“Indonesia, Belajarlah Dari Thailand…”

0
442

DALAM satu bulan terakhir dua upaya besar penyelamatan manusia terjadi di dua negara, Indonesia dan Thailand di waktu yang hampir bersamaan. Kejadian di Indonesia, Operasi SAR Gabungan terjadi akibat tenggelamnya KM Sinar Bangun di Danau Toba saat berlayar dari Pelabuhan Simanindo, Samosir menuju Dermaga Tigaras, Simalungun, Minggu (17/6) sore.

Sedangkan di Thailand, negara gajah putih tersebut harus berpacu dengan waktu dalam operasi penyelamatan berbahaya 12 pemain serta pelatih sepakbola yang terjebak dalam gua di daerah Tham Luang. Misi kedua negara ialah sama-sama berupaya menemukan dan menyelamatkan nyawa manusia. Namun secara kasat mata ada beberapa perbedaan yang mencolok di dalam proses operasi SAR kedua negara itu.

Dari sisi jumlah, KM Sinar Bangun jauh lebih besar menelan korban 184 orang, tiga orang meninggal, selamat 21 orang dan hilang 164 penumpang. Operasi SAR berlangsung 16 hari mengerahkan lebih dari seribu personel dengan peralatan pengait (jangkar), pukat harimau, sonar pemindai objek dalam air (multibeam and side scan sonar), sampai kamera bawah air (remotely operated underwater vehicle).

Sayang semua upaya itu tak membuahkan hasil, hanya titik koordinat korban saja yang telah diketahui berikut gambaran situasi dasar Danau Toba serta foto para korban di kedalaman 420 sampai 455 meter. Selain itu, beberapa baju, sepatu, helm, tas, sandal, ditemukan di pinggiran danau sekitar tempat kejadian.

Di tengah kabar gembira ditemukannya para korban, hal mengejutkan terjadi, masyarakat yang memiliki harapan besar diangkatnya jenazah keluarga mereka dari dasar danau terpaksa harus menelan pil pahit. Pasalnya, evakuasi dihentikan Selasa (3/7) karena terkendala peralatan yang tak mampu mengangkat para korban dari kedalaman 455 meter. Padahal keberhasilan tim SAR dinilai sudah mencapai 50 persen, karena korban sudah ditemukan, tinggal pengangkatan.

Di antara masyarakat yang kecewa itu ada nama Ratna Sarumpaet, tokoh nasional sekaligus aktivis kemanusiaan. Dia tidak bisa menerima keputusan menghentikan Operasi SAR KM Sinar Bangun karena masih ada cara lain yang bisa diupayakan.

Seharusnya, kata Ratna, pemerintah tetap berupaya mengevakuasi korban karena jasadnya sudah ditemukan. “Harusnya diangkat, kenapa dihentikan, sayangkan, udah ketemu tapi tak diangkat,” ujar Ratna Senin (2/7) usai terlibat cekcok adu mulut dengan Menteri Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan.

Menurutnya, KM Sinar Bangun adalah masalah kemanusiaan, ada 164 jasad di dasar Danau Toba. Sudah dimonitor, sudah tau titiknya, jadi tidak ada alasan dihentikan. Pemerintah harus mengerti perasaan orang yang kehilangan anggota keluarga, bukan sekedar diganti dengan uang dan monumen.

“Tidak ada alasan dihentikan, pencarian kan gak perlu lagi, sudah ketemu titiknya, jadi tinggal diangkat, kalau ada problem peralatan, kita kan bisa kontak Internasional, tentang kemanusiaan bantuan luar negeri itu tidak bayar,” tegas Ratna Sarumpaet kecewa. Meski mendapat protes dari berbagai pihak, Basarnas tetap menghentikan evakuasi.

Sementara Selasa (10/7), misi penyelamatan berbahaya 12 anak berusia 11-16 tahun beserta pelatihnya yang terjebak di gua Tham Luang, Chiang Rai, Thailand berhasil dilakukan meski menghadapi tantangan alam dan waktu yang tidak kalah sulitnya dengan Danau Toba.

Thailand sepertinya bisa mengukur kemampuan tim SAR nya sehingga tidak perlu malu meminta atau menerima tawaran bantuan luar negeri. Tercatat sekitar seribu orang anggota SAR dari berbagai negara berdatangan ke Chiang Rai untuk terlibat dalam proses evakuasi.

Beberapa negara turut membantu antara lain Polisi Federal Australia (AFP) dengan keterampilan menyelam dalam gua, 11 pakar penyelamatan China, 32 tentara Amerika Serikat, tiga penyelam dan seorang pakar gua Inggris, juga tim penyelamat dari Laos dan Myanmar, total ada enam negara yang terlibat bersama Thailand.

Operasi penyelamatan cukup sulit dan berbahaya karena terowongan panjang, berliku, terbelah dua, dan digenangi air berlumpur sehingga tim harus membawa tabung oksigen serta peralatan pendukung lainnya.

“Kami di sini untuk membantu pemerintah Thailand dalam operasi penyelamatan,” kata Cameron Noble dari Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia seperti dilansir news.com.au.

Anak-anak itu masuk ke gua 23 Juni lalu dan terjebak akibat hujan lebat yang membuat banjir saluran-saluran utama, menjebak para pemain sepakbola tersebut dan menghambat pencarian. Setelah sembilan hari tanpa makanan, mereka berhasil ditemukan tim penyelam gua dari Inggris.

“12 Anggota ‘Babi Liar’ dan pelatih mereka sudah ke luar dari gua dan mereka selamat,” sebut pernyataan resmi AL Thailand sebagaimana dilansir Reuters, Selasa (10/7). Anak-anak dan pelatih yang tergabung dalam klub sepakbola ‘Babi Liar’ berada di dalam gua lebih dari dua pekan tanpa makanan dan minuman.

Atas dua kejadian di dua negara di atas, Basarnas Indonesia nampaknya harus belajar banyak dari Thailand tentang mengukur kemampuan dan melobi negara sahabat dalam operasi SAR. Penyelamatan manusia tidak bisa dengan coba-coba, namun harus terukur, cepat dan tepat, karena terlambat sedetik saja nyawa para korban bisa melayang.

Fakta tetaplah fakta, 164 penumpang KM Sinar Bangun kenyataannya masih terkubur di dasar Danau Toba, sedangkan 12 korban gua di Thailand semua dapat dievakuasi dengan selamat.

“Kami menilai Tim SAR hanya coba-coba selama enam belas hari, dan ketika sudah tidak sanggup, bukannya meminta bantuan luar negeri, mungkin malu, atau tidak ada relasi internasional kali ya,” tutur Parlindungan, salah seorang keluarga korban KM Sinar Bangun.(a32)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here