Membangun Jiwa Sufistik Manusia Kota Oleh Zailani, MA Dosen Fakultas Agama Islam UMSU

0

Keterkaitan hati dengan Tuhannya di atas segala-gala, tidak ada yang lain. Ketakutannya bukan dipecat atasan, atau bangkrutnya usaha, tetapi hilangnya diri di daftar hamba Allah

Di tengah hiruk pikuk suara manusia dan mesin. Antar manusia saling berlomba membingkai masa depan dan eksistensi keakuannya. Tidak jarang di antara mereka saling bersinggung iri dalam menyaksikan keberhasilan orang lain. Pergi pagi pulang petang. Bahkan ada yang sampai harus bermalam, demi satu tujuan bisa bahagia.

Tidak jarang satu kebahagiaan dikorbankan demi mencapai kebahagiaan yang lebih besar. Atau dalam dalam aspek yang lain, terjadinya perubahan definisi bahagia. Secara umum bahwa, berkumpul bersama keluarga adalah kesenangan yang tak tergantikan. Namun seiring arus zaman, tantangan hidup semakin dalam, kebutuhan pribadi semakin besar, maka jenis bahagia tersebut tidak lagi semata bersama keluarga, tapi adalah aktualisasi diri.

Menurut Maslow, seorang tokoh psikolog asal Amerika, manusia mempunyai kebutuhan dasar. Salah satu kebutuhan dasar manusia tersebut adalah aktualisasi diri. Berdasarkan pandangan di atas, tidak semuanya orang yang mengejar jabatan berpikir tentang penumpukan harta, tapi ingin diakui keberadaan sebagai komunitas sosial

Apakah hal ini yang menjadi salah satu penyebab seorang yang sudah tidak lagi berada di satu tampuk pimpinan, pada level dan demensi apapun, merasakan kekosongan batin. Merasa tidak dihargai, bingung melihat perubahan orang kepadanya. Yang dulu membangga-banggakannya sekarang mengabaikannya. Petuah dan komentarnya tidak lagi didengar. Perasaan terabaikan tersebut mampu melahirkan post power syndrome. Sebuah gejala dimana penderita hidup dalam bayang-bayang kebesaran masa lalu. Kebesaran ini bisa berupa kekayaan, jabatan, kecantikan, kecerdasan dan lain-lain. Selama ini dia disegani orang, seiring berjalannya waktu, hal itu berubah. Penyakit ini sangat membahayakan bagi perkembangan jiwa menuju Tuhan. Batinnya lebih sensitif, perasaan dikucilkan orang lain dan cendrung belum siap dengan status barunya.

Sepatutnya hal ini tidak muncul, karena cepat atau lambat semua yang dimiliki pasti sirna. Perlu pemeliharaan batin dalam mengelola diri sendiri. Sebab selama ini jiwa melakukan hubungan tidak layak dengan Dunia. Persekongkolan dengan kehidupan materilistik membuat dia lumpuh mengenal rabb-nya. Batin lebih sensitif dengan sindiran manusia daripada nasehat Quran. Lebih menjaga martabat di hadapan orang dibandingkan Allah. Hal ini terjadi dikarenakan semua kebendaan telah menyatu dengannya. Dampak negatipnya bukan hanya hilang identitas kehambaan, tapi terlihat jejak jejak syetan di perjalanan hidupnya.

Jiwa secara kodratnya jenis makhluk yang tidak dapat dipegang keberadaannya apalagi wujudnya. Dia bersifat immaterial. Namun sosok ini adalah legalitas utama yang menentukan seberapa besar harga manusia dihadapanNya. Alquran sebagai kalam mulia, tidak meninggalkan manusia dalam keduniaan tanpa petunjuk. Banyak ayat yang secara ekplisit dan implisit jiwa merupakan ujung tombak eksistensi nilai insani dalam diri seseorang. Untuk mendukung langkah tersebut, para ahli kebatinan (baca: sufi) menganjurkan beberapa riyadah. Uzlah adalah satu upaya menuju ketenangan.

Salahuddin At-Tijanni seorang sufi, mengatakan bahwa adalah membiasakan diri untuk lapar, haus, diam, mengekang hawa nafsu dan rindu hanya kepada Allah. Menurutnya ada tiga macam‘uzlah. Pertama, ‘uzlah dalam berperilaku, yakni meninggalkan sifat-sfat yang tercela dan seluruh prilaku hina. Kedua, ‘uzlah dalam hati, yakni meninggalkan keterkaitan hati kepada makhluk Allah, keluarga, harta, anak, sahabat dan meninggalkan kekhawatirannya sendiri serta memosisikan semua orang sebagai realitas antara dirinya dengan zikir kepada Allah. Mereka hanya ada dalam kaitannya dengan Allah SWT. Ketiga, ‘uzlah dalam jasad kasar, yakni mengasingkan diri digurun, tanah tak berpenduduk, padang pasir, tempat jauh dari keramaian.

Untuk poin satu, hal ini sejalan dari keinginan syariat. Bahwa menjauhi perbuatan tercela bagian yang tak terpisahkan dengan semangat beragama yang benar. Karena ukuran kemanusiaan adalah mulia dan hinanya seseorang dalam pandangan Allah. Menghindari perbuatan keji di Dunia kerja, dalam lingkungan rumah tangga,bermasyarakat, dan lain-lainnya sesuatu yang menjadi harapan qolbun salim.

Untuk ‘uzlah yang kedua, menempatkan selain Allah di “tangan,” jiwa murni hanya untuk kebesaran Allah. Jadi kalau seseorang bekerja secara professional, menjadi suami, istri dan anak yang baik, ikut berpartisipasi dimasyarakat dan event-event yang lain, porosnya hanya satu karena ingin ridho Allah. Itu bagian ‘uzlah model kedua. Juga semua yang disebutkan di atas adalah perintah Allah yang tidak bisa diabaikan. ‘Uzlah poin kedua tidak lantas membuat seseorang menjauhi keluarga, berhenti bekerja dan meninggalkan hiruk pikuknya kehidupan yang heterogen, tapi lintasan niat seseorang tidak berhenti ditataran makhluk. Sebab kegagalan kebahagiaan diawali makhluk sebagai poros tindakan dan berpikir.

Sufi-sufi kota seperti inilah yang tahan uji dalam dilema dan sengketa kehidupan yang carut marut. Dia tetap berdasi dan berpenampilan necis, berada di tempat kerumunan orang, di gedung–gedung pencakar langit, di instansi pemerintahan, swasta dan acara sosial lainnya. Ukuran‘uzlah kedua ini adalah keterkaitan hati dengan Tuhannya di atas segala-gala, tidak ada yang lain, baginya ketakutan bukan dipecat atasan, atau bangkrutnya usaha tetapi hilangnya diri di daftar hamba Allah, inilah yang paling dicemaskannya. Dengan meletakkan mahkluk di luar hati membuat dirinya merdeka dalam bersikap. Pujian atau cacian bagaikan simponi kehidupan dan pernak pernik pengalaman yang mesti dilalui.

Untuk sampai kepada tahap tersebut dan tahan banting di tengah serangan gelombang hedonisme dan materialisme, mau tak mau ibadah ritual bersifat wajib dan sunat dikerjakan terlebih dahulu. Sebab kunci mengarahkan jiwa kepada ‘uzlah jenis kedua tersebut dengan membiasakan ibadah pribadi dan sosial pada level peningkatan kualitas dan kuantitas terus menanjak. Sesorang yang terbiasa shalat Dhuha dua rakaat, maka naikkan level secara bertahap sampai delapan rakaat. Jika Tahajjud hanya empat rekaat di tingkatkan sampai dengan delapan rakaat ditambah dengan witir. Bagi yang bisa baca Qur’an, usahakan setiap hari membaca dengan target. Banyak ibadah ritualyang punya potensi untuk digandakan jumlahnya. Untuk yang sosial, kalau membiasakan setiap jumat berderma maka bisa ditambahkan harinya dan berikut nominalnya.

Kalau biasanya setiap pekerjaan pasti berbalas dengan uang, siapkan satu pekerjaan tidak membutuhkan tidak menerima bayaran. Jika sebelumnya sering bersinggungan dengan yang subhat, maka pada periode selanjutnya yang tertinggal hanya yang halal. Banyak contoh ibadah sosial yang secara mutu dan jumlah bisa ditingkatkan. Bagi penulis hal ini penting, karena ilmu tidak cukup melawan arus kemungkaran yang datang secara bergelombang dan sistematis menyerang keimanan seseorang.

Kenapa penulis katakana ilmu belum cukup? Sebab ilmu letaknya di akal sedang amal letaknya di jiwa. Maka tidak heran sebagian pelaku kejahatan kelas tinggi dilakukan oleh orang yang sudah tahu yang dilakukan adalah salah. Tetapi dia tak mampu menghentikannya. Sebab jiwa tidak mempunyai kekuatan iman. Itulah kenapa begitu pentingnya ibadah-ibadah di atas.Sedangkan untuk ‘uzlah jenis ketiga, penulis tidak akan menjabarkan karena dia masuk dalam wilayah yang lebih khusus. Waallahu a’lam.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here