Mengapa Ada Ritual Budaya Non Islam ?

0
511
Ritual prosesi peletakan batu pertama gedung kampus Akademi Komunitas Negeri (AKN) Pijay dilakukan sejumlah perempuan berpakaian warna biru dongker, Senin (12/2). Waspada/Ist
Ritual prosesi peletakan batu pertama gedung kampus Akademi Komunitas Negeri (AKN) Pijay dilakukan sejumlah perempuan berpakaian warna biru dongker, Senin (12/2). Waspada/Ist

Upacara peletakan batu pertama pembangunan gedung Kampus Akademi Komunitas Negeri (AKN) Pidie Jaya, Senin (12/2) menuai pro dan kontra masyarakat Aceh, khususnya Pidie Jaya dan Pidie.

Kondisi itu disebabkan masuknya unsure ritual dan budaya non Islam.Padahal, saat acara seremonial itu berlangsung tidak ada tanda munculnya polimik tersebut. Malahan langit di atas Pidie Jaya (Pijay) Provinsi Aceh, kala itu terlihat begitu cerah, dan indah diselimuti awan putih kebiru-biruan.

Ratusan warga dengan antusias datang ke lokasi pembangunan kampus di perbukitan Gampong Baro, Kemukiman Ulee Gle, Kecamatan Bandar Dua itu, untuk menyaksikan langsung prosesi pembangunan gedung kampus AKN Pijay yang nantinya diharapkan dapat menjadi kampus kebanggaan daerah mereka.

Tapi apa lacur, mereka (warga-red) kecewa karena suguhan budaya non Islam diselipkan pada acara prosesi pembangunan gedung kampus bantuan Yayasan Budha Tzu Chi tersebut.

Sebelumnya di lokasi pembangunan gedung kampus AKN Pijay, para panitia terlihat sibuk mempersiapkan berbagai keperluan dan persiapan proses peletakan batu pertama pembangunan gedung kampus tersebut.

Apalagi kegiatan itu dihadiri Bupati Pidie Jaya H Ayub Abbas, Wabup Pidie Jaya H Said Mulyadi. MSi, unsur Muspida, alim ulama serta tokoh masyarakat Pijay dan rombongan dari pengurus Yayasan Budha Tzu Chi.

Begitu Bupati Pidie Jaya bersama rombongan tiba di lokasi, acarapun dimulai layaknya acara-acara seremonial biasa,hingga berakhir sukses.  Akan tetapi pro dan kontra acara prosesi peletakan batu pertama bangunan gedung kampus AKN,itu muncul di Medsos.

Banyak warga net mayoritas asal Pidie Jaya (Pijay) menuliskan status di Face Book (FB) mereka, tentang  acara prosesi peletakan batu pertama pembangunan kampus Akademi Komunitas Negeri (AKN), yang dinilai tak lazim karena mengizinkan dimasukannya unsur ritual ajaran agama lain selain ajaran Islam.

Zuhkri Mauluddinsyah,salah seorang tokoh muda Pidie Jaya, menilai munculnya pendapat pro-kontra di masyarakat Aceh, khususnya Pidie Jaya dan Pidie, itu tidak terlepas dari persoalan politik hari ini di Pidie Jaya.

Saat ini daerah itu sedang dalam tahapan Pilkada memilih bupati dan wakil bupati Pidie Jaya. Pada Pilkada tersebut ada beberapa pangan calon bupati/wakil bupati Pidie Jaya yang muncul, salah satunya pasangan Petahana H. Ayub Abbas- H Said Mulyadi M.Si. Diduga kondisi ini, kemudian dijadikan oleh beberapa oknum masyarakat aksi protes melalui media sosial sehingga berkembang menjadi viral.

Dilihat dari track record Yayasan Budha Tzu Chi, terlibat dalam membantu membangun Aceh selama ini tidak ada persoalan. Misal pasca tsunami Aceh 26 Desember 2014, yayasan ini juga pernah membangun rumah layak huni di Pante Riek Lueng Bata, Banda Aceh.

Ketika itu banyak warga Aceh korban tsunami yang menghuni rumah bantuan Budha Tzu Chi. Namun hingga kini warga Aceh mayoritas korban bencana tsunami yang tinggal di komplek perumahan Pante Riek itu tetap istiqomah dalam akidah Islam.

“Karena menurut saya, bantuan yang diberikan mereka itu bersifat kemanusiaan. Hanya nama yayasannya saja Budha Tzu Chi. Jadi muncul bermacam-macam prasangka,” kata Zuhkri.

Begitupun dengan pembangunan gedung kampus AKN di Pidie Jaya. Menurut mantan Ketua KNPI Pidie periode 2015-2017, itu pada awalnya tidak adap ersoalan. Namun kemudian menjadi viral karena ada masuk unsur ritual China yang dinilai tidak sesuai Syariat Islam.  Apalagi sebagian dari rombongan dari pengurus Yayasan Budha Tzu Chi yang hadir di lokasi itu,terkesan tidak menghormati budaya umat Islam.

Sebab sebagian diantara mereka yang perempuan mengenakan celana ketat dan tidak menutup kepala (kerudung/jilbab). Sementara di lokasi itu hadir sejumlah pemuka agama Islam serta pemimpin daerah yang sangat mereka hormati

.“Namun terlepas dari itu semua, warga kecewa karena dalam prosesi peletakan batu pertama pembangunan kampus dilakukan dengan memasukkan unsur semacam ritual budaya China. Itu yang menurut saya tidak bisa diterima warga setempat,” kata Zuhkri.

Padahal, lanjut Zuhkri pada peletakan batu pertama tersebut juga dilakukan ritual sepert itepung tawar, pengajian ayat suci Alquran. Pun begitu Zuhkr iberharap kepada masyarakat Aceh, khususnya Pidie dan Pidie Jaya untuk tidak memolitisir persoalan ini, mengingat saat ini kondisi Pidie Jaya sedang dalam tahapan Pilkada.

Dikhawatirkan jika persoalan ini terus digenjot akan berdampak buruk terhadap terjadinya konflik horizontal. “Jadi kami berharap kepada pemuda, para tokoh agama dan seluruh masyarakat,khususnya Pidie Jaya agar dapat menahan diri dan mari kita sama-sama melakukan kajian ke arah positif,” ujar Zuhkri.

Seraya melanjutkan adanya isu yang mengatakan bahwa kampus AKN Pijay akan melahirkan komunis-komunis, sama sekali tidak benar. Karena kampus itu nantinya di bawah pengawasan Dikti dan dikelola pemerintah Indonesia.

Kampus AKN Pijay tersebut,akan mendidik anak-anak Aceh,khususnya Pidie Jaya menjadi sarjana muda yang cerdas dan ahli di bidangnya masing-masing.

Menyusul adanya budaya ritual China yang masuk dalam unsur prosesi peletakan batu pertama pembangunan kampus itu, Pemkab Pidie Jaya telah menyerahkan persoalan itu sepenuhnya kepada Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU).

“Saya yakin dan berharap para ulama dapat mengambil sikap yang terbaik. Soal rencana pembangunan gedung itu terhenti sementara, itu urusan Pemkab Pidie Jaya,” tandas Zuhkri.

Firman, salah seorang warga Meureudu, Pidie Jaya menegaskan tidak ada yang salah bagi Yayasan Budha Tzu Chi membantu membangun gedung kampus AKN Pijay. Malah ia sebagai masyarakat Pidie Jaya sangat berterima kasih atas bantuan yang diberikan tersebut.

Meski diakuinya dalam prosesi peletakan batu pertama, itu diselipkan unsur budaya non Islam. Firman menyatakan tidak setuju  dan sedih. “Kita harus melihat beberapa pemuka agama Islam yang duduk dengan wajah melongok melihat para pengurus Yayasan Budha Tzu Chi, itu melakukan ritual.

Namun rasa kecewa dan sedih itu cepat-cepat dibuang dalam benaknya dan baginya, itu bukan suatu masalah, karena itu mungkin keharusan bagi donatur yang mayoritas bukan beragama Islam melakukan ritual tersebut untuk mencapai keberkahan bagi mereka sesuai budaya dan agama mereka anut .

Kalau bantuan ini kita tolak.Lantas apa solusinya agar bangunan itu dapat berdiri. Ini cambuk bagi pemimpin dan yayasan-yayasan Islam agar lebih perhatian dan peduli lagi terhadap lembaga pendidikan di Aceh,” katanya. ***** Muhammad Riza/F

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here