Memahami Tanda-tanda Zaman Oleh Prof Dr Muzakkir, MA Guru Besar Fakultas Ushuluddin Dan Studi Islam UIN SU

0

Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh tipu daya, dimana pendusta dipercaya dan orang jujur didustakan, pengkhianat diberi amanah dan orang yang amanah dikhianati, dan berbicara di zaman itu para Ruwaibidhoh.” Ditanyakan, siapakah Ruwaibidhoh itu? Beliau bersabda, “Orang bodoh yang turut campur dalam urusan masyarakat luas.” (HR. Al-Hakim).

Sesungguhnya semua yang diciptakan Allah SWT tidak ada yang sia-sia, pasti ada hikmah, pesan, manfaat dan pembelajaran  bagi orang yang memiliki kecerdasan akal dan hati nurani. Sejatinya dengan nurani (dua cahaya) yaitu cahaya iman dan cahaya ilmu itu kita mampu membaca isyarat dan memahami tanda-tanda zaman sebagai realitas yang terjadi untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT dan senantiasa melakukan evaluasi diri secara totalitas.

Sebagaimana firman Allah SWT, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan Langit dan Bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Mahasuci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa Neraka (QS.Ali-Imran : 191).

Setidaknya ada lima tanda-tanda zaman sebagaimana pesan Nabi SAW dalam Kitab Sunan Ibnu Majah, Hadis yang bersanadkan dari Abi Hurairah ra, Nabi SAW bersabda: Zaman saling berdekatan, ilmu (keislaman) dihilangkan atau berkurang (keberkahannya), berbagai fitnah bermunculan, berleluasanya sifat bakhil, dan banyak berlaku kriminalitas, yaitu pembunuhan (HR. Ibnu Majah). Memahami tanda-tanda zaman itu sebuah keniscayaan saat ini, tidak cukup dengan penglihatan dua mata, tetapi dengan mata hati yang lebih dalam (fuad), memfungsikan pancaindera tepat dan benar. Sehingga pesan-pesan Allah SWT menjadi pembelajaran dan pelita hidup menerangi di usia yang masih tersisa ini.

Tanda-tanda zaman itu; Pertama, zaman saling berdekatan (yataqaarabuzzaman), waktu yang berlalu terasa begitu singkat, apalagi tidak diisi kebaikan hidup menjadi semakin jauh dari keberkahan. Banyak waktu terbuang sia-sia tanpa kreativitas bermanfaat, padahal waktu semakin dekat menuju pintu-pintu kematian. Inilah orang yang paling merugi dalam perjalanan waktu hidupnya. Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya menaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran (QS. Al-Ashr: 1-3).

Pada saat ini perjalanan waktu terasa singkat. Inikah tanda akhir zaman? Rasulullah SAW pernah bersabda: Tidak akan tiba hari Kiamat hingga zaman berdekatan, setahun bagaikan sebulan, sebulan bagaikan sepekan, sepekan bagaikan sehari, sehari bagaikan sejam dan sejam bagaikan terbakarnya pelepah pohon kurma (HR. Turmizi).

Kedua, ilmu (keislaman) dihilangkan atau berkurang keberkahannya (wa yanqushul ilmu). Ilmu adalah cahaya dalam kehidupan, apalagi ilmu-ilmu agama yang menuntun manusia hidup dalam kebaikan, kebenaran dan kebahagiaan Dunia Akhirat. Alquran adalah sumber inspirasi ilmu pengetahuan, bahkan sains modern yang berkembang hari ini pun sudah tertulis dalam Alquran. Ketika hari ini orang terkagum melihat dua laut yang bertemu tapi tidak bercampur, bahkan berbeda warna dan rasa, seperti Selat Gibraltar yang memisahkan benua Afrika dan Eropa, antara Moroko dan Spanyol.

Alquran telah menjelaskannya: dan Dialah yang membiarkan dua laut yang mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi (QS.Al-Furqan: 53). Ilmu akan menjadi cahaya, jika tidak diiringi dengan kemaksiatan, banyak orang berilmu tetapi masih suka berbuat salah, dia kehilangan cahaya ilmu, sehingga seperti hidup dalam kegelapan senantiasa melakukan yang salah. Allah SWT berfirman:  Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka (QS.Al-Muthaffifin: 14). Ilmu yang masih diiringi maksiat akan menutupi cahaya hati, sejatinya semakin tinggi ilmu seseorang itu semakin menambah ketaatannya kepada Allah SWT, dan tetap tawadhu’ (rendah hati) itulah ilmu yang berkah.

Ketiga, berbagai fitnah bermunculan (wa tazharul fitan). Apapun yang kita miliki saat ini semua itu ujian dari Allah SWT: Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu Dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, Maka Dia akan berkata: “Tuhanku telah memuliakanku”. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya Maka Dia berkata: “Tuhanku menghinakanku” (QS.Al-Fajr : 15-16). Kesenangan dan kesusahan pun ujian dalam hidup ini, tetapi fitnah yang lebih dikhawatirkan sebagaimana Nabi SAW bersabda: Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh tipu daya, dimana pendusta dipercaya dan orang jujur didustakan, pengkhianat diberi amanah dan orang yang amanah dikhianati, dan berbicara di zaman itu para Ruwaibidhoh.” Ditanyakan, siapakah Ruwaibidhoh itu? Beliau bersabda, “Orang bodoh yang turut campur dalam urusan masyarakat luas.” (HR. Al-Hakim).

Fitnah yang muncul hari ini yang juga sangat berbahaya adalah wanita: Aku tidak meninggalkan satu fitnah pun yang lebih membahayakan para lelaki selain fitnah wanita (HR. Bukhari). Dalam sebuah Hadis juga diingatkan: Sesungguhnya Dunia ini begitu manis nan hijau. Dan Allah mempercayakan kalian untuk mengurusinya, Allah ingin melihat bagaimana perbuatan kalian. Karenanya jauhilah fitnah dunia dan jauhilah fitnah wanita, sebab sesungguhnya fitnah pertama kali di kalangan Bani Israil adalah masalah wanita (HR. Muslim).

Keempat, berleluasanya sifat bakhil (wa yulqasyuhhu). Berada di dalam Surga, mereka tanya menanya, tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa, “Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (Neraka)?Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, dan adalah kami membicarakan yang bathil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya (QS.Al-Muddasir : 40-45).

Ketika kaum Muhajirin disambut penduduk kota Madinah (kaum Anshor), mereka memuliakan rasa persaudaraan itu dengan memberikan apa saja yang dibutuhkan saudaranya. Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka Itulah orang orang yang beruntung (QS.Al-Hasyar: 9).

Hidup yang paling indah ketika kita mampu memberikan sesuatu yang membahagiakan orang lain. Nabi SAW bersabda: Barangsiapa yang melapangkan satu kesusahan Dunia dari seorang Mukmin, maka Allâh melapangkan darinya satu kesusahan di hari Kiamat. Barangsiapa memudahkan (urusan) orang yang kesulitan (dalam masalah hutang), maka Allâh Azza wa Jalla memudahkan baginya (dari kesulitan) di Dunia dan Akhirat. Barangsiapa menutupi (aib) seorang Muslim, maka Allâh akan menutup (aib)nya di Dunia dan Akhirat. Allâh senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya (HR.Muslim).

Kelima, dan banyak berlaku kriminalitas, yaitu pembunuhan (wa yaktsurul haraj). Hari ini sebagian manusia itu bagaikan mesin pembunuh yang tidak punya rasa kemanusiaan, tidak sedikit  nyawa tidak berdosa menjadi korban. Betapa besarnya dosa pembunuhan itu, …Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain atau bukan karena membuat kerusakan di muka Bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya dan Barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah Dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. dan Sesungguhnya telah datang kepada mereka Rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak di antara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan di muka bumi (QS.Al-Maaidah : 32).

Dalam sebuah Hadis disebutkan akan adanya rekonstruksi ulang kejadian bunuh diri seseorang, sebagai siksaan baginya, hanya saja TKP-nya berbeda, yaitu di Akhirat. Barangsiapa menjatuhkan diri dari atas gunung, kemudian bunuh diri, maka dia berada di Neraka, dia akan menjatuhkan diri ke dalam Neraka untuk selamanya. Dan barangsiapa minum racun, kemudian bunuh diri, maka racunnya itu berada di tangannya kemudian ia minum di Neraka Jahannam untuk selama-lamanya. Dan barangsiapa bunuh diri dengan alat tajam, maka alat tajamnya itu di tangannya akan menusuk dia di Neraka Jahannam untuk selama-lamanya (HR.Bukhari dan Muslim). Semoga Allah SWT memberikan kita kecerdasan memahami tanda-tanda zaman itu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here