Presiden Harapkan Perempuan Jadi Ibu Bangsa

0
PRESIDEN RI Joko Widodo bersama Ketua Umum Kowani Dr Giwo Rubianto,Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Anak Yohana Susana Yembise, Menteri BUMN Rini Soemarno dan Presiden ICW Kim Jung Sook saat pembukaan kegiatan Jumat(14/9). Waspada/Anum Saskia
PRESIDEN RI Joko Widodo bersama Ketua Umum Kowani Dr Giwo Rubianto,Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Anak Yohana Susana Yembise, Menteri BUMN Rini Soemarno dan Presiden ICW Kim Jung Sook saat pembukaan kegiatan Jumat(14/9). Waspada/Anum Saskia

YOGYAKARTA (Waspada): Presiden RI, Joko Widodo mengharapkan perempuan Indonesia menjadi ibu bangsa yang menjadi pendidik bagi generasi Indonesia yang menjadikan mereka memiliki moral, menjaga lingkungan maupun menggerakan ekonomi.

Hal itu disampaikanya saat membuka Sidang Umum Dewan Perempuan Internasional dan Temu Nasional 1.000 Organisasi Perempuan Indonesia di Pendopo Balkondes, Hotel Grand Inna Malioboro, Yogyakarta Jumat (14/9). Acara tersebut diselenggarakan oleh Kowani, Kementerian BUMN dan didukung penuh oleh 35 perusahaan BUMN.

Hadir pada acara itu bersama Kepala Negara Menteri BUMN Rini Soemarno, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X beserta istri GKR Hemas, Presiden ICW Kim Jungsook beserta delegasi ICW, direksi BUMN, dan ribuan perempuan dari seluruh Tanah Air dan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Susana Yembise, Ketua Umum Kowani Dr Giwo Rubianto dan delegasi 49 negara anggota ICW dan utusan organisasi perempuan dari seluruh Indonesia.

Hal lain disampaikan Presiden Joko Widodo terkait kinerja perempuan Indonesia yang terus berkarya dan berprestasi mengharumkan nama bangsa Indonesia.

“Artinya kita punya srikandi-srikandi yang akan terus berjuang untuk Merah Putih, untuk negara kita Indonesia,” katanya.

Dia menilai sejumlah tokoh perempuan dinilai Jokowi turut mengharumkan nama bangsa baik melalui bidang olahraga, pemerintahan, penjagaan perdamaian dan pendidikan.

Beberapa perempuan atlet yang berjasa pun disebutkan Jokowi diantaranya pebulu tangkis Susi Susanti, atlet wushu Lindswell Kwok, serta dua “spider woman” Indonesia Aries Susanti, serta Puji Lestari yang memenangkan lomba panjat dinding cepat.

“Dan juga perlu saya ingatkan 12 medali emas dari 31 medali emas yang kita peroleh disumbangkan oleh atlet-atlet wanita kita,” kata Jokowi terkait kiprah atlet perempuan peraih medali emas dalam kejuaraan Asian Games 2018.

Joko Widodo juga menyebutkam beberapa perempuan atlet difabel yang berkiprah mengharumkan nama bangsa melalui juara paragames.

Beberapa perempuan berprestasi yang disebutkan antaranya atlet tolak peluru peraih medali emas Peparnas Suparniati, pelari Nanda Mei Sholihah yang meraih medali emas dalam Asean Paragames 2017, atlet angkat berat Ni Nengah Widiasih yang meraih emas kelas 45 kg putri di Berck-Sur-Mer 2018 World Para Powerlifting, serta perenang Laura Dinda yang memenangkan kejuaraan Paraswimming di Jerman.

Dalam acara itu juga ditampilkan video pembukaan acara Asian Games 2018 yang direspon oleh sejumlah kaum perempuan yang hadir dengan tepuk tangan dan tawa.

Sementara Presiden ICW Kim Jungsook yakin bahwa wanita bisa mengubah masyarakat bahkan dunia, diawali dengan meningkatkan pemberdayaan terhadap wanita di segala bidang, di mulai dari pendidikan, sosial, dan budaya. Dengan wanita yang berdaya, keluarga, bahkan bangsa juga akan ikut sejahtera.

Salah satu yang penting untuk mencapai perubahan itu adalah dengan mendorong lebih banyak wanita memimpin dalam dunia politik dan ekonomi.

“Saat ini, baru ada 17 negara yang dipimpin oleh wanita dan baru sedikit wanita yang bisa menduduki jabatan penting di perusahaan dan industri besar,” ujarnya.

Ia memaparkan saat ini di Timur Tengah jumlah wanita yang menduduki jabatan strategis di industri dan perusahaan besar sekitar 3,9 persen, Amerika Latin sekitar 6,4 persen, Asia Pasifik sekitar 9 persen, Eropa sekitar 20 persen, dan Amerika Serikat sekitar 19 persen.

“Di negara saya sendiri, Korea, jumlah wanita di jabatan strategis di perusahaan dan industri baru sekitar dua persen. Sangat kontras dengan kondisi di negara lain,” katanya.

Tak dipungkiri hingga kini wanita di seluruh dunia masih berjuang melawan berbagai masalah seperti kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan seksual, perdagangan perempuan, dan ketidaksetaraan gender.

Kim berharap Sidang Umum ke-35 ICW dan Kongres Wanita Indonesia yang mengumpulkan 1000 organisasi wanita akan saling menginspirasi dan menghasilkan strategi untuk mencari solusi dalam menghapuskan masalah tersebut.

Sedangkan Ketua Umum Kowani menyampaikan terimakasih kepada semua pihak yang mendukung kegiatan ini. Terutama kehadiran Presiden RI juga mendukung program perempuan untuk Indonesia. Latar belakang dilaksanakan di Yogyakarta karena menjadi kota pertama Kongres Perempuan.

“Bersyukur Indonesia penyelenggara ICW tahun ini,” kata yang mengapresiasi semua perempuan yang hadir dengan biaya sendiri.

Giwo Rubianto menyebutkan ada 62 juta perempuan di Indonesia anggota Kowani. Sehingga perempuan itu identik dengam Ibu Bangsa. Sehingga perannya sebagai ibu bangsa adalah suatu kekuatan untuk membangun bangsa.

“Kami sudah membuat deklarasi perempuan sebagai ibu bangsa,” katanya.

Sidang Umum ke-35 ICW pada 14-18 September, berkunjung ke Balai Ekonomi Desa pada 18-19 September di sekitar kawasan Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, dan Pertemuan Dewan Direktur Baru ICW pada 20 September. (m37)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here