Menristekdikti: Kejar APK Lewat Pendidikan Jarak Jauh

0

TANGERANG SELATAN (Waspada): Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan tinggi di Indonesia paling rendah di kawasan Asia Tenggara. Saat ini APK pendidikan tinggi Indonesia masih 31,5 persen sementara Malaysia ada di angka 37 persen, Thailand 51 persen, Singapura 82 persen.

Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir mengakui hal itu sebagai tantangan yang harus dihadapi Indonesia. Karenanya dia menilai penting bagi sistem pendidikan tinggi di Indonesia untuk mengejar ketinggalan lewat peningkatan akses dan kualitas.

“Akses dan kualitas pendidikan tinggi kita harus ditingkatkan lewat momentum kemajuan dunia digital saat ini. Terlebih menghadapi era revolusi industri 4.0, maka upaya tersebut tidak boleh ditunda lagi,” kata Nasir dalam acara pertemuan Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI) di Kampus Universitas Terbuka (UT), Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Banten, Senin (16/4).

Peningkatan akses akan dilakukan secara masif lewat Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) atau universitas siber. Memperkuat hal itu, peraturan terkait lembaga yang mengatur PJJ akan terbit awal Mei tahun ini.

“Nanti akan ada lembaga yang mengatur mekanisme terkait PJJ di satu perguruan tinggi. Lembaganya akan diperkuat dengan aturan yang terbit paling lambat akhir April atau awal Mei tahun ini,” kata Nasir.

Selain itu, dia menegaskan akan mereduksi sejumlah peraturan menteri yang dinilai menghambat perkembangan inovasi dan pengembangan sumber daya manusia di dalam dunia pendidikan tinggi. Dia menyebut sejumlah aturan yang membelenggu tersebut diantaranya terkait nomenklatur, tentang pendidikan linier dan sejumlah aturan terkait mekanisme penelitian.

Ketua MRPTNI, Kadarsah Suryadi mengatakan, era revolusi industri menimbulkan persaingan yang kuat antara dunia industri dan dunia pendidikan tinggi. Mobilisasi besar-besaran akan terjadi dari ilmu pengetahuan dan permintaan tenaga kerja untuk industri. Hal itu ditandai dengan besarnya permintaan sertifikasi keahlian yang diinginkan di lapangan kerja.

Hal lainnya adalah kemajuan tenologi informasi yang tidak dapat dielakkan lagi. Kalangan perguruan tinggi dapat memanfaatkan kondisi dimana ada sedikitnya 95 juta jiwa orang yang tersentuh internet untuk memperluas akses pada dunia pendidikan tinggi.

“Era disruptif teknologi seperti saat ini akan terus bergulir dan pendidikan tinggi harus cepat merespon,” kata Kadarsah yang juga Rektor Institut Teknologi Bandung.

Rektor UT, Ojat Darojat mengatakan, pihaknya siap membantu sesama perguruan tinggi untuk mempersiapkan diri menghadapi PJJ. Berbekal pengalaman 33 tahun dalam memajukan dunia PJJ, UT memang sudah ditunjuk sebagai pemimpin untuk program siber kampus sesuai arahan pemerintah pusat.

“UT sudah melakukan penandatanganan kerja sama dengan 20 perguruan tinggi negeri dan swasta untuk pengembangan PJJ. Kami akan memberikan masukan dan fasilitas yang membantu PT dimanapun yang ingin segera meningkatkan perannya sebagai kampus siber masa depan,” kata Ojat. (dianw/C)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here