Aceh Timur Masih Endemis Kaki Gajah

0
PESERTA Sosialisasi POPM Filariasis foto bersama di Aula Dinas Kesehatan Aceh Timur, Rabu 15 Agustus 2018. Waspada/Ist
PESERTA Sosialisasi POPM Filariasis foto bersama di Aula Dinas Kesehatan Aceh Timur, Rabu 15 Agustus 2018. Waspada/Ist

IDI (Waspada): Persentase cakupan Pemberian Obat Pencegahan Massal (POPM) Filariasis atau Penyakit Kaki Gajah di Kabupaten Aceh Timur, tak mencapai target nasional. Akibatnya, program POPM yang seharusnya berakhir 2020 terpaksa dilanjutkan hingga 2021.

“Ini sudah tahun ketiga. Tapi, kita malah kena tegur Kementerian Kesehatan lantaran cakupan POPM di bawah 65 persen,” kata dr H Zulfikry, Kabid Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (P2P) Dinkes Aceh Timur pada acara Sosialisasi POPM Filariasis di Aula Kantor Dinkes Aceh Timur di Idi, Rabu 15 Agustus 2018.

Sesuai keluhan para kepala puskesmas, sambung Zulfikry, penyebab utama cakupan POPM Filariasis rendah karena masih berkembang isu soal halal haram obat filariasis serta isu hoax yang menyebut efek samping obat anti penyakit kaki gajah ini berbahaya bagi kesehatan.

“Diakui atau tidak, masyarakat kita masih mudah terprovokasi isu yang belum jelas kebenarannya. Pernah kejadian, ada anak kecamatan Nurussalam diisukan terpaksa dilarikan ke rumah sakit setelah minum obat filariasis. Kabar ini heboh di media sosial. Setelah kita crosscheck, ternyata anak itu susah menelan makanan karena sudah lama sakit amandel. Sakit ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan obat filariasis,” urai Zulfikry.

Begitu juga soal hukum halal-haram obat filariasis, sambung dr Zulfikry, sebagian masyarakat lebih memilih berkutat dalam debat kusir yang tidak jelas juntrungannya, bahkan memprovokasi orang lain, daripada berpikir positif bahwa itu bagian iktikad baik dan upaya serius pemerintah memberantas penyakit kaki gajah.

“Anehnya, selama ini banyak juga masyarakat kita mengkonsumsi obat-obatan yang dijual bebas di kios-kios, tapi tidak pernah mempermasalahkan halal-haramnya. Giliran kita kasih obat filariasis yang sudah ada jaminan aman dari Dinkes demi mencegah penyakit menular kaki gajah, malah dituding haram,” sebut pria yang biasa disapa dokter Ayi ini.

Ayi berharap, semua pihak, terutama para kepala puskesmas melibatkan imam desa dan para pimpinan pengajian dan pimpinan dayah dalam sosialisasi filariasis di tingkat kecamatan, sehingga para tokoh agama tersebut mendapat informasi yang benar tentang filariasis sekaligus bisa membantu mensosialisasi dan mengedukasi masyarakat, soal pentingnya minum obat untuk mencegah filariasis atau penyakit kaki gajah.

Sementara Bupati Aceh Timur H. Hasballah HM.Thaib, melalui Asisten Administrasi Umum Setdakab Aceh Timur, M. Amin, SH, MH, saat membuka sosialisasi ini mengungkapkan, kabupaten Aceh Timur masih endemis penyakit filariasis atau dalam bahasa disebut Euntot, dengan jumlah temuan 65 kasus.

“Mudah-mudahan, pertemuan sosialisasi POPM Filariasis ini menghasilkan komitmen bersama lintas sektor dalam upaya pemberantasan penyakit kaki gajah di Aceh Timur. Camat, Kapus dan para pihal terkait lainnya harus proaktif menyampaikan sosialisasi yang maksimal, agar target cakupan POPM Filariasis tercapai. Jangan sampai, program baik ini seperti kita membuang air dalam sungai,” pesan Asisten III M. Amin. (b19)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here