Zacharia Mutai, seorang ranger penjaga dari Balai Konservasi Ol Pejeta di Kenya, menemani dan mengucapkan pesan perpisahan kepada Sudan, badak putih utara jantan terakhir di dunia sebelum ia disuntik mati untuk menghindarinya dari siksaan rasa sakit atas komplikasi penyakit yang dideritanya. (Ami Vitale/National Geographic)

“Kematian Sudan merupakan simbol hilangnya rasa hormat manusia terhadap alam. Dan hal itu membuat sedih semua orang yang mengenalnya. Namun demikian, kita tidak boleh menyerah,” ujar Jan Stejskal, direktur proyek internasional Kebun Binatang Dvůr Králové di Republik Ceko.

Sudan merupakan badak putih utara jantan terakhir di dunia. Ia disuntik mati  oleh tim dokter hewan dari Balai Konservasi OI Pejeta di Nairobi, Kenya, pada Senin (19/3) akibat penyakit yang dideritanya. ‘Raksasa lembut’ itu di usianya yang menginjak 45 tahun mengalami disfungsi otot dan tulang yang membuatnya tidak lagi mampu berdiri serta infeksi kulit yang kronis.

Badak kelahiran Sudan Selatan itu meninggalkan anak dan cucunya yang bernama Najin dan Patu. Kedua badak betina tersebut menjadi badak putih utara terakhir di dunia. Sudan termasuk berumur panjang, karena harapan hidup jenisnya rata-rata mencapai 40-42 tahun.

Saat Sudan lahir pada 1970, diperkirakan ada 500 badak putih utara yang berkeliaran di Afrika Tengah. Namun populasi mereka menurun drastis hingga hanya tersisa 15 ekor dalam 1 dekade terakhir.

Sudan ditangkap dari alam liar pada 1973 saat berusia 3 tahun. Ia kemudian dibawa menuju Kebun Binatang Dvůr Králové di Republik Ceko. Namun, pada 2009 ia bersama Najin, Patu, dan seekor badak putih utara jantan lainnya, dikembalikan ke Kenya dan dirawat oleh Balai Konservasi Alam Liar Ol Pejeta.

Balai Konservasi Alam Liar Ol Pejeta di Kenya berusaha keras menjaga kelangsungan hidup badak putih utara terakhir itu. Mereka sampai memberikan makanan khusus serta mengerahkan rangers bersenjata lengkap guna mengawal Sudan dan keluarganya selama 24 non-stop.

Ketiganya hidup di lahan seluas 90.000 hektar yang dikelilingi oleh kamera pengawas, alat pelacak yang disematkan pada cula, pagar berduri, drone, serta beberapa anjing penjaga, agar terhindar dari pemburu liar yang mengincar cula mereka.

Populasi badak putih utara di Uganda, Republik Afrika Tengah, Sudan, dan Chad, menurun secara signifikan saat terjadi krisis perburuan liar besar-besaran pada 1970-1980an. Tindakan yang tidak berperikemanusiaan itu terjadi akibat tingginya permintaan cula badak yang dianggap sebagai obat tradisional China di Asia dan untuk dibuat sebagai gagang belati di Yaman.

Populasi terakhir badak putih utara di Republik Demokratik Kongo yang tinggal sejumlah 20-30 ekor terbunuh akibat perang di negara itu pada akhir 1990 sampai awal tahun 2000. Dan pada 2008 badak putih utara di alam liar telah dinyatakan punah.

Kematian Sudan membuat kalangan pejantan badak putih utara resmi punah meski tersisa dua betina. Namun begitu, para ilmuwan masih belum menyerah. Mereka berusaha melakukan inseminasi buatan kepada dua betina yang masih tersisa melalui teknologi fertilisasi in vitro (IVF).

Tim dokter yang terdiri dari para ahli di bidangnya saat ini berharap dapat mengembangkan teknik sel telur dan sperma beku yang dapat melanjutkan kelangsungan hidup badak putih utara.

“Ia (Sudan) merupakan duta spesiesnya dan akan selalu dikenang atas upayanya  mengumpulkan kesadaran atas ancaman, yang tidak hanya menimpa badak tetapi juga ribuan spesies yang terancam punah, secara global sebagai hasil dari aktivitas manusia yang tidak terkontrol,” ujar CEO Balai Konservasi Ol Pejeta, Richard Vigne. (Associated Press/Daily Mail/Aldion)

Baca Juga: Badak Jantan Putih Utara Terakhir Dunia Mati

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here