Plt Gubernur Pembicara Utama IMT-GT

0
27
PLT Gubernur didampingi Wali Kota Banda Aceh menabuh gendang tanda dimulai pembukaan forum IMT GT Kota Banda Awh, Rabu (8/8). Waspada/Ist
PLT Gubernur didampingi Wali Kota Banda Aceh menabuh gendang tanda dimulai pembukaan forum IMT GT Kota Banda Awh, Rabu (8/8). Waspada/Ist

BANDA ACEH (Waspada): Pelaksana Tugas Gubernur Aceh menjadi keynote speaker atau pembicara utama dalam pertemuan Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle (CIMT-GT) di Banda Aceh, Rabu 8 Agustus 2018.

Pertemuan itu membahas rencana aksi Pembangunan Kawasan Perkotaan dengan Visi Kota Hijau. Nova Iriansyah mengatakan, topik yang dibahas dalam pertemuan itu sangat relevan dengan program pemerintah Aceh yang menerapkan konsep pembangunan berkelanjutan berwawasan lingkungan (Aceh Green).

“Kami juga tentu berharap, konsep pembangunanberbasis Aceh Green ini dapat dilanjutkan dengan pembangunan kota-kota hijau (Green City) di sejumlah wilayah, sehingga visi Aceh Green yang dijalankan di tingkat provinsi diperkuat lagi dengan keberadaan cities green di wilayah perkotaan,” kata Nova.

Aceh Green salah satu visi pembangunan Aceh. Karena itu, Nova mengatakan, pihaknya menyadari betapa pentingnya menjaga kelestarian alam untuk diseimbangkan dengan laju pembangunan yang sedang berjalan.

Dalam pertemuan Governour’s Climate and Forest yang berlangsung di Bali, Denmark, Amerika dan Paris, pada 2009 hingga 2015, sejumlah negara maju mengusulkan agar negaranegara berkembang yang masih memiliki tutupan hutan luas agar menerapkan semangat green vision dalam konsep pembangunannya.

Indonesia termasuk yang diharapkan mendukung semangat itu, sebab Indonesia masih memiliki kawasan hutan yang cukup luas. Di Indonesia, salah satu hutan yang memiliki titipan luas adalah Aceh.

Di mana ada 3,5 juta hektare hutan yang masih hijau, terdiri sekitar 2 hektare hutan lindung dan sekitar 638 ribu hektare hutan produksi. Untuk mendukung semangat itu, gubernur kemudian menerbitkan Instruksi Nomor 5 tahun 2007 tentang moratorium logging di seluruh kawasan hutan Aceh.

Tujuannya mempertahankan sistem penopang kehidupan, menguatkan kapital sosial masyarakat dan mendukung pembangunan berkelanjutan. Selebihnya menjaga keasrian hutan dan terpulihkannya fungsi hutan yang terdegradasi melalui restorasi dan penghutanan kembali lahan kritis. Semangat moratorium itulah yang menjadi dasar bagi Pemerintah Aceh menjalankan visi Aceh Green.(b01/A)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here