Geliat Ilmu Pengetahuan Di Zaman Daulah Abbasiyah

0
509

Perkembangan ilmu era Abbasiyah juga didukung oleh aktivitas terjemahan yang begitu intens dan masif. Aktivitas  ini secara perlahan tapi pasti terus meningkat meskipun pada awalnya dilakukan secara individu, namun berikutnya dilakukan secara tim dan difasilitasi oleh negara

DIMAKLUMI bahwa era Abbasiyah adalah era terbaik peradaban Islam. Pada periode ini ilmu pengetahuan berkembang pesat dan penuh dengan kreativitas. Segenap kemajuan di berbagai bidang telah dicapai beserta tokoh-tokoh yang bereputasi dunia. Ilmu pengetahuan di era Abbasiyah maju pesat dan mencapai puncaknya tatkala berada di kota Bagdad.

Seperti diketahui, di Bagdad sejak lama telah berkembang keilmuan kuno India, Yunani, Babilonia, Kaldea, Persia, dan lain-lain. Selain itu, masyarakat yang heterogen tinggal secara damai di kota ini. Munculnya Madrasah Bagdad menjadi ruh ilmiah, dimana di madrasah ini penelitian dilakukan berdasarkan pengkajian akurat. Tercatat sejak abad 3/9, ilmuwan-ilmuwan Arab telah memiliki metodologi.

Perkembangan ilmu era Abbasiyah juga tidak dapat dipisahkan dari peran khalifah-khalifah yang pernah berkuasa. Beberapa khalifah yang paling berpengaruh bagi pengembangan sains di era Abbasiyah adalah Al-Manshur (w. 158/775), Al-Rasyid, dan Al-Ma’mun (w. 218/833). Al-Manshur dikenal mencintai ilmu pengetahuan dan memiliki kecendrungan pada astronomi dan astrologi.

Bahkan dia pernah mengumpulkan sejumlah ahli perbintangan di istananya guna bermusyawarah terkait administrasi negara. Al-Manshur juga pernah bermusyawarah kepada para astrolog istananya terkait administrasi negara dan politik. Bahkan, berdirinya kota Bagdad sebagai pusat istana dan pemerintahan tidak lepas dari analisis astrologi. Al-Manshur memerintahkan beberapa astrolog untuk meneliti topografi wilayah yang akan dijadikan ibu kota, dan pilihan jatuh pada kota Bagdad yang terletak di pinggiri sungai Tigris.

Perkembangan ilmu era Abbasiyah juga didukung oleh aktivitas terjemahan yang begitu intens dan masif. Aktivitas  ini secara perlahan tapi pasti terus meningkat meskipun pada awalnya dilakukan secara individu, namun berikutnya dilakukan secara tim dan difasilitasi oleh negara. Literatur-literatur yang diterjemahkan umumnya adalah literatur-literatur dari khazanah Yunani, India, dan Persia. Literatur-literatur astronomi terpopuler yang diterjemahkan dari tiga khazanah ini adalah Almagest karya Ptolemeus dari Yunani, Sindhind karya Brahmagupta dari India, dan Zij Syah dari Persia.

Selanjutnya Harun al-Rasyid. Kontribusi sang khalifah ini di antaranya adalah pendirian rumah sakit, dimana waktu itu tercatat ada sekitar 800 dokter di Bagdad. Pada zaman al-Rasyid, peradaban Islam mulai diperhitungkan oleh bangsa lain. Sementara itu di zaman al-Ma’mun (w. 218/833), perhatian terhadap ilmu pengetahuan sangat meningkat bahkan ia dikenal sebagai patron ilmu pengetahuan yang luar biasa. Menurut Ibn Katsir, al-Ma’mun adalah orang yang memiliki pengetahuan pada berbagai bidang yaitu fikih, kedokteran, syair, faraid, kalam, nahwu, hadis, dan astrologi.

Momentum terbaik al-Ma’mun adalah pada pendirian Bait al-Hikmah tahun 215/830, yaitu sebuah perpustakaan yang menyelenggarakan pengkajian dan penelitian ilmiah guna mempercepat pengembangan ilmu pengetahuan. Atas peran dan fungsi Bait al-Hikmah inilah periode ini dinyatakan sebagai era keemasan peradaban Islam. Dalam gerakan keilmuannya, Baitul Hikmah melakukan aktivitas  transmisi dan terjemah teks-teks filsafat dan sains-sains kuno. Bahkan, salah satu tujuan paling dominan pendirian Bait al-Hikmah adalah menerjemahkan naskah-naskah sains dan filsafat klasik kedalam bahasa Arab, khususnya naskah-naskah Yunani kuno, India dan Persia. Berbagai hasil terjemahan tersebut disimpan di Bait al-Hikmah bersama catatan penemuan sains lainnya. Semua terjemhaan, dokumen, dan catatan yang ada di perpustakaan ini mudah diakses oleh cendekiawan lain.

Dalam sejarah, banyak ulama/ilmuwan yang bekerja di Bait al-Hikmah dan memiliki sumbangan sesuai keahlian masing-masing. Beberapa tokoh populer yang pernah bekerja di perpustakaan ini adalah al-Khawarizmi, putra-putra Musa (Ahmad, Muhammad, Hasan), Sind bin Ali, Yahya bin Abi Manshur, dan lain-lain. Bahkan ada banyak cendekiawan yang datang berbondong-bondong dari luar kota Bagdad untuk menggali khazanah ilmu yang ada di Bait al-Hikmah. Tak pelak, kota Bagdad ketika itu menjadi kota termaju di Dunia.

Seperti halnya di zaman al-Manshur, di zaman al-Ma’mun tradisi terjemah dan transmisi teks-teks sains juga telah berkembang. Ilmu-ilmu alam dan filsafat seperti ilmu-ilmu kedokteran, kimia, fisika, dan astronomi, yang mayoritas berasal dari Yunani, India dan Persia secara gencar diterjemahkan, bahkan lebih marak dan intensif dibandingkan era al-Manshur. Ilmu-ilmu alam dan filsafat ini dalam khzanah Islam klasik disebut ilmu-ilmu awal (‘ulūm awā’il). Keinginan al-Ma’mun menerjemahkan teks-teks ini tidak lain didorong kecintaannya terhadap ilmu pengetahuan. Hal ini mendorongnya pula untuk menghibahkan dana yang besar untuk melaksanakan proyek penerjemahan sains-sains kuno ini. Seperti dikemukakan sejarawan Ibn Ushaibi’ah, al-Ma’mun pernah memberi imbalan kepada seorang penerjemah bernama Hunain bin Ishaq senilai emas dalam tiap-tiap timbangan terjemahnya.

Abbasiyah juga sangat maju dalam bidang karya tulis. Tercatat ada banyak ilmuwan Muslim yang sangat produktif menulis karya. Semangat menulis ini tentunya didukung oleh ketersediaan kertas dan tinta. Pada tahun 751 M, kertas yang terbuat dari kulit pohon di datangkan dari China ke dunia Islam. Tahun 793 M, di Bagdad telah dibangun fasilitas untuk memproduksi kertas. Hal ini tentunya sangat membantu sekaligus mendorong para ilmuwan Muslim menulis karya. Tidak dipungkiri, para cedekiawan pada zaman itu sangat bersyukur karena memiliki medium penulisan yang terjangkau, yang membantu mereka memperbanyak dan menambah hasil karyanya.

Banyaknya karya tulis (termasuk terjemahan) yang sebagian diantaranya didatangkan dari berbagai tempat yang jauh dan berasal dari berbagai zaman. Para ilmuwan Muslim era Abbasiyah mengembangkan ide-ide dan penemuannya dalam karya tulis. Hasil penemuan dan karya tulis para ilmuwan ini juga tersebar di perpustakaan-perpustakaan dan sekolah-sekolah. Karya-karya tulis dan penemuan ini bertahan sampai akhir dinasti Abbasiyah dan pada akhirnya mendorong kebangkitan dan ketertarikan dunia Eropa terhadap ilmu pengetahuan. (Arwin Juli Rakhmadi Butar-Butar/Dosen FAI UMSU dan Kepala IF UMSU)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here