2019, Jumlah Publikasi Ilmiah Indonesia Teratas Di Asia Tenggara

0

PEKANBARU (Waspada):  Indonesia terus meningkatkan jumlah dan kualitas publikasi ilmiah bersertifikasi internasional. Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) menargetkan 2019 jumlah publikasi ilmiah internasional dari Indonesia menjadi yang paling banyak di Asia Tenggara, mengalahkan Malaysia yang kini berada di urutan teratas. 

“Saya yakin tahun depan publikasi internasional dari Indonesia menjadi yang pertama di Asia Tenggara,” kata Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir, saat membuka Seminar Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) ke-23 di Kota Pekanbaru, Provinsi Riau, Kamis (9/8). Hadir dalam kesempatan itu Presiden Republik Indonesia ke-3, BJ Habibie, Gubernur Arsyadjuliandi Rachman serta perwakilan pimpinan perguruan tinggi negeri dan swasta dan pemangku kepentingan riset dan pendidikan tinggi dari seluruh Indonesia.

Saat ini publikasi ilmiah bersertifikasi internasional yang dimiliki Indonesia adalah 16.528. Jumlah itu, kata Nasir, tidak terpaut jauh dari Malaysia yang berjumlah 17.211.  Sementara Singapura ada di angka 12.528 publikasi dan Thailand 9.595.

“Kita optimis tahun depan bisa mengalahkan jumlah penelitian Malaysia dan menjadi yang pertama di Asia Tenggara. Terpautnya tidak sampai 1000 publikasi,”kata Nasir.

Menurut Nasir, perkembangan jumlah riset dan publikasi hasil riset sampai pada tingkat internasional sudah jauh bertambah selama tiga tahun terakhir. Pada 2015 jumlah publikasi ilmiah internasional Indonesia hanya 5.400, jauh tertinggal dari negara Thailand yang saat itu sudah mencapai 9.500 dan Malaysia yang mencapai 18 ribu.

“Tiga tahun ini akses periset pada penelitian terus dipermudah, termasuk untuk urusan pertanggungjawaban dana penelitian. Kini pertanggungjawaban penelitian berbasis hasil, bukan lagi hanya hitungan anggaran,” kata Nasir.

Posisi Indonesia untuk menjadi yang pertama di Asia Tenggara semakin mantap karena ditopang adanya kebijakan yang mendukung kemudahan bagi para peneliti untuk melakukan berbagai riset. Salah satunya adalah terbitnya Peraturan Presiden (Perpres) 38/2018 tentang Rencana Induk Riset Nasional (RIRN).

Dalam peraturan yang berlaku sejak 18 April 2018 itu, pemerintah mengajak para peneliti untuk fokus pada 10 bidang penelitian sesuai Rencana Induk Riset Nasional (RIRN) . Ke-10 bidang itu adalah sektor pangan dan pertanian, kesehatan dan obat-obatan, teknologi komunikasi,  transportasi, nano teknologi, pertahanan, energi terbarukan, maritim, penanganan bencana serta sosial humaniora dan kebudayaan.

Di sisi lain, penelitian juga perlu mendapat tempat di masyarakat luas. Artinya, jangan sampai penelitian hanya menumpuk di meja arsip dan perpustakaan. Hasil-hasil penelitian dan inovasi harus juga berguna di masyarakat dan mampu meningaktkan derajat kesejahteraan masyarakat.

Untuk itu lahir Perpres 106/2017 tentang Kawasan Sains dan Teknologi. Perpres ini lahir dengan tujuan memfasilitasi tumbuh dan berkembangnya industri, khususnya industri kecil menengah berbasis inovasi.

Kawasan Sains dan Teknologi (Science and Technology Park) yang selanjutnya disingkat KST adalah wahana yang dikelola secara profesional untuk mengembangkan dan mendorong pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan melalui pengembangan, penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan penumbuhan perusahaan pemula berbasis teknologi.

“Pemerintah memandang perlu menyediakan layanan bagi industri dalam suatu kawasan yang disiapkan secara khusus, dan wahana yang akan memfasilitasi aliran invensi menjadi inovasi untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing,” kata Nasir.

Maju Dengan Inovasi

BJ Habibie dalam sambutan kuncinya menyatakan perlunya seluruh Bangsa Indonesia memiliki semangat berinovasi. Sebab tanpa inovasi, sebuah negara tidak akan maju.

Dia menyontohkan sejumlah negara dengam sumber daya alam yang tidak melimpah tetapi memiliki sumber daya manusia yang luar biasa. Hal itu dapat menjadi kunci kemakmuran ketimbang negara yang bersumber daya alam melimpah namun miskin SDM berkualitas.

“Jadi kuncinya ada pada semangat inovasi. Lahirnya inovasi dari hasil belajar dan belajar tanpa takut jatuh. Jadi belajar atau pendidikan inilah yang menjadi motor penggerak inovasi bangsa. Karena itu sistem pendidikan tinggi kita harus terus ditingkatkan supaya lahir generasi emas,” kata Habibie, bersemangat.

Dia juga berharap hasil-hasil riset para peneliti dapat hadir ke tengah masyarakat. Sebab hakikat penelitian adalah memakmurkan masyarakat dan lingkungan.

Peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) Ke-23 tahun 2018 mengambil tema “Inovasi untuk Kemandirian Pangan dan Energi” yang dipusatkan di Provinsi Riau.

Puncak acara adlaah gelaran pameran teknologi (Ritech Expo)  pada Jumat (10/8) di komplek rumah dinas Gubernur Riau. Selain itu ada sejumlah workshop dan seminar yang menghadirkan sejumlah pembicara dalam dan luar negeri. Pembicara Internasional berasal dari beberapa negara, yaitu: Senior Vice President and Chief Officer of Asia Pacific of AACSB, Ms. Annie Lo, CFA, CIPM, CAIA. Deputy Secretary-General for Higher Education Commissions, Thailand, Assoc. Prof. Bundhit Thipakorn. Academic Enchancement and Leadershif Development Centre, University of Malaya: Prof. Fauza Abdul Gafar, Malaysia. Executive Managing Director of JABEE: Dr. Yasuyuki Aoshima, Japan.

Narasumber dari dalam negeri terdiri dari: Direktorat Penjaminan Mutu – Ditjen Belmawa, Bappenas, Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Gajah Mada, Institut Pertanian Bogor, Universitas Brawijaya, Universitas Bina Nusantara (BINUS), Universitas Islam Indonesia. Turut hadir kontributor lainnya dari PTN dan PTS Indonesia yang mempresentasikan best practices dalam mengimplementasikan SPMI dalam meningkatkan budaya mutu.(dianw/C).

Menristekdikti saat panen raya padi sidenuk buatan Batan dan LIPI di Desa Pulau Tinggi Kabupaten Kampar, Riau, dalam rangkaian Peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) ke-23, Kamis (9/8).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here