TAFSIR ALQURAN APLIKATIF Urusan Dunia Akhirat (Surat Albaqarah: 219-220) Oleh Dr Faisar A. Arfa, MA Dosen Pascasarjana UIN Dan UMSU

0
409

Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya”. Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: “Yang lebih dari keperluan.” Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir tentang Dunia dan Akhirat. Dan mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim, katakalah: “Mengurus urusan mereka secara patut adalah baik, dan jika kamu bergaul dengan mereka, maka mereka adalah saudaramu; dan Allah mengetahui siapa yang membuat kerusakan dari yang mengadakan perbaikan. Dan Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia dapat mendatangkan kesulitan kepadamu. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana  (QS. Albaqarah: 219-220)

Khamr dan judi dua aktivitas manusia dilarang dalam Islam. Alquran menggambarkan khamr dan judi memunyai manfaat bagi manusia namun kerusakan yang ditimbulkan keduanya jauh lebih besar. Sebab itu para pembaca Alquran diajak berpikir logis mempertimbangkan antara mencari manfaat yang sedikit dan menghindari kerusakan yang besar.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Umar bin Khaththab yang menceritakan, ketika turun ayat pengharaman khamr, ia berdoa, “Ya Allah terangkanlah kepada kami ihwal khamr sejelas-jelasnya.” Maka turunlah ayat yang ada dalam Surat al-Baqarah ini: yas-aluunaka ‘anil khamri wal maisiri qul fiiHimaa itsmun kabiirun (Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan judi. Katakanlah, pada keduanya itu terdapat dosa yang besar”).

Kemudian Umar dipanggil dan dibacakan ayat itu kepadanya. Yas-aluunaka ‘anil khamri wal maisiri (Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan judi). Sebagaimana dikatakan Umar bin Khaththab ra, khamr adalah segala sesuatu yang dapat mengacaukan akal. Demikian juga dengan maisir yang berarti al-qimar (judi). Firman-Nya selanjutnya: qul fiiHimaa itsmun kabiiruw wa manaafi’u lin naasi (Katakanlah, pada keduanya itu terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia).

Khamr dan maysir adalah dua kebiasaan buruk orang jahiliah ketika Islam datang, Kebiasaan ini malah merupakan identitas kebanggaan mereka. Hingga kini pun di belahan dunia manapun kebiasaan minuman keras tetap berlangsung dan melekat sebagai bagian dari budaya bangsa tersebut. Kekeliruan terbesar dalam persoalan khamr ini adalah memandang dosa yang dimaksud di sini hanya persoalan agama dan masuk Neraka. Padahal Alquran bicara tentang mudharat yang ditimbulkan kedua perbuatan ini dalam kehidupan sehari-hari. Minuman keras itu jelas tidak baik buat kesehatan manusia dalam jangka panjang. Banyak atlet sepakbola hancur karirnya karena alkohol. Atlet berprestasi adalah yang menjauhi minuman keras. Tidak ada atlat sukses bila mengonsumsi minuman beralkohol. Begitu juga dengan gambling, judi yang tidak pernah memberikan manfaat yang lama bagi para pecandunya.

Kedua kebiasaan ini kerap menghancurkan pelakunya dan orang-orang di sekitarnya termasuk keluarga yang harus dinafkahi. Tidak heran bila kita menyaksikan ada keluarga dihancurkan oleh salah satu dari dua kebiasaan ini—apakah kebiasaan minuman keras atau berjudi. Apalagi kalau keduanya sekaligus dilakukan akan bisa menguras dompet seseorang sehingga dia tidak bisa membantu orang lain. Kesan ini terasa jelas ketika Alquran menggabungkan perihal khamr dan maysir dengan persoalan infak yang merupakan perbuatan baik dan sangat dianjurkan Allah SWT. Tetapi pelaksanaannya bisa terkendala apabila manusia boros, dan salah satu pemborosan tersebut adalah dengan kebiasaan minum khamr dan berjudi.

Persoalan yang sering juga ditanyakan manusia ketika disuruh berinfak adalah apa yang bisa diinfakkan? Alquran menjawab: yang kamu infakkan adalah kelebihan (surplus) dari kebutuhan kamu sehari-hari. Jawaban ini kesannya relative, sangat tergantung kebutuhan pribadi masing-masing. Namun patut dicatat kelebihan kebutuhan bukan keinginan, sebab kebutuhan mendasar manusia bisa dihitung, sedangkan keinginan tidak bisa dihitung, karenanya tidak mungkin ada kelebihan yang bisa diambil.

Firman Allah SWT: wa yas-aluunaka maa dzaa yunfiquuna qulil ‘afwa (Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: Yang lebih dari kebutuhan). Kata al-‘afw dibaca manshub atau marfu’ dan keduanya baik, beralasan dan berdekatan. Ibnu Abi Hatim menceritakan, ayahku memberitahu kami, ia menuturkan bahwa Mu’adz bin Jabal dan Tsa’labah pernah mendatangi Rasulullah seraya mengatakan: “Ya Rasulullah, sesungguhnya kami mempunyai sejumlah budak dan keluarga, bagaimana kami menginfakkan harta kami?” Maka Allah Ta’ala menurunkan ayat: wa yas-aluunaka maa dzaa yunfiquuna (Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan).

Dapat disimpulkan dari hadis yang diriwayatkan Ibnu Jarir dari Abu Hurairah ra, ia menceritakan: “Ada seseorang yang mengatakan: ‘Ya Rasulullah, aku mempunyai satu dinar.’ Maka Beliau bersabda: `Nafkahkanlah untuk dirimu sendiri.’ Orang itu menjawab: ‘Aku masih punya yang lain lagi.’ Dan Beliau pun bersabda: ‘Nafkahkanlah untuk keluargamu.’ Orang itu masih berkata lagi: ‘Aku masih punya yang lain lagi, ya Rasulullah.’ Beliau bersabda: ‘Nafkahkanlah untuk anakmu.’ ‘Aku masih punya dinar yang lain lagi.’ Dan Rasulullah bersabda: ‘Engkau lebih tahu (kepada siapa uang itu harus dinafkahkan).

Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, tentang kata-kata fi aldunya wal akhirat pada awal ayat 220 itu yaitu tentang kefanaan dan sirnanya Dunia serta datangnya negeri Akhirat dan kekekalannya. Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Sha’aq at-Tanimi, ia pernah menyaksikan al-Hasan membaca ayat dari Surat al-Baqarah ini: la’allakum tatafakkaruuna fid dun-yaa wal aakhirati; lalu ia berkata: “Demi Allah, barangsiapa memikirkannya, maka ia akan mengetahui bahwa Dunia ini adalah tempat yang penuh cobaan dan ujian, serta tidak abadi. Sedangkan Akhirat adalah tempat pemberian balasan dan kekal.”

Ayat ini dikaitkan dengan anak yatim, “Dan mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim. Katakanlah: Mengurus urusan mereka secara patut adalah baik, dan jika kamu bergaul dengan mereka, maka mereka adalah saudaramu dan Allah mengetahui siapa yang membuat kerusakan daripada yang mengadakan perbaikan. Dan jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia dapat mendatangkan kesulitan kepadamu.” Ada orang mengasuh anak yatim karena takut termakan harta mereka lalu berusaha memisahkan makanan dan minumannya dari makanan dan minuman anak yatim yang diasuhnya. Lalu menyisakan sebagian dari makanannya dan ia simpan untuk si yatim, sampai si yatim memakannya, atau makanan itu jadi basi.

Karena menyulitkan ketika mengasuh anak yatim tersebut, mereka melaporkan peristiwa itu kepada Rasulullah SAW. maka Allah pun menurunkan ayat ini sebagai solusinya: Yas-aluunaka ‘anil yataamaa qul ishlaahul laHuu khairuw wa in tukhaalithuuHum fa ikhwaanukum. Setelah itu mereka pun menggabung makanan dan minuman mereka dengan makanan dan minuman anak yatim. Alquran memberikan perhatian lebih terhadap anak yatim. Karena itu umat Islam didorong mengadakan fasilitas pengurusan anak yatim. Tidak ada proyek Akhirat yang diulang-ulang Allah untuk dikerjakan di Dunia ini kecuali urusan pemeliharaan anak Yatim.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here