Perdebatan; Antara Diperbolehkan Dan Dilarang Oleh Asep Safa’at Siregar Guru Dan Kepala Divisi Humas dan Pemasaran Pesantren Modern Unggulan Terpadu “Darul Mursyid” (PDM), Simanosor Julu – Tapanuli Selatan.

0
405

Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik (QS. Al-‘Ankabut: 46)

Berdebat adalah salah satu perbuatan yang sulit kita hindarkan, terlebih di negeri yang menganut faham demokrasi. Sebagai orang beriman, kita punya tuntunan dalam Alquran maupun Alhadis.

Kata “debat” dalam KBBI berarti pembahasan dan pertukaran pendapat mengenai suatu hal dengan saling memberi alasan untuk mempertahankan pendapat masing-masing. Berdebat berarti bertukar pikiran tentang suatu hal dengan saling memberi alasan untuk mempertahankan pendapat. Mendebat artinya membantah pendapat orang lain dengan mengajukan alasan; Perdebatan adalah soal yang diperdebatkan; Memperdebatkan artinya menjadikan bahan untuk berdebat (berbantah) atau memperbantahkan.

Sedangkan dalam bahasa Arab, berdebat bisa disebut muraa’un atau jidalun atau khusumah. Meski ketiganya tidak memiliki arti yang persis. Pertama, muraa’un adalah celaan atau sanggahan terhadap perkataan seseorang dengan menambahkan aib dengan tujuan merendahkan atau meremahkan orang yang berkata serta menampakkan kesempurnaan dirinya. Hal ini dengan jalan menyanggah perkataan orang yang sebelumnya.

Kedua, jidaalun berarti ungkapan dari suatu perkara yang berkaitan teori dan keterangannya dengan maksud membuat tidak berkutik orang lain atau menyatakan kelemahan dengan mencela perkataan dan menisbatkan pada kekurangan dan kebodohan. Ketiga, khusumah berarti kekerasan hati dan kepala di dalam perkataan supaya bisa mengambil harta atau sesuatu yang dimaksud. Ini pun bisa dengan memulai lebih dahulu atau dengan menyanggah perkataan.

Berdebat atau berbantahan, berselisih, memprotes, menyanggah, termasuk perbuatan yang dilarang. Dari Abu Umamah RA, beliau berkata: Rasulullah SAW bersabda: Tidaklah suatu kaum tersesat setelah tadinya mereka berada di atas petunjuk kecuali karena mereka adalah kaum yang senang melakukan perdebatan. Kemudian Rasulullah SAW membaca ayat ini: Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud berdebat saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar (QS. Az-Zukhruf: 58). (HR. At-Tirmizi no. 3253, Ibnu Majah no. 47).

Ulama membagi perdebatan dalam dua kategori, yakni:  Perdebatan yang tercela.

Yaitu semua perdebatan dengan kebatilan, atau berdebat tentang kebenaran setelah jelasnya, atau perdebatan dalam perkara yang tidak diketahui orang-orang yang berdebat, atau perdebatan dalam mutasyabih dari Alquran atau perdebatan tanpa niat yang baik dan yang semisalnya.Terdapat nash-nash yang menjelaskan tercelanya berdebat dalam agama Allah SWT. Di antaranya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: Tidak ada yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah, kecuali orang-orang yang kafir. Karena itu janganlah pulang balik mereka dengan bebas dari suatu kota ke kota yang lain memperdayakan kamu(QS.Ghafir: 4).

Dalam ayat lain Allah SWT juga berfirman: Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka tidak ada dalam dada mereka melainkan hanyalah (keinginan akan) kebesaran yang mereka sekali-kali tiada akan mencapainya, maka mintalah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia Mahamendengar lagi Mahamelihat (QS.Ghafir: 56).

Telah diriwayatkan dari Aisyah ra berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang paling dibenci Allah adalah yang suka berdebat (Muttafaq Alaihi). Juga dari hadis Abu Umamah ra berkata: Rasulullah SAW bersabda: Tidaklah tersesat satu kaum setelah mendapatkan hidayah yang dahulu mereka di atasnya, melainkan mereka diberi sifat berdebat”. Kemudian Rasulullah SAW membaca firman Allah SWT: Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar (QS.Az-Zukhruf: 58) (HR.Tirmidzi dan Ibnu Majah, dihasankan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 5633).

Wahb bin Munabbih rahimahullahu berkata: “Tinggalkan perdebatan dari perkaramu. Karena sesungguhnya engkau tidak akan terlepas dari menghadapi salah satu dari dua orang: (1) orang yang lebih berilmu darimu, lalu bagaimana mungkin engkau berdebat dengan orang yang lebih berilmu darimu? (2) orang yang engkau lebih berilmu darinya, maka bagaimana mungkin engkau mendebat orang yang engkau lebih berilmu darinya, lalu dia tidak mengikutimu? Maka tinggalkanlah perdebatan tersebut!” (Lammud Durr, karangan Jamal Al-Haritsi hal. 158).

 Perdebatan Yang Diperbolehkan

Di samping dalil-dalil yang melarang berdebat, terdapat yang menunjukkan kebolehannya. Adapun jika perdebatan itu untuk menampakkan kebenaran dan menjelaskannya, yang dilakukan oleh seorang ‘alim dengan niat yang baik dan konsisten dengan adab-adab (syar’i) maka perdebatan seperti inilah yang dipuji. Allah SWT berfirman: Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik (QS.An-Nahl:125).

Debat yang diperbolehkan ada tiga bagian: Pertama, perdebatan itu untuk menampakkan kebenaran. Untuk menjelaskannya dilakukan seorang kompeten dengan niat baik dan konsisten dengan adab-adab (syari) maka diperbolehkan. Imam An-Nawawi rahimahullahu berkata: “Jika perdebatan tersebut dilakukan untuk menyatakan dan menegakkan al-haq, maka hal itu terpuji. Namun jika dengan tujuan menolak kebenaran atau berdebat tanpa ilmu, maka hal itu tercela. Dengan perincian inilah didudukkan nash-nash yang menyebutkan tentang boleh dan tercelanya berdebat.”

Kedua, perdebatan dalam ilmu dan dilakukan dengan baik. Rasulullah SAW bersabda:  Barangsiapa yang berdebat dalam debat yang bukan ilmu, maka ia senantiasa dalam kemurkaan Allah sampai ia berhenti. Hadis ini mengisyaratkan bahwa berdebat tidak dilarang secara mutlak, ada pengecualian termasuk dalam hal ilmu. Berdebat harus dilandasi ilmu tentang yang diperdebatkan, hingga tidak ngelantur tanpa tujuan.

Allah SWT berfirman: Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik (QS. Al-‘Ankabut: 46). Kata-kata “melainkan” dengan cara yang benar menjadi syarat dibolehkannnya berdebat. Namun apabila keluar dari syarat tersebut maka gugurlah kebolehan dari berdebat. Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin berkata: “Pertengkaran dan perdebatan dalam perkara agama terbagi menjadi dua: Pertama, dilakukan dengan tujuan menetapkan kebenaran dan membantah kebatilan. Ini merupakan perkara terpuji. Adakalanya hukumnya wajib atau sunnah, sesuai keadaannya. Berdasarkan firman Allah SWT: Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Rabbmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk (QS.An-Nahl: 125)

Ketiga, berdebat untuk memperoleh hak. Jika kita mempunyai hak dimana untuk memperoleh atau menjaga hak tersebut, maka berdebat diperbolehkan. Apalagi penyelesaian kasus hingga di pengadilan, maka salah satu cara mempertahankan hak adalah dengan memberikan alasan atau bukti kuat bahkan berdebat menyanggah pernyataan pihak lain.

Rasulullah SAW bersabda: Dari Abu Huraira RA berkata: ada seorang laki-laki menghadap Rasulullah, ia berkata: Ya Rasulullah bagaimana pendapatmu jika ada seseorang ingin merampas hartakau? Rasulullah menjawab: Jangan kau berikan hartamu, ia berkata bagaimana pendapatmu jika ia ingin membunuhku? Rasulullah menjawab: Bunuhlah dia, ia berkata: bagaiman pendapatmu jika ia membunuhku? Rasulullah menjawab: Kamu Mati Sahid, ia berkata bagaimana pendapatmu jikalau aku berhasl membunuhnya? Ia masuk Neraka.” (HR. Muslim).

Imam Al-Ghazali memberikan jawaban tentang hukum perdebatan. “Ketahuilah olehmu bahwa perdebatan yang tercela itu terjadi pada: (1) berdebat dalam perkara batil dan perkara yang bukan ilmu, (2) berdebat karena ingin memperoleh hak dan menuntut hak tanpa batas keperluan (melampaui batas), (3) bergurau dengan perdebatan terhdap kata-kata yang menyakitkan, (4) berdebat dengan tujuan menentang dan melawan semata untuk menghancurkan lawan bicara. Al-Ghazali juga menegaskan bahwa agar kita tidak membuka celah sedikitpun untuk berdebat dan hendaklah mencari solusi yang lain. Bilapun terpaksa maka tetaplah memperhatikan adab, etika, sopan santun sehingga jauh dari perselisihan dan permusuhan. Wallahu ‘alam.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here