Oleh Imam Pratomo, M.HI Ka.Bag Bahasa Ponpes Modern Darul Hikmah TPI, Dosen Fakultas Syariah Dan Hukum UIN Sumatera Utara, Penyuluh Agama Islam Kementrian Agama Kota Medan

0

Rasulullah SAW bersabda: Keutamaan orang yang berilmu dengan orang yang beribadah adalah seperti keutamaan Bulan dari seluruh Bintang-bintang

Seorang ulama dengan ilmu keagamaannya akan sulit menjadi kaya. Sebab harta menurutnya berputar pada poros-poros tertentu yang menyinggung kepentingan dan kebutuhan hidup sebagian besar manusia. Sementara manusia pada umumnya tidak setiap saat membutuhkan nasihat agama.

  1. Anis Matta dalam bukunya Mencari Pahlawan Indonesia, produk kepahlawanan dalam dunia ilmu pengetahuan khususnya pengetahuan agama tidak dapat mengantar seorang ulama menuju kekayaan. Karena itu dapat disimpulkan orang yang ingin menjadi kaya jangan berprofesi sebagai tokoh agama, ulama atau ustadz namun menjadi pengusaha dalam segala bidang yang dibutuhkan manusia.

Contoh nyata dari hal ini adalah Rasulullah SAW yang kaya raya sebelum menjadi Rasul. Setelah diangkat menjadi Rasul, maka seluruh harta kekayaannya lama kelamaan akan habis demi perjuangan dakwah menyebarkan Islam. Bukan hanya harta miliknya saja, tetapi harta isterinya pun sang konglomerat Makkah, Khadijah, juga ludes habis. Bukannya bersedih Khadijah malah berujar “Jika seandainya kakanda membutuhkan jembatan untuk menyeberang sungai dan tidak menemukannya, maka adinda siap berkorban untuk menjadi jembatan tersebut demi perjuangan dakwah Islam”. Maka tak ayal Rasul menggelarnyapun dengan “Khadijah al-Kubro”, Khadijah yang agung.

Ini mengajarkan pada kita, bahwa semestinya para Ulama berada pada posisi moral yang tinggi dan terhormat yang biasanya tidak akan mereka rusak dengan berbagai macam praktik tidak terhormat, yang umumnya memenuhi dunia bisnis. Jual beli suaranya demi mendukung pada salah satu kandidat calon pemimpin kepala daerah misalnya, menjadi sebatas stempel pemerintah dalam setiap kebijakan yang tidak menguntungkan kepentingan masyarakat—lebih  menitikberatkan berapa banyak materi yang ia dapatkan dalam dakwahnya, bukan seberapa penting dan urgen masyarakat terhadap diri dan dakwah yang akan disampaikannya.

Imam Syafi’i yang berasal dari keluarga yatim lagi miskin pernah berujar, seperti yang diungkapkan oleh M. Anis Matta, pada mulanya menuntut ilmu (agama) menjadi kaya. “Aku rasa kecerdasanku akan memberikanku kekayaan yang melimpah,” ujarnya. Tapi lanjutnya “Setelah aku mendapatkan ilmu ini, sadarlah aku bahwa ilmu ini tidak boleh dituntut untuk mendapatkan Dunia. Ilmu ini hanya akan kita peroleh jika dituntut untuk menuju kejayaan Akhirat”.

Di dalam Alquran dinyatakan sesungguhnya manusia yang paling takut kepada Allah SWT adalah para Ulama. Karena mereka merupakan pewaris nabi, menguasai ilmu pengetahuan agama sekaligus mengamalkannya dan tentu saja yang paling banyak mengetahui ma’rifatullah. Merekalah sebenarnya pengemban misi paling depan dan utama, mereka (ulama) ini-lah manifestasi ulama klasik yang terdahulu. Firman Allah SWT di dalam Alquran: Kamu adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan di Dunia ini menyeru kepada kebajikan dan mencegah dari kemungkaran.

Sebuah negara akan berdiri kokoh dan mencapai puncak kejayaannya jika ditopang oleh empat hal. Pertama, jika diperintah oleh seorang pemimpin yang adil dan jujur. Menggunakan kekuasaannya demi untuk kepentingan rakyat dan kesejahteraan mereka. Seperti ucapan dan janji manis banyak calon pemimpin negeri ini saat berkampanye menyampaikan visi dan misi mereka. Pemimpin yang adil akan dicintai rakyatnya. Pemimpin yang jujur akan mendorong kemajuan ekonomi dan kemakmuran negerinya, karena dia akan senantiasa memikirkan kemashlahatan rakyatnya bukan kemashlahatan diri, keluarga dan kelompoknya.

Kedua, pengusaha yang dermawan. Mereka inilah penggerak roda ekonomi sebuah negeri. Pencipta lapangan kerja dan sumber pemasukan devisa negara. Pengusaha yang dermawan tidak akan menerapkan sebuah sistem ekonomi kapitalis yang mengeruk keuntungan sebesar-besarnya dengan modal yang sekecil-kecilnya guna membangun imperium bisnis demi kesejahteraan pribadi dan keluarganya. Penguasa yang dermawan akan membagikan secara rata keuntungan bisnisnya demi kesejahteraan para buruh dan karyawannya. Mereka tidak akan berlaku zalim dengan mengorbankan banyak orang demi keuntungan pribadi. Pemimpin yang dermawan akan resah dan gelisah hatinya jika usaha bisnis yang dimilikinya akan menyengsarakan orang lain dan mengakibatkan kerugian rakyat dan negara. Penyelesaian ganti rugi materil kepada penduduk Sidoarjo akibat dari lumpur lapindo tidak akan berlarut-larut dan menjadi musibah nasional jika dikelola oleh pengusaha yang dermawan.

Ketiga, pemimpin yang berkarakterkan Ulama yang memiliki integritas keilmuan dan moral yang tinggi. Pemimpin yang berkarakterkan Ulama sejatinya adalah pewaris nabi. Artinya pemimpin yang seperti inilah yang dinginkan rakyat karena ia paling paham permasalahan agama dan berusaha mengaplikasikan pemahaman keagamaannya tersebut dalam kehidupan dan lingkungannya.

Rasulullah SAW bersabda: Keutamaan orang yang berilmu dengan orang yang beribadah adalah seperti keutamaan Bulan dari seluruh Bintang-bintang. Artinya pancaran cahaya ilahi yang terpantulkan dari dirinya setidaknya akan menyejukkan dan mendamaikan hati umat. Fatwa-fatwa mereka akan diikuti. Jika pemimpin seperti ini konsisten pada khittahnya sebagai qudwah dan penjaga moralitas bangsa, maka negeri ini akan melahirkan generasi bangsa yang tangguh dan berkualitas.

Keempat, rakyat yang ridha akan pemimpinnya. Keridhaan rakyat terhadap pemimpinnya dikarenakan kemakmuran dan keadilan yang dirasakannya. Dia tidak perlu mencari keadilan karena keadilan telah diberikan penguasa kepadanya. Dia tidak akan menuntut hak karena telah diterima sebagaimana mestinya. Mereka pun melakukan kewajiban yang diembankan negara kepada mereka dengan sukarela. Membayar pajak melakukan pekerjaan sebagai abdi negara yang disiplin, profesional dan memiliki etos tinggi. Bercocoktanam penuh gairah karena hasil panennya akan dapat dinikmatinya dengan baik. Jika seluruh rakyat ridha terhadap pemimpinnya maka akan mendatangkan keberkahan bagi sebuah negara.

 Penutup

Semoga Sumatera Utara ini dalam waktu yang tidak lama lagi akan memiliki, pemimpin yang berkarakterkan Ulama yang memiliki integritas keilmuan dan moral yang tinggi dan rakyat yang ridha akan pemimpinnya. Sebagaimana pemimpin sekaligus Ulama’-ulama’ kita terdahulu yang ikhlas di jalan Allah demi dakwah seperti Rasulullah SAW dan Imam Syafi’i Rahimahumullah. Semoga!!

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here