Aceh Timur Rawan Penularan Tuberculosis

0
ASISTEN III Setdakab Aceh Timur M. Amin SH,MH (tengah) didampingi Kabid P2P Dinkes Aceh Timur, dr H Zulfikry, saat membuka Pertemuan Koordinasi dan Evaluasi Pelaksanaan Deteksi Dini TBC, di Aula RS Graha Bunda Idi, Selasa 14 Juli 2018. Waspada/Musyawir
ASISTEN III Setdakab Aceh Timur M. Amin SH,MH (tengah) didampingi Kabid P2P Dinkes Aceh Timur, dr H Zulfikry, saat membuka Pertemuan Koordinasi dan Evaluasi Pelaksanaan Deteksi Dini TBC, di Aula RS Graha Bunda Idi, Selasa 14 Juli 2018. Waspada/Musyawir

IDI (Waspada): Aceh Timur termasuk kabupaten paling rawan penularan penyakit Tuberculosis atau TBC. Data riset resmi menyatakan, estimasi penderita TBC di kabupaten ini mencapai 1.758 orang dari total penduduk 427.567 jiwa. Sementara yang sudah ditemukan dan menjalani pengobatan intensif, hingga triwulan ke dua 2018 baru sekitar 211 orang atau sekitar 12 persen.

“Artinya apa, ada sekitar 1.500 penderita TBC di Aceh Timur yang belum tersentuh penanganan medis sesuai standar yang ditetapkan pemerintah. Dan, masing-masing dari mereka bisa menularkan TBC untuk 10 sampai 15 orang lainnya,” ungkap Saiful Kamal SN, Pengelola Program TBC Dinas Kesehatan Aceh pada Pertemuan Koordinasi dan Evaluasi Pelaksanaan Deteksi Dini TBC di Aula RS Graha Bunda Idi, Selasa 14 Juli 2018.

Ini sebabnya, Saiful Kamal mengajak lintas sektor semua tingkatan di Aceh Timur, termasuk di tingkat desa, untuk sama-sama berkontribusi dan berpartisipasi aktif sesuai wewenang dan kemampuan masing-masing, demi mendeteksi dini, mengobati dan mengeleminasi TBC.

“Secara nasional, estimasi penderita TBC di Indonesia berdasarkan data riset terbaru, 1.020.000 orang. Kita memiliki penderita TBC terbanyak kedua di dunia setelah India. Makanya, belakangan ini pemerintah gencar meluncurkan berbagai program terobosan demi mengeliminasi TBC pada 2030,” urai Saiful.

Dr Yurlida, Provincial Project Officer TB Dinkes Aceh, yang juga hadir pada pertemuan tersebut menambahkan, dampak TBC sangat luas, meliputi hampir semua sektor kehidupan, termasuk sosial keagamaan dan sektor pendidikan.

“Baru-baru ini, di Aceh Utara ada calon jamaah haji gagal berangkat ke tanah suci karena hasil pemeriksaan kesehatannya positif TBC. Padahal, yang bersangkutan sudah menunggu keberangkatan itu hampir dua puluh tahun. Bayangkan, betapa hancur hatinya. Ini terjadi karena mis komunikasi dan mis koordinasi lintas sektor. Seandainya dua bulan sebelum berangkat yang bersangkutan sudah berobat, pasti bisa berangkat karena tidak lagi berpotensi menularkan pada orang lain,” sebut Yurlida.

Yurlida juga menyebut, kasus serupa juga bisa terjadi pada seseorang yang mendapat beasiswa sekolah ke luar negeri. Negeri tujuan pasti akan menolak penerima beasiswa jika positif menderita TBC. “Ini sudah menjadi semacam kesepakatan internasional. Kalaupun diloloskan di imigrasi kita, ketika sampai di Imigrasi negara tujuan akan dideportasi juga,” pungkasnya.

Sementara dr H Zulfikry, Kabid Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinkes Aceh Timur mengatakan, pihaknya sudah berusaha semaksimal mungkin mengerahkan semua kemampuan dan SDM untuk mencapai target penemuan kasus TBC di Aceh Timur. Hanya saja, di lapangan masih banyak kendala termasuk perkara mitos dan ketidaktaatan pasien TBC untuk minum obat secara rutin, sesuai standar yang telah ditetapkan pemerintah.

“Capaian penemuan kasus yang hanya 12 persen hingga triwulan kedua 2018,membuat kita semua prihatin. Tapi, petugas kami sudah bekerja maksimal. Bahkan, sampai sekarang pun, kita masih fokus bekerjasama dengan semua lintas sektor, termasuk lewat pertemuan koordinasi seperti ini, agar target penemuan kasus TBC tercapai minimal 70 persen sebagaimana target nasional,” cetus Zulfikry.

Pertemuan Koordinasi dan Evaluasi Pelaksanaan Deteksi Dini TBC di Aula RS Graha Bunda Idi, dibuka secara resmi oleh Asisten III Bidang Administrasi Umum Setdakab Aceh Timur, M. Amin SH,MH. Pertemuan diikuti sekitar 30 peserta utusan SKPK terkait dan beberapa ketua organisasi profesi, termasuk Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Aceh Timur.

“Angka kasus TBC di Aceh Timur mengkhawatirkan. Dari tahun ke tahun kasusnya cenderung meningkat. Mudah-mudahan, pertemuan ini menghasilkan komitmen dan strategi yang konfrehensif, sehingga Aceh Timur benar-benar bebas TBC, sebelum 2030,” pesan Bupati Aceh Timur H Hasballah Bin HM Thaib lewat sambutan tertulis yang dibacakan Asisten III. (b19)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here