KMKPB Lepas Anak Penyu Ke 5.000

0
213
Prof. Abdul Rauf didampingi Ketua KMKPB Syahbudi Sikumbang dan Sekretaris Nilfan Aceh SPdI, serta anggota dan mahasiswa FP USU melepasliarkan Tukik ke 5000, di Pantai Binasi Sorkam Barat Tapteng. Waspada/Ist

TAPTENG (Waspada): Kelompok Masyarakat Konservasi Pantai Binasi (KMKPB) Tapanuli Tengah, di Kel. Binasi, Kec. Sorkam Barat, Kab. Tapanuli Tengah, melepas-liarkan anak penyu atau tukik genap menjadi 5.000 ekor, pekan lalu.

Kegiatan penangkaran dan pelepasan anak tukik ke lautan Samudra Hindia dilakukan KMKPB dipimpin oleh Syahbudi Sikumbang sejak tahun 2015. Kegiatan ini didasarkan oleh kesadaran 15 warga di kawasan pantai barat Sumatera Utara, yang melihat fenomena pemburuan terhadap penyu laut yang tidak terkendali oleh masyarakat nelayan, tidak hanya terhadap penyu dewasa, tetapi juga terhadap telur-telur penyu. “Dengan begitu kekhawatiran semakin terasa akan kepunahan biota laut langka dan dilindungi ini,” ujar Syahbudi.

Hingga saat ini, kata dia, belum ada pihak lain yang melakukan hal yang sama dengan KMKPB, baik pemerintah maupun NGO di daerah kawasan pantai barat Sumatera Utara ini. Perburuan penyu dan telurnya semakin intensif karena harganya cukup mahal dan banyak diminati konsumen, karena diyakini daging dan telurnya dapat menyembuhkan berbagai penyakit.

Dijelaskan Syahbudi, kegiatan penangkaran dan pelepasan tukik-tukik oleh KMKPB, hingga saat ini masih murni swadaya kelompok dengan melakukan iuran kelompok sebesar Rp5.000,- per anggota per pekan.

Biaya penangkaran ini cukup besar yang digunakan untuk penebusan telur penyu dari nelayan/warga yang menemukannya, penjagaan saat proses penetasan di dalam pasir pantai selama sedikitnya 48 hari (untuk 1 periode penetasan alami), pembesaran tukik di bak penangkaran sebelum layak dilepas liarkan.

Hadir dan turut melepas-liarkan anak penyu (tukik) ke 5.000 ini Pakar Konservasi SDA dan Pengelolaan DAS Universitas Sumatera Utara Prof Dr Ir Abdul Rauf MP, yang juga selaku Pembina Kelompok Swadaya Masyarakat Konservasi SDA mitra Kerja Forum DAS Sumatera Utara.

Pada kesempatan itu, Prof Abdul Rauf menuturkan, kegiatan yang dilakukan KMKPB ini sungguh luar biasa. Aktifitas yang sebenarnya merupakan amanat dunia internasional untuk satwa dilindungi ini, dapat dilakukan dengan kemampuan sendiri oleh KMKPB sebuah kelompok rakyat kecil yang jauh dari hiruk pikuk nuansa akademis, pemerintah, dan politis.

“Untuk ini, seharusnyalah semua pihak memberi apresiasi kepada KMKPB ini terutama pemerintah, baik daerah maupun pusat, juga para NGO dan BUMN serta BUMS terkait guna mendukung kegiatan mulia ini. Bila hal ini tidak dilakukan sejak sekarang maka dapat dipastikan 5 tahun ke depan populasi penyu di kawasan pantai barat Sumatera ini akan tinggal nama,” tutur Prof. Rauf. (cwan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here