Musik Blues Di Medan Diam Tapi Menggema

0
Beng Handoko Sunset Bluesbite. Ist
Beng Handoko Sunset Bluesbite. Ist

Perkembangan musik di Indonesia dari masa ke masa selalu dinamis dan mengikuti perkembangan zaman. Musik pop (populer) yang disukai sebagian besar masyarakat awam memiliki jalur distribusi dan penikmatnya di jalur dikatakan pemerhati musik sebagai ‘jalur mainstream’.

Begitu kata Beng Handoko, pentolan Sunset Bluesbite, grup pengusung musik Blues di Medan saat berbincang dengan Waspada di sela-sela menjelang acara Blues Nite Jumat (16/2) malam di salah satu cafe.

Namun diluar jalur tersebut, menurutnya, sebenarnya masih jauh lebih banyak lagi musik-musik yang konsisten dan merawat akar tradisi bermusiknya dari masa-masa awal terbentuknya musik tersebut, seperti Blues.

Musik Blues yang muncul di era abad 18 berisikan ungkapan kepedihan dari para budak impor Afrika dibawa ke Amerika dan dipekerjakan secara kurang manusiawi di perkebunan-perkebunan milik orang-orang kulit putih.

Mereka dieksploitasi dan direnggut kebebasan nya, hidup dengan kondisi menyedihkan dan jauh dari kata bahagia. Pola bermusik ‘sedih yang menjadi ciri khas musik Blues pun sampai sekarang tetap konsisten dibawakan para pecinta dan musisi Blues. Hal ini menandakan lestarinya sebuah ‘roots musik’.

Komunitas Medan Blues Society juga menjadi satu-satunya komunitas musik di Medan ikut melestarikan musik Blues tentu dengan gaya dan pemahaman para pelakunya yang rata-rata justru berusia muda (20an tahun), ujarnya.

Satu hal yang sangat patut diapresiasi bahwa selain tetap mengikuti musik Mainstream diluar sana, para muda mudi penggerak MBS (Medan Blues Society) ini tetap rutin menggelar Bluesnite di berbagai tempat di kota Medan, mulai bermain di Cafe indoor, Bar n Cafe di berbagai hotel berbintang sampai di panggung-panggung outdoor.

Meskipun penikmat musik Blues bisa dibilang terbatas pada kalangan tertentu, tetapi disetiap show yang MBS lakukan selalu mendapatkan respon positif dari audiens yang datang. Selain membawakan lagu-lagu cover bermacam punggawa Blues dunia sekelas BB King, Eric Clapton, Johnny Winter, LED Zeppelin, Jimi Hendrix, SRV, Joe Boanamasa dll.

MBS juga kerap membawakan lagu-lagu Blues karya musisi lokal Medan. Sejak 2011 sampai sekarang terbukti musik Blues selalu berkembang mengikuti irama peminat dan pelakunya.

Musik Blues tetap mengalir di tengah gerusan musik-musik baru era digital modern masa kini yang terkadang terkesan dipaksakan tenar dengan bantuan promosi sosial media, tanpa lagi mengedepankan kualitas bermusik dan musik itu sendiri. Sejatinya musik sebagai produk seni haruslah menonjolkan sisi rasa yang bisa dinikmati jiwa. Bukan hanya memenuhi hasrat tenar demi mengejar popularitas dan materi semata. Semoga musik Indonesia di masa datang tidak kehilangan jatidirinya yang juga berakar dari musik-musik tradisionalnya, kata Bang Handoko dengan penuh rasa percaya diri.

MBS All Star

Demi menarik perhatian kalangan muda di Medan, MBS membentuk band semua anggotanya Keluarga besar Medan Blues Society bernama ‘MBS All Stars’. “Siapa saja yang berminat boleh bergabung silahkan”. Semua posisi formasi tersedia, mau jadi vokalis, gitaris, bassist, Kibordis, drummer, blues-harp, saxophone dll. Saat ini MBS All Stars diisi Ade Gurusinga, Tigasandy, Welly, Gegep, Ridho Kribo, Fattah, Arep, Gewa, Nopal, Ibunk, Sandy Lao, Tian dan Sinyo.

Instagram: Medan blues society

t.junaidi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here