Perseteruan Pikiran & Perasaan Dalam Alquran Oleh Zailani Dosen Fakultas Agama Islam UMSU

0
377

Terjadinya pembunuhan dan tindakan kriminal kepada tokoh agama, dan pelakunya dianggap gila. Analisis penulis dia bukan gila dalam pandangan medis, tapi emosinya dipermainkan, mungkin ada orang lain yang sudah terlatih…

Alam bergerak dalam kendali Tuhan. Melalui hukum kausalitas yang diciptakanNya, aturan tersebut dipelajari oleh manusia, maka lahirlah ilmu fisika, astronomi, biologi dan ilmu lainya—contoh bahwa alam ini bisa ditundukkan manusia melalui serangkain eksperimen dan penelitian. Kontribusi akal paling dibutuhkan di sini. Melalui hal tersebut lahirlah peradaban dan kecanggihan tekhnologi semakin berkembang.

Begitu leluasa manusia di puncak rantai kehidupan, namun tanpa disadari melahirkan ego ras. Geliat tirani dengan makhluk lain, menebar ketakutan dan kekacauan, menjadi ancaman keberlangsungan bagi ras lain. Secara historis, bahwa perilaku tirani muncul kepada sesuatu yang secara potensi jauh lebih diunggulkan. Seorang raja begitu leluasa melakukan kerusakan manakala didukung oleh kekuasaan. Hal ini juga berlaku pada demensi lain.

Lihatlah Fir’aun memperlakukan Bani Israil yang begitu kasar, membunuh anak laki-laki mereka. Hitler menjadi sumber ketakukan, terkhusus bagi kaum Yahudi. Pasukan Mongol menjatuhkan dan membunuh umat Islam secara kejam. Ini tanda bahwa tirani datangnya dari golongan atas atau kuat ke golongan bawah atau lemah. Untuk mencegah hal tersebut, jiwa tampil sebagai pihak penenang. Upaya manusia mengenal jiwanya dikuatkan hadirnya Alquran sebagai Kalam Agung. Kehadirannya sebagai pengingat dan pemberi kabar gembira—manusia dihadapkan dua pilihan, sebagai pengikut Setan atau pengikut Nabi. Adanya jiwa, Alquran sebagai pendamping hidup dan para Nabi sebagai tokoh yang diteladani, mengindikasikan bahwa Allah menginginkan manusia kembali kepadaNya dalam keadaan lebih mulia.

Dalam pandangan Islam, kemuliaan tidak bisa didapat dengan cara bertapa atau menyendiri. Atau melepaskan diri dari sekat-sekat masyarakat. Ini bertentangan dengan ajaran Alquran. Adanya kewajiban membayar zakat, berlaku adil, menuntut ilmu, amar maruf nahi munkar, memberi makan fakir miskin, hukum perkawinan dan lain-lainnya adalah secuil alasan bahwa umat Islam dilahirkan bukan untuk menjadi penyendiri. Apalagi menjadi penonton umat lain. Ditambah karakter agama ini adalah rahmatil-‘alamin. Pemicu terjadinya gerakan massa secara sistematis dan kontinu ke arah tamaddun.

Misi kenabian dan kerasulan mencakup aspek-aspek pembentukan gerakan masyarakat secara bersama. Inilah betapa pentingnya Islam mengajarkan kebaikan agar diperlihatkan kepada orang supaya mampu memicu munculnya gerakan yang sama dari orang lain. Alquran menyebutnya fastbiqul khairat. Begitu komprehensifnya seruan Tuhan dalam Alquran, maka untuk menggali samudera Alfatiha saja sampai sekarang tidak habisnya-habisnya.

Manakala manusia melupakan takdir penciptaannya, maka terlihatlah aib dan cacat mereka. Salah satu sebutan Alquran kepada golongan ini adalah kal an’am. Runtuhnya derajat manusia di antara mahkluknya adalah peristiwa besar memalukan bagi harkat martabat kehidupan. Jika makhluk terbaik direndahkan Allah, maka dampak yang ditimbulkan adalah bertebaran kejahatan kemanusiaan.

Penyakit jiwa bermunculan dan menjangkiti orang lain, tidak mengenal status, agama dan ras. Penilaianpun tidak lagi didasari prestasi membangun Dunia dan menjaga kehidupan Akhiratnya, tetapi lebih bersifat hawa nafsu. Tuhan tidak lagi menjadi sumber spirit tapi lebih kepada tempat Curhat manakala punya masalah. Allah SWT tidak lebih sekedar tempat pelarian, di saat Dunia mulai buas dengannya.

Penulis tidak begitu percaya komitmen kebaikan yang sifatnya revolusioner. Umumnya perubahan itu lebih sering didasari emosi yang berlebihan dan tidak terkontrol. Seseorang yang mempunyai penyakit kronis tiba-tiba menjadi dermawan, pemaaf dan sifat positif lainnya. Bisa jadi hanya karena dia dalam posisi terjepit. Setelah sehat, watak bakhil dan bengisnya kembali terlihat. Atau seseorang yang rajin beribadah dalam penjara karena terkena hukuman korupsi, mencuri, membunuh dan alasan lainnya, lalu dia merubah penampilan, lebih agamis, minta dibawakan Alquran, baju gamis dan asesoris lain. Keluar dari mulutnya “semua kejadian ini adalah musibah dan tabah mengahadapinya”. Sikap emosional seperti ini sering menjadi dinding tabiat sesungguhnya. Tidak dipungkiri ada perubahan tersebut bertahan sepanjang sisa hayat, berarti perubahan tersebut sudah beralih dari sifat emsosional ke perasaan spiritual.

Penulis lebih percaya perubahan yang evolusioner. Karena di dalamnya ada unsur kesadaran dan emosi yang terkontrol. Seseorang yang berubah karena orang lain, apakah suami, istri, teman, pejabat, atau orang lain, apabila terjadi pertikaian kedua belah pihak, maka dampak perlawanan yang ditunjukkan adalah melakukan sesuatu yang tidak disukai. Dalam hal ini kembali perilaku pertama (buruk). Itulah salah satu sebab betapa penting akidah menjadi pondasi utama. Agar semua kebaikan yang dilakukan dilakukan karena Allah SWT.

Kehadiran akal dan emosi dalam menyikapi sesuatu sangat berpengaruh pada kesimpulan yang diambil. Jadi kalau akhir-akhir ini terjadinya pembunuhan dan tindakan kriminal lainnya yang ditujukan kepada tokoh agama, dan pelakunya dianggap gila. Analisis penulis dia bukan gila dalam pandangan medis, tapi emosinya dipermainkan, mungkin ada orang lain yang sudah terlatih dalam hal ini, memanfaatkan kelemahan emosinya untuk kepentingan tertentu lalu dia tidak lagi berpikir resiko yang dihadapi secara akal sehatnya. Perasaannya disentuh dibandingkan akalnya.

Alquran sering berbicara kepada manusia menyentuh perasaan manusia, Seperti orang mati syahid diberi rahmat dan hidup abadi disisi Tuhannya (lihat: QS. Ali Imran 169-171), orang berinfak maka dilipatgandakan pahalanya (Lihat: QS. Albaqarah 261). Surga dan pahala sesuatu yang belum didapat dan dlihat manusia tapi Allah SWT menyuruh umat menyakininya.

Sangat berbahaya sesuatu dilakukan dengan murni menggunakan perasaan. Sebab secara langsung mematikan peran akal dalam merenungkan setiap kejadian. Beragama Islam menggunakan demensi qolbu dan akal secara benar, tujuannya agar pelaksanaan pengamalan agama lebih bersifat realistis. Tidak menghilangkan pijakan obyektivitas. Dengan demikian nilai keilahian yang terkandung dalam kitab suci bisa terimplementasi dalam kehidupan. Dibukanya ruang akal dan dilembutkan jiwa, adalah kombinasi sempurna melihat Islam agama Dunia. Kehadirannya menjawab problematika kehidupan. Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here