam pertengahan bulan April 1969, satu bulan sebelum Pemilu berlangsung, Menteri Penerangan dan Penyiaran, yang juga pemimpin kanan UMNO, Senu Bin Abdul Rahman ketika mengadakan perjalanan ke Kelantan menyatakan bahwa Komunis telah “memasuki kampung” perbatasan. Lebih dari itu, saat Pemilu berlangsung pihak UMNO justru menuduh PAS bahwa pihak komunis telah melibatkan diri dan membantu bagi calon-calon PAS yang akan bertanding, khususnya di Negeri Kelantan. UMNO mengambil kesempatan ini berdasarkan laporan sebuah surat kabar Hongkong, The Star.

Walaupun aktivis-aktivis UMNO berusaha “mengembalikan” ingatan rakyat akan bahaya komunis, menjelang Pemilu tetapi dukungan orang Melayu khususnya, tidak berkurangan. Buktinya PAS telah memperoleh suara suara yang cukup berkasusan. Walaupun jumlah kursi Dewan Rakyat yang dimenangi oleh PAS dalam pemilu 1969 hanya 11% dari jumlah semua kursi dewan rakyat (DPR) di Malaysia Barat kursi Dewan undangan negeri (DPRD) diperolehi oleh PAS hanya sebanyak 14% dari keseluruhan dewan undangan negeri di Malasyia Barat.  Namun tidak ada dapat menyangkal bahwa Pemilu 1969 ini merupakan satu kejayaan bagi PAS. Sebagai perbandingan, dalam Pemilu 1959 PAS juga mencatatkan sejarah yang menggembirakan dengan memperoleh kemenangan 13 kursi Dewan Rakyat (DPR) dan 42 kursi Dewan Undangan Negeri-Negeri (DPRD). Sedangkan dalam pemilu 1964 PAS hanya mendapat sembilan kursi Dewan Rakya (DPR)t dan 25 kursi Dewan Undangan Negeri (DPRD).

Kejayaan PAS ini sebagaimana diakui oleh Muhammad Asri, dapat dinilai dalam dua hal. Pertama, persentase suara yang diperolehi PAS, dan yang kedua melebarnya pengaruh PAS dari pantai timur ke pantai Barat Malaysia. Dari persentasesuara yang didapati oleh PAS dalam Pemilu 1969 nyata bahwa PAS telah memperoleh angka suara lebih dari setengah juta suara. Ini merupakan separuh dari jumlah orang Melayu yang keluar memberikan suaranya. Di negeri-negeri Melayu seperti Kelantan, Trengganu, justru PAS lebih unggul dari UMNO. Sebagai contoh perbedaan suara PAS dan UMNO-Perikatan dalam persaingan pemilu di negeri Trengganu dan Perlis.

Di Trengganu, PAS mendapat sebanyak 61.619 suara berbanding UMNO-Perikatan yang hanya 59,384 suara. Pendekatan PAS dengan penuh percaya diri di Trengganu dengan program-programnya yang lebih merakyat dan sesuai dengan keperluan; seperti masalah jalan raya kemudahan umum, kesehatan umum, masalah agama dan politik, mendatangkan simpati dan pengaruh yang baikterhadap PAS. Dengan semboyan untuk agama, bangsa dan tanah air, PAS berhasil mengajak rakyat Trengganu untuk mencoblos gambar “Bulan Bintang”, simbol PAS dalam Pemilu 1969. Demikian juga di Perlis, calon PAS, Hussein Abdul Rahman, menang di daerah Arau dengan mendapat 18,201 suara. Di Kelantan PAS berhasil mendapat enam kursi Dewan Rakyat (PDR) dan 19 Dewan Undangan Negeri (DPRD). Dengan kemenangan ini PAS sekali lagi telah berjaya mendirikan pemerintahnya di Kelantan setelah memperolehi kemenangan buat ketiga kalinya (pertama 1959, dengan Tuan Haji Ishak Lotfi mengetuai pemerintah selaku Menteri Besar dan kali kedua dalam pemilu 1964 yang diketuai Hj. Muhamad Asri dan dilantik menjadi Menteri Besar.

PAS & Partai komunis

Walaupun Perikatan menghembuskan isu komunisme terhadap PAS dengan partai komunis Malaysia (PKM) realitasnya justru PAS mendapat dukungan dalam Pemilu 1969. Kemenangan PAS di Kelantan untuk ketiga kali ini merupakan bentuk dukungan yang masih tetap kuat rakyat Kelantan terhadap PAS.Walaupun UMNO-Perikatan Kelantan banyak memberi janji kepada rakyat. Ketika mengadakan kampanye di Kelantan ini, UMNO menjanjikan akan membantu pendidikan, perahu-perahu bagi nelayan, tempat tinggal dengan harga murah.

Di samping itu UMNO juga menjanjikan akan membangun masjid, tempat ibadah agama lain, sekolah-sekolah agama lebih dari 10 juta dolar AS. Di samping itu UMNO juga akan membangun rumah sakit dan klinik seharga lima juta dolar AS. UMNO juga menjanjikan akan membangun Islam di Kelantan, lebih dari yang dibuat oleh PAS. Mohammad Asri sendiri, salah seorang aktivis PAS Kelantan menganggap janji UMNO itu sebagai pencitraan politik saja. Dari sudut bertambah melebarnya pengaruh PAS, tidaklah dapat dinafikan bahwa PAS sudahpun mendapat tempat di negeri-negeri pantai Barat Malaysia Barat.

Negeri Kelantan yang pada mulanya kubu kuat UMNO-Perikatan dalam Pemilu 1969 hampir-hampir dikuasai oleh PAS, dimana PAS telah merebut delapan kursi Dewan Undangan Negeri (DPR); daerah Langgar Limbung atas nama Abu Bakar Umar; daerah Tunjung atas nama Ismail Hanafi; di Daerah Pokok Sena atas nama Haji Hussein; Kota Setar Barar atas nama Esamuddin Ahmad; daerah Kongkong Bukit Raya atas nama Ismail Kassim, daerah Sik Gurun atas nama Harun Jusoh dan daerah Sala atas nama Ahmad Shukri Haji Abdul Shukur.Tiga kursi Dewan Rakyat (DPR), tiga pimpinan UMNO telah dikalahkan. Dimana Dato’ Abu Bakar Umar, mengalahkan Dato Senu Abdul Rahman di daerah Kubang Pasu, Ustadz Mawardi bin Lebai mengalahkan Dato Zahir Ismail, di Kota Setar Utara, dan Haji Yusuf Rawa mengalahkan Mahathir Muhammad. Kejayaan ini telah memberikan satu jawaban bahwa PAS telah muncul sebagai satu partai oposisi yang kuat dalam Pemilu 1969.

Kejayaan PAS dalam Pemilu 1969, sebenarnya juga tidak dapat dinafikan bahwa peran partai-partai politik oposisi seperti  DAP, Gerakan, PRM sangat membantu di dalam mewujudkan kemenangan PAS. Kerjasama PAS dan DAP misalnya, DAP membantu calon-calon PAS yang bertanding, khususnya di negeri Trengganu dan Kelantan. Kerjasama antara partai oposisi lain yaitu antara DNP dan Gerakan, sebagaimana yang diakui Ten Chee Khoon, Presiden Partai Gerakan. Menurut Tan Chee Khoon, waktu itu Goh Guan (dari DAP) menawarkan Tan Chee Khoon Wakil Perdana Menteri Besar, ketika partai Gerakan menang di Selangor.

Kerjasama antara partai oposisi ini dapat dimengerti. Sebagaimana diketahui UMNO-Perikatan merupakan “musuh bersama” yang harus dikalahkan dalam Pemilu 1969. UMNO-Perikatan dianggap gagal dan menyebabkan rakyat terperosok dalam masalah ekonomi, sosial yang berlarutan yang menyebabkan negara dalam keadaan sakit. Di samping itu, secara politik UMNO-Perikatan telah “memasung” rakyat, khususnya partai-partai oposisi. Kerjasama antara partai oposisi inilah, sebagaimana diakui oleh Tunku Abdul Rahman, yang menyebabkan UMNO-Perikatan suaranya merosot tajam.

Penulis adalah Ketua Prodi Ilmu Politik, FISIP USU.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here