Indonesia Bisa Jadi Kiblat Bisnis Wisata Halal

0
70

JAKARTA (Waspada): Mastercard-HalalTrip Muslim Millenial Travel Report 2017 memprediksikan pasar wisata halal akan tumbuh hingga mencapai nilai 100 miliar dolar AS pada  2025.

“Prediksi itu memberi makna bahwa peluang bisnis wisata halal kini makin menjanjikan,”
kata Fouder & Chairman Indonesia Islamic Travel Communication Forum (IITCF) Priyadi Abadi di Jakarta, Rabu  (6/6).

Bahkan segmen perjalanan muslim secara keseluruhan, menurut Priyadi, diperkirakan mencapai 300 miliar dolar AS pada 2026. Hal itu merujuk pada data Word Travel and Tourism Council 2013 yang memperlihatkan nilai transaksi pada segmen wisata muslim mencapai 140 miliar dolar AS.

“Transaksi itu diperkirakan tumbuh hingga 238 miliar dolar AS pada 2019,” ucap Priyadi Abadi.

Untuk itu, Priyadi menilai, Indonesia sebagai negara dengan penduduk mayoritas muslim seharusnya lebih maju dalam pengembangan wisata halal dibanding dengan negara lain.

“Jangan sampai Indonesia tertinggal dibanding negara non muslim. Padahal, Indonesia berpotensi menjadi kiblat wisata halal dunia,” ujarnya.

Priyadi menambahkan, pihaknya akan terus mengedukasi masyarakat dengan mengubah mindset bahwa liburan ke Jepang, Korea atau Eropa bisa digarap oleh travel muslim. Dengan menjual wisata halal yang ada di negara tersebut.

“Travel muslim kini bisa memperluas pasarnya tak hanya urusan umrah dan haji, tetapi juga wisata halal di negara-negara non muslim,” tuturnya.

Priyadi mengakui hal itu bukan pekerjaan mudah. Namun, hal itu bukan mustahil dilakukan dengan mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknta seputar wisata halal yang bisa dijual.

Selain mengedukasi masyarakat dalam bidang pariwisata, Priyadi menambahkan, pihaknya tahun lalu melakukan terobosan dengan cara menyatukan  produk travel muslim melalui konsorsium. Hal itu untuk  wisatawan muslim yang ingin jalan-jalan ke mancanegara dengan konsep Islami.

“Konsorsium disebut Muslim Holiday Consorsium. Setiap bulan kami buat acara sharing destinasi, evaluasi dan problem solving,” ujarnya.

Ditambahkan, lahirnya Muslim Holiday  merupakan bentuk keprihatinan, lantaran minimnya travel muslim yang menggarap pasar wisata muslim. Kebanyakan travel muslim masih bermain di zona aman yaitu pasar umrah dan haji.

“Hasil pantauan kami, baru sekitar 20 persen travel muslim yang menggarap pasar wisata muslim. Akibatnya, pasar yang sangat menjanjikan ini masih dipegang oleh travel umum,” ujarnya.

Ada dua agenda besar yang masuk dalam IITCF. Pertama, perhatian pada edukasi, berbagi dan bersinergi antar sesama travel muslim. Kedua, pelatihan bagi pemilik travel muslim, tour leader maupun tour planner.(dianw/C).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here