Wakil Asisten Deputi Pengembangan SDM Pariwisata dan Hubungan Antar Lembaga Janne Dalawir, SH, MM, (duduk kedua dari kanan), Ketua LSP Tirtanirwana Indonesia Yulia Himawati (duduk kanan) berfoto bersama peserta dan pengawas sebelum memulai ujian kompetensi sertifikasi profesi bagi para pelaku usaha spa di tempat uji kompetensi (TUK) Lasara di Jalan Pembangunan no.74 Medan, Rabu (14/3). (Waspada/Ist)

MEDAN (Waspada): Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menggelar ujian kompetensi sertifikasi profesi bagi para pelaku usaha pariwisata, khususnya spa, di tempat uji kompetensi (TUK) Lasara di Jalan Pembangunan no.74 Medan, pada Rabu (14/3).

Tujuan diadakannya uji kompetensi tersebut adalah untuk meningkatkan daya saing sumber daya manusia (SDM) di bidang pariwisata. Hal ini diungkapkan oleh Janne Dalawir, SH, MM, yang mewakili Asisten Deputi Pengembangan SDM Pariwisata dan Hubungan Antar Lembaga.

“Itu untuk meningkatkan daya saing SDM manusia di bidang pariwisata, khususnya spa, serta pengakuan atas kemampuan seseorang pada bidangnya,” terang Janne Dalawir.

Sertifikasi kompetensi itu sendiri merupakan bukti pengakuan tertulis atas penguasaan kompetensi kerja pada jenis profesi tertentu yang diberikan oleh Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) atau Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).

Kegiatan ini berfokus pada tiga hal penting yang harus dikuasai para peserta, yaitu attitude (sikap), skill (keahlian), dan knowledge (pengetahuan).

Para peserta ujian tersebut datang dari berbagai salon kecantikan dan hotel yang ada di Kota Medan atas undangan LSP Tirtanirwana Indonesia yang bekerjasama dengan Kementerian Pariwisata dan TUK Lasara.

Untuk tahun 2018, pemerintah menargetkan 75.000 SDM yang disertifikasi, yang terdiri dari 37.500 di sektor industri dan 37.500 di sektor pendidikan (SMK dan perguruan tinggi).

Kegiatan ini juga memiliki dasar hukum  yang tertera dalam Undang-undang Nomor 10 tahun 2009 tentang kepariwisataan, Peraturan Pemerintah Nomor 52 tahun 2012 tentang Sertifikasi Kompetensi dan Sertifikasi Usaha di bidang pariwisata, Peraturan Menteri Nomor PM.53/HM.001/MPEK/2013 Tentang Standar Usaha Hotel  yang wajib memiliki 50% karyawan yang tersertifikasi oleh LSP Pariwisata, dan juga Perjanjian Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) tahun 2015 mengenai tenaga kerja di bidang pariwisata dapat bekerja di lintas Negara ASEAN.

Dengan demikian, Kementerian Pariwisata tidak hanya menggelar ujian kompetensi sertifikasi profesi ini di Medan saja, melainkan juga di 34 provinsi dan kabupaten di seluruh Indonesia.

Dalam keterangannya, Ketua LSP Tirtanirwana Indonesia, Yulia Himawati, menyampaikan bahwa pihaknya menerima kuota sebanyak 100 orang spa therapist yang ada di Medan. Ujian ini sendiri berlangsung selama 2 hari yang perharinya diikuti oleh 50 peserta sejak Selasa (13/3). “Kami berharap pelaku usaha spa semakin mampu bersaing dengan SDM dari luar (negeri). Selain itu agar pihak asing dan domestik semakin menyukai spa yang ada di daerah tujuan wisata mereka,” ujar Yulia Himawati.

Lebih lanjut, Yulia juga menyebutkan bahwa pihaknya ingin menepis stigma negatif tentang spa yang selama ini beredar, terutama dengan adanya kegiatan usaha spa plus-plus.

Spa sendiri memiliki standar sesuai Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) yang dikhususkan untuk perawatan tubuh, wajah, rambut, dan hydrobath, untuk kesehatan.

Kementerian Pariwisata telah menyelenggarakan ujian kompetensi sertifikasi profesi ini sejak 2015. Ke depannya, jika animo masyarakat sangat besar, LSP akan mengajukan penambahan kuota peserta  pada pemerintah. (And)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here