Dua Koruptor Proyek IPA PDAM Ditahan

0
Kasi Pidsus Kejari Belawan Nurdiono, SH menggiring dua tersangka korupsi proyek IPA PDAM Tirtanadi menuju mobil tahanan Waspada/Rustam Effendi/B
Kasi Pidsus Kejari Belawan Nurdiono, SH menggiring dua tersangka korupsi proyek IPA PDAM Tirtanadi menuju mobil tahanan Waspada/Rustam Effendi/B

BELAWAN (Waspada): Dua tersangka korupsi proyek instalasi pengolahan air (IPA) tahun 2012 di Kel. Besar dan Martubung, Kec. Medan Labuhan, ditahan petugas Kejari Belawan, Kamis (20/9).

Dua tersangka yakni mantan Kepala Devisi Air Limbah Ir. MS yang saat itu juga menjabat sebagi pejabat PPK dan pihak swasta atau rekanan berinisial FS. Keduanya ditahan setelah melalui proses pemeriksaan selama 7 jam di ruangan Pidsus Kejari Belawan.

Sambil menunggu proses hukum selanjutnya, kedua tersangka dititip jaksa di rumah tahanan Tanjung Gusta, Medan. “Tersangka FS sempat pingsan saat tahu akan ditahan,” kata Kasi Pidsus Kejari Belawan Nurdiono, SH. Korupsi dana proyek PDAM Tirtanadi Sumut ini dilakukan tersangka dalam pengerjaan proyek IPA dan jaringan pipa transmisi di Kel. Martubung dan Kel. Besar, Kec. Medan Labuhan.

Dana sebesar Rp 58 Miliar untuk proyek ini berasal dari dana penyertaan modal Pemprovsu yang dikerjakan PT. Wijaya Karya (Wika) bekerjasama dengan PT. Cemerlang Samudra Kontrindo (CSK). Setelah memeriksa 60 orang saksi, Kejari Belawan menetapkan kedua tersangka ditahan untuk mempermudah proses periksaan.

“Penanganan perkara ini sudah makan waktu sekitar tiga tahun dan alhamdulillah hari ini kedua tersangka kita tahan walau banyak pihak yang telah bermohon untuk dilakukan penangguhan penahanan,” jelas Nurdiono.

Disinggung tentang akan bertambahnya tersangka pada kasus ini, Nurdiono mengatakan, kemungkinan tersebut ada selama kedua tersangka mau mengungkapkan kebenaran karena hal itu juga akan membantu tersangka dalam persidangan.

Beberapa orang petinggi di PDAM Sumut pernah dimintai keterangan sebagai saksi terkait perkara ini diantaranya Direktur Air Limbah Heri Batangari Nasution dan Direktur Administrasi dan Keuangan Arif Haryadian, kemudian, mantan Kepala Divisi Keuangan PDAM Tirtanadi Irwansyah Siregar, mantan Direksi Mangindang Ritonga dan Ahmad Thamrin.

Anggaran proyek yang menelan biaya mencapai Rp58 milyar itu meliputi pembangunan Direksi Keet, kantor lapangan, barak, gudang, jalan atau akses, pagar proyek, pembersihan lokasi, papan nama proyek dan lainnya dengan pagu anggaran Rp 75 juta.

Kemudian, perizinan dengan pagu anggaran Rp150 juta, perencanaan, pengadaan dan pelaksanaan, akomodasi, transportasi, air tiket, office dengan pagu anggaran Rp50 juta. Lalu, pengukuran atau staking out Rp 7,5 juta, investigasi atau survei Rp15 juta, utilitas pelaksanaan dan pek Rp 85 juta, mobilisasi personil dan peralatan Rp 45 juta, pengadaan dan pelaksanaan pembangunan IPA kapasitas minimum 200 liter per detik Rp15.494.727.115, pengadaan pelaksanaan pekerjaan instrumentasi atau SCADA Rp 3.491.269.750, pengadaan dan pelaksanaan pembangunan rehabilitasi booster pump existing Rp7.676.874.459, pengadaan pelaksanaan pembangunan rumah daya di IPA Martubung Rp6.109.211.627.

Untuk pembangunan kantor seluas 200 m2, untuk pengadaannya sebesar Rp1.449.135. 315, dan untuk pelaksanaan chemical building sebesar Rp3. 140.386.966. Sedangkan pembangunan sludge lagoon IPA menelan biaya Rp 988.531.712.

Lalu, untuk unit bangunan penunjang sebesar Rp2.326. 919.475, pengadaan pemasangan pipa transmisi air baku sebesar Rp. 4.396.041.648, pengadaan dan pelaksanan pembangunan intake Rp7.480.827.223, uji coba Rp 25 juta, laporan Rp15 juta.

Ada juga untuk pelatihan atau transfer of knowladge sebesar Rp25 juta, pembersihan Rp 7,5 juta dan demobilisasi Rp18 juta. “Dari semua total anggaran sebesar Rp 58 miliar, negara mengalami kerugian sebesar Rp 18 miliar yang hingga saat ini masih diakui kedua tersangka, merekalah yang menggunakan uang hasil korupsi itu,” pungkas Nurdiono yang bertepatan ulang tahun saat kedua tersangka ditahan. (h03/I)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here