Mafia Tanah Pihak Paling Diuntungkan Dalam Kasus Dana Otsus 2017 Di Pidie

0

SIGLI (Waspada): Direktur PB-HAM Pidie Said Safwatullah SH, Rabu (11/7), menduga mafia tanah pihak paling diuntungkan dalam kasus pengadaan lapangan sepakbola dan Trek Atletik di Gampong (desa-red) Pante Garot, Kec. Indrajaya, menggunakan dana Otsus 2017.

“Penyidik Kejari Pidie harus mendalami aliran dana pembelian lahan lapangan bola itu. Karena kita menduga banyak pihak terutama mafia tanah yang terlibat penerimaan fee dalam jumlah besar. Ini terjadi karena adanya dugaan setelah pemilik lahan menerima uang hasil penjualan tanahnya melalui transfer, kemudian uang tersebut wajib diberikan kepada oknum-oknum tertentu dalam jumlah besar sesuai komitmen perjanjian mereka sebelum tanah dijual,” katanya.

Menurut penggiat HAM Pidie tersebut, potensi terjadinya dugaan kerugian negara itu pada sisi pembagian fee. Sebab lahan yang dibeli itu tidak produktif sehingga harganya pun lebih murah. Karena itu, Said menyarankan penyidik Kejari Pidie lebih mendetail melakukan pemeriksaan.

Khusus kepada para pemilik lahan, Said Safwatullah sangat berharap supaya kooperatif dan transparan dalam memberi keterangan kepada penyidik agar uang negara dapat diselamatkan. Selama ini, Said menilai kinerja tim penyidik Kejari Pidie mulai menunjukkan nilai positif, khususnya dalam mengungkap kasus dugaan korupsi yang akhir-akhir ini merebak. “Ini perlu diapresiasi dan didukung oleh semua elemen masyarakat Pidie,” tegas Said Safwatullah.

Dia mengungkapkan, dari total Pagu anggaran senilai Rp3.641.280.000 dan realisasi senilai Rp2.390.404.000, dana Otsus 2017 yang digunakan untuk pengadaan lapangan sepakbola dan Trek Atletik di Gampong (desa-red) Pante Garot seluas 10.780 M2. Tidak tertutup kemungkinan terjadinya tindak pidana korupsi, lebih lagi orang-orang yang terlbat dalam pengadaan tanah tersebut digadang-gadang adalah oknum-oknum dekat dengan penguasa Pidie sekarang.

Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Kadis Pora) Pidie Drs H. Arifin, menjelaskan pengadaan tanah lapangan dan Trek Atletik seluas 10.780 M2 dibayar dengan sistem persil. Namun saat ditanya berapa harga dibayar kepada pemilik lahan dengan sistem tersebut, Arifin mengaku lupa karena tidak melihat data, sebab jumlah tersebut, kata dia, tercantum dalam dokumen.

“Maaf saya saat ini sedang di luar daerah, lagi di Banda Aceh. Data pembelian tanah itu ada di dokumen, semua di kantor,” kata H. Arifin via telpon selular.(b10)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here