98 Korban Tewas dan Luka Gempa Lombok Dapat Santunan

0
35

MATARAM (Waspada): Sebanyak 98 korban meninggal dunia akibat gempa di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) mendapatkan santunan ahli waris masing-masing sebesar Rp15 juta. Setiap korban luka mendapat bantuan pengobatan sebesar Rp2,5 juta.

Penyerahan santunan secara simbolis oleh Menko Polhukam Wiranto dan Mensos Idrus Marham kepada para ahli waris di lokasi pengungsian di posko induk. Penyerahan berlangsung penuh haru, saat seorang ibu tak kuasa menahan tangis saat Mensos menyalami dan menyampaikan santunan.

“Sabar dan tawakal ya, Ibu. Peristiwa ini tidak kita kehendaki namun ini adalah ketetapan Allah. Ibu dan keluarga tabah ya,” ujar Mensos lirih seraya merangkul pundak sang ibu.

Perempuan berjilbab coklat itu mengangguk lemah sambil berurai air mata. Seorang petugas Layanan Dukungan Psikososial (LDP) Kemensos memapah dan memberikan trauma healing. Dalam LDP, bentuk kegiatan yang dilakukan dalam LDP di antaranya katarsis mental, permainan, pengajian di lokasi pengungsian, menyiapkan sekolah darurat dan ramah anak. Jumlah tim LDP yang saat ini bertugas sebanyak 29 orang.

“Setelah santunan dan bantuan ini, Kemensos akan menyiapkan Jaminan Hidup (Jadup). Sekarang masih dalam proses pendataan jumlah anggota keluarga dan jumlah rumah yang mengalami kerusakan,” terangnya.

Kepada para pengungsi, Mensos mengatakan selama rumah warga belum dibangun kembali, Kementerian Sosial menyiapkan 639 tenda yang didistribusikan secara bertahap kepada warga.

“Dengan adanya tenda mereka bisa lebih terlindungi mengingat gempa susulan dengan skala kecil masih terjadi,” paparnya.

Terakhir, lanjut Mensos, setelah kebutuhan permakanan dan perlindungan berjalan, Kemensos juga memberikan dukungan psikososial untuk membantu memulihkan psikologis warga terdampak gempa khususnya kelompok renta. Yakni lansia, ibu hamil, anak dan disabilitas.

Setelah menyerahkan santunan, di Posko Induk Mensos mengunjungi rumah sakit lapangan, tenda pengungsian, gedung kantor bupati yang roboh dan rusak total, serta ke Bangsal Pemenang yang merupakan pelabuhan penyeberangan menuju Gili untuk mwlihat proses evakuasi wisatawan.

Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial (Linjamsos) Harry Hikmat mengatakan untuk distribusi sembako dan nasi bungkus dari dapur umum, pihaknya mengerahkan Tagana dan Pendamping PKH. Hanya saja karena mereka juga terdampak gempa dan mengungsi, maka perlu dukungan personel dari wilayah terdekat NTB.

“Tercatat yang telah diberangkatkan oleh Pemprov masing-masing adalah Tagana Jatim sebanyak 20 orang, Tagana Sulsel 10 orang, Tagana Gorontalo 7 orang, dan Tagana Kalsel 5 orang.  Mereka akan bergabung dengan tim Kemensos di Posko Induk di Kecamatan Tanjung. Selanjutnya berbagi tugas ke berbagai titik terdampak gempa,” kata Dirjen.

Harry menjelaskan Tagana dari berbagai provinsi juga membawa bantuan logistik dan  Dapur Umum mobile untuk membantu pemenuhan kebutuhan makanan pengungsi.

“Selain Tagana, Pendamping PKH juga kami libatkan untuk membantu evakuasi, pendistribusian logistik, penyaluran kebutuhan permakanan, maupun pendataan warga terdampak gempa,” kata Harry.

Koordinator PKH Kabupaten Lombok Utara Raden Zulkarnaen mengatakan setiap Pendamping berinisiatif di kecamatan masing-masing menjadi panitia lokal yang mengkoordinir pendistribusian bantuan makanan dan air minum.

Total bantuan Kemensos yang telah disalurkan untuk korban gempa terdiri dari bantuan lositik, santunan ahli waris tahap satu dan tahap dua untuk 109 orang, dan 3000 paket sembako adalah Rp 3,1 milyar. Bantuan logistik dalam bentuk lauk pauk, sandang, tenda, matras, kids ware, selimut, family kids, food ware, kasur, velbed, beras, sembako. (dianw/B).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here