Nelayan Tradisional Amankan Pukat Tarik Dibalas Demo Ke Satpol Air

0

TANJUNGBALAI (Waspada) : Nelayan tradisional Tanjungbalai mengamankan kapal pukat tarik mini saat berlayar pulang ke tangkahan di Kuala Bagan Asahan, Jumat (21/9) sekira pukul 10.00.

Informasi dihimpun, kejadian berawal saat sepasang boat pukat tarik mini bergerak dari tangkahan Sei Nangka menuju laut untuk mencari ikan. Namun di tengah perjalanan, Satpol Air Polres Tanjungbalai bekerja sama dengan Dit Polair Poldasu memerintahkan agar kapal itu kembali ke tangkahan karena tidak boleh melaut.

Alasannya alat penangkapan ikan (API) melanggar peraturan yang berlaku karena tidak ramah lingkungan. Kapal itu kemudian balik kanan pulang menuju tangkahan, namun sayang, belum sampai di tujuan, puluhan nelayan tradisional mencegat dan mengamankan kapal.

Sempat terjadi perdebatan di lokasi sehingga diputuskan boat tersebut dibawa ke Satpol Air Polres Tanjungbalai oleh nelayan tradisional. Tidak terima kapal pukat tarik diamankan, ratusan nelayan pukat tarik ‘menggeruduk’ Markas Satpol Air meminta agar kedua kepal dilepas untuk mencari rejeki.

“Kami hanya mencari nafkah untuk keluarga kami, kalau bapak tahan kapalnya, sanggupkah bapak memberikan makan anak dan keluarga kami, hanya itu usaha kami, tolong pikirkan nasib rakyat kecil ini pak,” teriak seorang pengunjukrasa di depan Mako Satpol Air di Jln Asahan.

Menurut nelayan, mereka sudah dua puluh hari tidak kerja sadangkan keluarga butuh makan, anak terus minta uang jajan dan biaya sekolah. Oleh sebab itu, mereka memberanikan diri melaut karena tidak ada pilihan lain. Mereka tidak menyangka massa nelayan jaring menangkap serta membawa ke Satpol Air.

Untuk itu berharap penegak hukum dapat memberikan solusi terbaik, sehingga tidak ada gejolak di laut. Selain itu kapal yang diamankan dikembalikan karena itu satu-satunya alat yang dapat menghasilkan uang untuk menghidupi keluarga.

Ketua Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Kota Tanjungbalai Muslim Panjaitan melalui Sekretaris, Al Mustaqim Marpaung mengatakan penangkapan itu sudah tepat karena alat tangkapnya terlarang. Namun Mustaqim tetap mengedepankan langkah kekeluargaan tanpa mengesampingkan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku.

Kapolres Tanjungbalai AKBP Irfan Rifai melalui Kasat Pol Air, AKP Agung Basuni lalu memediasi kedua belah pihak dengan menggelar pertemuan. Hasilnya, disepakati beberapa poin diantaranya nelayan pukat trawl mini bersedia mengganti alat tangkapnya dengan dukungan dari pemerintah,

Selanjutnya kedua pihak berjanji tidak anarkis dalam melaksanakan aktivitas di perairan dan bersama sama meminta Pemerintah Kota Tanjungbalai dan Kabupaten Asahan memberikan bantuan pinjaman lunak agar bisa menggantikan alat tangkap menjadi ramah lingkungan.

Selain itu para nelayan juga memohon kepada Wali Kota Tanjungbalai dan Bupati Asahan agar memberikan bantuan modal untuk membeli alat tangkap baru yang tidak melanggar peraturan. Hal itu sambil menunggu realisasi bantuan perlengkapan dan peralatan nelayan yang dijanjikan Pemkab Asahan melalui Dinas Perikanan.

Nelayan juga berjanji saling bantu dan saling pinjam alat tangkap menunggu bantuan dari pemerintah terealisasi. Dan terakhir nelayan meminta Dinas Perikanan melakukan pendataan terhadap alat tangkap ikan yang ada di daerah tersebut.

” Terkait masalah ini, kami akan berkoordinasi dengan pemerintah agar bantuan cepat direalisasikan, dan untuk menjaga kondusifitas di perairan, kami tetap mengawasi dan membina para nelayan agar taat hukum,” ungkap Agung Basuni.

Untuk nakhoda kapal pukat tarik ujar Agung, masih dalam pemeriksaan penyidik, sedangkan kapalnya diamankan. Jika dikategorikan belum melanggar dan masih bisa menepati beberapa poin kesepakatan pertemuan katanya, maka kapal dan nakhoda akan dipulangkan, dan ini adalah upaya preentif dari kepolisian. (a32)

Keterangan foto:
Waspada/Ist

Massa nelayan berunjukrasa di Mako Satpol Air Polres Tanjungbalai meminta kapal pukat tarik mini yang diamankan supaya dilepaskan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here