MEDAN (Waspada): Aksi mahasiswa yang menguasai ruang rapat paripurna DPRD Sumut, 9 April lalu, dinilai merupakan bentuk kekecewaan mereka atas janji yang diberikan. Sebab, dalam pikiran mereka, susah terpatri kalau anggota DPRD Sumut lebih memilih kunjungan kerja dari pada duduk di kantor mendengar aspirasi masyarakat.

“Apalagi saat aksi unjukrasa berlangsung, di gedung dewan dilaksanakan rapat paripurna. Tetapi paripurna tersebut batal, karena tidak korum. Inilah yang jadi pemicu mahasiswa menguasai ruang paripurna,” kata Pengamat Sosial dari Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) Mujahiddin, Rabu (11/4).

Aksi menduduki kursi 100 anggota DPRD Sumut tersebut, lanjutnya, tentunya menjadi catatan bersama, bahwa lagi-lagi lembaga legislatif memang menjadi lembaga yang sulit untuk menempati janji mereka. “Dan hal tersebut dapat membuat kredibilitas DPRD menjadi rendah,” kata Mujahidin.

Dia mengaku, aksi yang dilakukan kawan mahasiswa tersebut patut untuk diapresiasi. Sebab, bagaimana pun mahasiswa adalah bagian dari pengawasan, khususnya dalam wilayah kebijakan publik.

Walau pun kebijakan untuk kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite itu bukan berada pada DPRD Sumut, tetapi setidaknya DPRD menjadi lembaga yang dapat menyampaikan aspirasi rakyat, khususnya kelompok mahasiswa.

Beri apresiasi

Sementara itu Ketua Komisi Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Sumut Sugiat Santoso, menilai aksi mahasiswa tersebut terbilang heroik. Pihaknya juga memberi apresiasi, mengingat hal itu pertanda bahwa saat ini daya kritis mahasiswa telah kembali, tatkala ada kebijakan yang menyengsarakan rakyat.

“Aksi penguasaan ruang rapat paripurna DPRD Sumut oleh mahasiswa harus kita apresiasi. Masyarakat hari ini sudah frustasi, merasakan ketidakadilan, dan tidak ada yang memperhatikannya. Aksi itu memberi harapan besar untuk masyarakat,” katanya.

Sugiat menjelaskan aksi tersebut menjadi bukti bahwa mahasiswa Sumut dan pergerakannya saat ini sangat bermartabat. “Bermartabat itu pro rakyat, membela rakyat, menuntut keadilan untuk rakyat. Maka dapat daulat, mahasiswa kita sangat bermartabat,” tegasnya.

Sugiat Santoso, yang juga mantan tokoh pergerakan mahasiswa itu mendorong mahasiswa Sumut untuk menjadi garda terdepan dalam melawan kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat.

“Mahasiswa harus berada di garis terdepan dalam melawan kezaliman dan kebathilan yang dilakukan pemerintah melalui kebijakan-kebijakannya. Maju terus, kita buat Indonesia bermartabat,” tandasnya. (h02/crdsC)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here