Sistem Pendidikan Berorientasi Syariat Oleh Helmi Abu Bakar, M. Pd Pengajar Dayah MUDI Masjid Raya Samalanga, Bireun Dan Pengurus TASTAFI Pidie Jaya Serta Dosen IAI Al-Aziziyah Samalanga.

0

Bukakanlah untuk anak-anak kalian pertama kalinya dengan kalimat La ilaha illallah (tiada sesembahan yang hak kecuali Allah) (HR.Al Hakim dari Ibnu Abbas ra)

Dunia tarbiyah di Aceh khususnya pendidikan formal seperti kurang realisasi dalam merespons syariat Islam untuk direduksikan dalam kurikulum berbasis syariat Islam. Sistem  pendidikan Islami dipandang sesuai dengan falsafah hidup dan nilai sosial masyarakat Aceh pada khususnya dan bangsa Indonesia umumnya. Pendidikan Islami bukan sekedar berisi ilmu pengetahuan atau mata pelajaran agama Islam, tetapi lebih dari itu, menyangkut implementasi nilai-nilai Islam dalam kehidupan sekolah. Sehingga budaya Islami menjadi inti dari kebudayaan sekolah (school culture) dan menjadi ruh dalam proses penyelenggaraan pendidikan di sekolah.

Implementasi nilai Islami tercermin dalam visi, misi, tujuan, kurikulum, interaksi sosial antara warga sekolah, suasana kelas, suasana asrama, suasana lingkungan sekolah serta dalam berbagai aturan dan kebiasaan sekolah. Pendidikan Aceh yang Islami merupakan konsep ideal bagi Aceh untuk menyiapkan peserta didik atau lulusan pendidikan yang berilmu dan berkepribadian Islami sebagaimana menjadi core value tujuan pendidikan nasional dan visi strategis pendidikan Aceh. Namun harapan masyarakat yang di pundakkan kepada pemerintah baik eksekutif maupun legislatif sepertinya belum mampu mewujudkan lebih real implementasi system dan kurikulum yang mampu melahirkan sebuah pendidikan berbasis nilai syariat.

Dalam perspektif Ahmad Tafsir (2010), pendidikan Islami adalah pendidikan yang berdasarkan pada nilai-nilai Islam, pendidikan yang teori-teori dan prakteknya disusun berdasarkan Alquran dan Alhadis. Dalam mewujudkan pendidikan Islami perlu ada usaha, kegiatan, cara, alat dan lingkungan hidup yang menunjang keberhasilannya yang dapat membentuk kepribadian muslim yang Islami (Nasir Budiman, 2000). Sedangkan tujuan pendidikan dalam Islam adalah untuk membimbing perkembangan peserta didik secara optimal agar mengabdi kepada Allah SWT dan untuk membentuk manusia sebagai pribadi yang bermoral, jujur, bersih dan disiplin (Jamal, 2005).

Beranjak dari itu sistem tersebut dipandang sangat cocok untuk masyarakat Aceh yang menjadikan Islam sebagai jati dirinya. Pendidikan Islami semestinya menjadi agenda utama dalam proses penerapan syariat Islam di Aceh. Sebab, tidak diragukan lagi bahwa hanya dengan pendidikan Islami yang komprehensif pintu gerbang kebangkitan Islam dan umatnya dapat dikembangkan, dan hanya dengan nilai-nilai pendidikan Islami cita-cita syariat Islam yang kaffah di Aceh sangat mungkin untuk diwujudkan.

Bersyariat Dinul Islam

Aceh yang telah lama dideklarasikan syariat Islam, namun saat ini sepertinya pemerintah belum sepenuh hati dalam merealisasikannnya. Fenomena ini dapat dilihat dan dirasakan dalam keseharian di Dunia pendidikan Aceh dewasa ini. Ironisnya, potensi pendidikan untuk mendukung penerapan syariat Islam secara totalitas di Aceh selama ini belum diberdayakan semaksimal mungkin. Sebagai contoh, buku-buku bahan ajar di sekolah selama ini belum dikemas secara Islami. Ruang yang mengupas konteks dan nilai-nilai lokal Aceh tidak mendapatkan tempat yang memadai (untuk tidak kita katakan tidak mendapatkan tempat sama sekali).

Dalam mewujutkan dan mengembangkan pendidikan Aceh yang berbasis syariah dinul Islam tersebut hendaknya dapat dilakukan beberapa langkah, pertama,  harus ditempuh untuk menciptakan suasana dan lingkungan dalam suasana pendidikan adalah dengan cara mengembangkan islamisasi pendidikan dalam masyarakat kapan pun dan dimana, tidak terbatas dengan ruang gerak dan tempat. Minimalnya lingkungan keluarga kita isi dengan nilai pendidikan akhlakul karimah dan suri tauladan yang baik. Kita memulainya sejak kecil dalam ayunan, saat si anak dalam ayunan kita baca dan lantunkan syair-syair yang mengandung nasehat dan shalawat serta bentuk nyanyian kalimat tauhid lailahaillah yang sering dipraktekkan orangtua hingga sang anak akan terasa aura dan suasana yang islami dan relegius.

Warisan sang endatu itu sebagai bentuk realisasi islamisasi pendidikan sejak dini. Ini sebagaimana terpahami dari hadis Nabi Muhammad SAW yang telah diriwayatkan Al Hakim dari Ibnu Abbas ra bahwa Nabi bersabda: Bukakanlah untuk anak-anak kalian pertama kalinya dengan kalimat La ilaha illallah (tiada sesembahan yang hak kecuali Allah).

Beranjak dari itu pendidikan dalam masyarakat tidak saja terbatas pada pendidikan umum ataupun pendidikan agama saja dan tidak terbatas pada nilai-nilai kognitif saja akan tetapi juga merangkul sifat afektif dan psikomotor pula. Namun harus secara komprehensif dengan menggunakan dan memberdayakan semua pihak terutama para mahasiswa yang ingin mengembangkan kemampuan mengajarnya dan mahasiswa yang ingin berbagi pengetahuan dan pengalaman. Sehingga membuka luwang untuk kawulan muda berkreasi.

Kedua, mengaktifkan kembali tempat pengajian baik Balee Pengajian maupun dayah yang berfungsi sebagai tempat belajar ilmu agama Islam anak-anak dari masyarakat yang proses pembelajaran biasanya dilaksanakan pada malam hari yang dibimbing oleh seorang/beberapa orang guru. Ketiga, membangun kembali lembaga atau suatu tempat yang berfungsi sebagai tempat berkumpulnya dan belajarnya para anak-anak atau masyarakat secara umum, tempat berkumpulnya siswa Taman Kanak-Kanak (TK) sampai para mahasiswa yang sedang menjalani proses pendidikan maupun yang telah menjalani proses pendidikan serta para tokoh masyarakat, dimana ditempat tersebut para anak-anak, remaja, dan para orang tua saling berbaur dan berdiskusi serta saling bertukar pendapat maupun saling mengajar dan belajar antara satu dengan yang lainnya dalam suasana yang tidak formal, namun harus seefektif mungkin.

Dalam merealisasikan sistem ini hendaknya dihilangkan dikotomi ilmu dengan anggapan adanya pendidikan Dunia dan Akhirat. Di Dunia sekolah atau univeristas juga diajarkan ilmu yang diajarkan di dayah atau dalam bahasa lain mendayahkan sekolah atau mendayahkan universitas. Sebaliknya para santri yang telah menguasai ilmu fardhu ‘ain kita umpamakan  mereka telah jenjang ma’had Aly (sudah khatam kitab Ianah at-Thalibin) untuk menyambung di bangku universitas terutama lembaga pendidikan tinggi dengan basis umum maupun agama. Sehingga dua kutub ilmu yang dimiliki mampu disingkronisasikan dan dikombinasikan.

Metode semacam ini dengan menghilangkan dikotomi ilmu telah di lakukan oleh Al-Mukarram Syaikhuna H. hasnoel Basri HG atau akrab di sapa Abu MUDI dengan mengembangkan pendidikan agama  nonformal Dayah MUDI Masjid Raya yang telah banyak melahirkan ulama dan kader dakwah dalam masyarakat. Di tahun 2003 al-Mukarram telah mendirikan lembaga pendidikan formal dengan nama awalnya Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al-Aziziyah Samalanga dan dalam beberapa tahun ini telah menjadi mercusuar ilmu Dunia untuk masyarakat Aceh dengan nama IAI (Institut Agama Islam) Al-Aziziyah Samalanga.

Beranjak dari itu kita berharap dengan adanya pendidikan yang menekankan kearah implemetasi nilai syariat Islam mampu mewujudkan negeri yang terkenal dengan tanah aulia ini sebagai daerah yang mampu mengimplementasikan syariat islam yang pada akahirnya akan melahirkan Aceh sebagai negeri dinul Islam dalam bungkai NKRI dan lindungan rahmat dan ridha Ilahi. Wallahu Muwaffiq Ila Aqwamith Thariq. Wallahu ‘alam Bisshawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here